
Arlo membawa Eylaria pulang ke apartemen wanita itu. Saat perjalanan ia sudah menghubungi dokter pribadinya, Dr. Bella dan memastikan segala prosedur penanganan yang harus ia lakukan pada Eylaria.
Jika besok Eylaria masih belum bangun dan merasakan gejala yang aneh, ia akan membawa Eylaria untuk melakukan cek darah.
Nicole sudah menunggu di lobby saat Arlo mengendong Eylaria memasuki lobby apartemen, setelah mendapatkan telfon dan kabar dari Nicolas, Nicole segera bergegas menghubungi Arlo untuk bertemu di apartemen Eylaria.
Nicole membantu membuka pintu apartemen, wajahnya tampak gusar melihat Eylaria tertidur dengan pulas karena obat.
“Loe yakin Ey ngak apa-apa? Atau kita ke dokter aja?” Tanya Nicole memastikan saat Arlo meletakkan Eylaria ke kasur.
“Gue udah tanya Dr. Bella. Untuk sementara menurutnya Eylaria tidak apa-apa, hanya akan tidur pulas sampai besok siang.”
“Sampai besok siang? Lama amat?” Seru Nicole.
“Hmm…, paling cepat ia bangun besok pagi. Nanti loe pulang aja, gak enak sama Bram kalau loe nginap sini, loe juga masih harus ke kantor kan…,”
“Trus yang jaga Ey siapa kalau bukan gue?” Tanya Nicole memastikan.
“Gue yang jaga.” Jawab Arlo dengan mantap.
“Loe nginep sini?” Tanya Nicole histeris bahagia.
“Iyahh, puas loe?”
Nicole tersenyum-senyum meledeki Arlo, tentu saja ia mengerti ini adalah kesempatan langkah untuk mereka berdua.
“Dan lagi, ini salah gue yang nugasin dia untuk ke kantor Erick…,” Arlo menggeram saat mengingat kejadian tadi di restaurant, dalam hatinya masih kesal.
“Lagian, bisa-bisanya loe suruh dia sendirian ke sana… Awas aja kalo kejadian kayak gini terjadi lagi. Gue gak kasih ampun loeee…,” Seru Nicole menatap tajam pada Arlo.
“Untung ada loe yang tahu dan peka dengan kejadian ini Nicole… Kalau gak, gue gak tahu gimana harus nghadapin Eylaria kelak.” Ucap Arlo bersungguh-sungguh.
“Udah, yang penting sekarang Ey udah selamat dan aman…,” Bujuk Nicole yang memahami penyesalan Arlo.
Setelah Nicole pulang, Arlo beranjak membuka lemari baju Eylaria, mengambil sebuah handuk kecil, menyiramnya dengan air hangat, kemudian ia membasuh wajah, tangan dan kaki Eylaria yang tertidur pulas.
Keesokkan paginya, Eylaria merasa kepala dan tubuhnya sangat lelah, matanya masih terpejam, rasanya
ia ingin terus tidur. Tapi suhu kamarnya sudah mulai hangat dan memanas. Eylaria menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, merentangkan tangannya ke atas.
“Arrrrghhh…,” Seru Eylaria merenggangkan tubuhnya.
“Kau sudah bangun?” Seru Arlo yang mendekatinya.
Eylaria yang kaget mendengar suara pria dikenalnya itu langsung membuka matanya dan beranjak dari kasur.
“Kenapa kau bisa di sini?” Tanya Eylaria panik, otaknya berusaha meflashback apa yang terjadi semalam.
“Aku mengantarmu pulang dan menunggumu bangun, memastikan kau tidak menunjukkan gejala aneh atau bermasalah, apa kau merasa ada yang tidak enak?” Tanya Arlo perhatian.
Eylaria merenung sejenak sebelum menjawab, merasakan seluruh tubuhnya.
“Tidak, rasanya hanya masih sangat-sangat ngantuk…,” Jawab Eylaria yang menyadari semalam ia meminum jus jeruk yang telah dicampur dengan obat.
“Baguslah…, beritahu aku jika kau merasa ada yang tidak enak…,” Ucap Arlo merasa lega karena Eylaria terlihat baik-baik saja.
“Hmm… Apa kau menginap di sini semalaman?” Tanya Eylaria memperhatikan kemeja kerja Arlo yang terlihat sama dengan kemarin.
“Hmm…,” Jawab Arlo menganggukkan kepala, meresa sedikit tidak enak hati pada Eylaria.
“Kau tidur di mana?” Tanya Eylaria memastikan.
Arlo menunjukkan ke arah kasur, di sisi tempat tidur samping Eylaria. Wajah Eylaria mengkerut malu, ia tidak masalah jika Arlo tidur di ranjangnya, tapi ia malu karena Arlo melihatnya tidur dan seberantakkan apa ia saat tidur.
“Maaf jika aku lancang, aku harus memastikan kau baik-baik saja semalaman.” Ucap Arlo membuka suara meminta maaf karena ia menginap tanpa izin.
“Tidak apa…,” Jawab Eylaria singkat.
“Baiklah…,” Jawab Eylaria menurut, karena ia memang masih perlu tidur. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berjalan mengambil tasnya, kemudian mengambil dokumen kontrak yang kemarin.
“Ini…, dokumen kontraknya sudah ditandatangani…,” Serah Eylaria pada Arlo yang menerimanya dengan wajah tidak suka.
“Apa ini masih penting dibahas sekarang?” Tanya Arlo menjadi serius.
“Apa?” Tanya Eylaria yang tidak paham kenapa Arlo tiba-tiba menjadi marah.
“Karena dokumen kontrak ini, kau tahu apa yang hampir terjadi semalam? Apa kau masih tidak mengerti?”
“Tidak usah berlebihan…, itu adalah kesalahanku, jika aku tiba tepat waktu, seharusnya aku tidak perlu berada di sana. Dan lagi, itu semua adalah resiko pekerjaan…,”Jawab Eylaria tampak biasa saja. mengernyitkan keningnya, apa yang wanita ini pikirkan? Apa ia sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri?
“Apa kau tidak peduli dengan dirimu sendiri?” Tanya Arlo kesal.
“Lalu apa kau peduli padaku? Yang penting kontrak itu sudah ditandatangani bukan? Terlepas bagaimana caranya dan prosesnya, memangnya kau peduli? Lagipula aku hanya salah satu karyawanmu dan itu adalah tugasku…,” Eylaria ikut menaikkan nadanya. Ia mulai kesal dengan sikap Arlo yang mendadak peduli padanya.
“Apa di pikiranmu hanya memikirkan pekerjaan untuk mendapatkan uang? Jika semalam kami tidak tahu apa yang terjadi padamu dan tidak ada yang datang, apa kau memikirkan apa yang akan terjadi padamu?”
“Lalu aku harus bagaimana? Aku bekerja untuk mendapatkan uang, apakah itu salah? Aku tidak seberuntung anda Mr. Arlo, yang terlahir dengan uang berkecukupan.” Eylaria tidak kuasa menahan emosinya.
“Dan sudah ku katakan, itu adalah resiko pekerjaan yang harus ku terima… Bagaimana aku menahan dan menanggungnya, kau tidak usah memperdulikannya. Jika kau ingin peduli, maka tanyalah satu per satu karyawanmu, berapa berat beban yang mereka pikul dan apa saja kenyataan pahit yang sudah mereka alami. Lalu, bisakah kau memperbaikinya untuk mereka?” Sambung Eylaria menatap tajam pada Arlo yang juga menatapnya dengan sorot mata kecewa.
“Hatimu dingin sekali Ey…” Desis Arlo kemudian mengambil kunci mobilnya di meja dan melangkah menuju pintu.
Eylaria merasa sesak, dadanya membuncah karena kesal, air matanya sudah berada di sudut matanya.
“Kau yang dingin Arlo…,” Lirik Eylaria saat Arlo sudah pergi. Air matanya tak bisa lagi ia bendung, ia terisak tangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa perih mengingat bagaimana belakangan ini Arlo memperlakukannya dengan dingin, cuek dan ketus. Ditambah kejadian semalam, ia merasa sangat takut dan tidak berdaya seorang diri, ia kira ia tidak akan selamat semalam. Dan saat Nicolas memanggilnya, ia benar-benar merasa sangat lega.
Saat jam makan siang tiba, Eylaria memanfaatkan izin sakitnya untuk menemui Nicole. Mereka berjanji temu di sebuah café yang bersebelahan dengan letak kantor Nicole bekerja.
“Loe gak tahu gimana paniknya kami bertiga semalam… Gimana kalau loe kenapa-kenapa Ey? Itu nyaris sedikit lagi tahu gak? Kalau Nicolas gak dateng tepat waktu, kita gak bisa bayangin apa yang udah mereka lakuin ke loe…,” Celoteh Nicole yang khawatir. Eylaria meringis membayangkannya setiap apa yang Nicole ucapkan.
“Udah ahh, gak usah dibahas. Yang penting sekarang gue aman, gak kenapa-kenapa… Kayaknya gue juga gak cocok jadi assisten boss. Gue pikir-pikir, apa gue resign secepatnya?” Curhat Eylaria.
“Resign? Loe yakin? Coba loe pikirin lagi deh. Gak gampang loh bisa jadi assisten boss kayak Arlo dan lagi loe berdua bisa deketan terus seharian…,”
“Isshhh, apaan sih Nico. Kita tuh gak ada apa-apa, dan loe gak usah berharap terjadi apa-apa sama kita. Bagaikan bumi dan langit tahu gak, sangat jauh dan gak mungkin bersatu. Impossible!”
“Yeee, sapa bilang? Loe gak tahu sih, betapa paniknya Arlo semalem…,”
“Dia panik karena dokumen kontrak yang berharga kali…, loe jangan ngarang ahhh…,”
“Loe gak tahu betapa dingin dan gak pedulinya dia sama gue selama ini…,” Batin Eylaria dalam hatinya.
“Loe mau resign karena masalah kemarin? Loe trauma?” Tanya Nicole peduli. Eylaria menggelengkan kepalanya.
“Enggak, gue gak trauma. Sebelum kejadian kemarin terjadipun, gue udah mikirin mau resign karena kayaknya gue kurang cocok di posisi ini…,” Jawab Eylaria mencurahkan kebimbangannya.
Nicole yang melihat ada beban dan kesedihan di sorot mata Eylaria pun tidak memaksa dan mengerti dengan pemikiran Eylaria, ia pun mau tidak mau terima, ia tidak ingin Eylaria tidak bahagia dengan pekerjaan dan hidupnya.
“Baiklah, gue akan dukung semua keputusan loe, asal loe happy jalaninnya…,” Dukung Nicole tersenyum menenangkan. Eylaria tersenyum lega, paling gak ada Nicole yang selalu menghiburnya.
“Thanks Nicole…,” Lirih Eylaria bersungguh-sungguh.
.
.
.
.
.
To Be Continue~