Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 10: Teman dekat Arlo



Seusai makan malam, Eylaria segera pamit dari acara keluarga Arlo itu, tidak ingin berlama-lama dan tidak bermaksud mengganggu acara yang bersifat privacy itu.


“Tunggu aku di depan…” Seru Arlo sebelum Eylaria melangkah keluar. Ia pun menunggu Arlo di dekat pintu keluar. Mata Eylaria tertuju pada meja di mana Dave berada tadi, tapi kini sudah tampak kosong, sepertinya mereka sudah pulang. Sedangkan Arlo sedang berbincang dengan Papanya, tak jauh dari Eylaria berada.


“Kau bilang dia sahabat baik Nicole? Tapi kau terus bersamanya?”


“Dia bekerja sebagai assistenku sekarang. Kebetulan tadi kami bertemu di depan restaurant…,”


“Kebetulan?”


“Hmm, dia tadinya akan bertemu temannya, tapi temannya ternyata tidak datang, jadi aku mengajaknya makan bersama kita.” Jawab Arlo sedikit mengarang.


“Terserah, Papa tidak peduli…, kau sudah membawanya ke acara keluarga kita, Mama mu juga terlihat menyukainya. Kau, urusi baik-baik…,” Nasihat Papa pada Arlo.


“Tenang, aku tidak sebrengsek itu Pa…,” Janji Arlo pada Papanya.


“Papa lihat dia lumayan baik, kalian jangan berulah…,” Peringat Papanya lagi yang mengkhawatirkan Arlo hanya bermain-main dengan Eylaria.


“Papa tenang aja, Arlo akan main aman…,” Jawab Arlo tersenyum usil, membuat Papanya mengernyit.


“Kauuu…,”


“Aku pergi dulu, Eylaria menunggu di sana…,” Pamit Arlo segera menjauh sebelum Papanya lanjut mengomeli.


Eylaria tak lupa memasangkan sabuk pengamannya saat sudah berada di mobil Arlo, tadinya ia menolak untuk di antar pulang, tapi pria itu memaksa untuk mengantarnya.


“Nanti turunkan saja aku di halte terdekat, aku bisa naik taksi dari sana…,”


“Kenapa begitu?”


“Bukankah kau hanya formalitas mengantarkanku, karena berada di depan PapaMamamu? Dan lagi ini malam minggu, tidak mungkin kau tidak ada acara bersama teman-temanmu…,”


“Nomor 1, aku bukan karena formalitas. Nomor 2, aku memang ada acara dengan temannku…,”


“Nah, justru itu, kau bisa menurunkan ku di mana saja…,”


“Apa kau ada janji lain?”


“Tidak…”


“Ok…, kau akan ikut denganku…,” Lanjut Arlo membuat Eylaria melotot kaget.


“Aku tidak salah dengar?”


“Tidak…,”


“Kenapa aku merasa kau selalu memutuskan segala sesuka hatimu?” Tanya Eylaria tidak senang.


Arlo menoleh sesaat melihat Eylaria, wanita itu tampak melihatnya dengan tatapan tidak suka.


“Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Arlo sedikit kebingungan.


“Apa di hari liburpun aku masih menjadi assisten mu sehingga harus mengikuti ke manapun kau pergi?” Tanya Eylaria protes.


“Tidak,”


“Lalu kau menggangap ku apa?”


“Kau ingin dianggap apa?”


“Saat di luar kerja, tentu saja sebagai teman Nicole, siapa lagi?”


“Aku bahkan tadi memperkenalkan mu sebagai teman Nicole bukan? Aku sama sekali tidak menyebutmu assistenku…” Jawab Arlo membela diri.


“Benar juga…,” Batin Eylaria baru menyadarinya.


Eylaria yang masih mencerna pembicaraan mereka baru sadar saat Arlo menghentikan mobilnya, mereka sudah tiba di lokasi tujuan yang ternyata tidak jauh dari lokasi restaurant tadi.


“Turunlah…,” Ajak Arlo.


“Tidak mau…,” Tolak Eylaria melipat kedua tangannya di dada. Eylaria melongo kaget saat Arlo tiba-tiba memajukan tubuhnya ke arah Eylaria.


Dengan mata yang masih menatap Eylaria, tangan kiri Arlo membuka seat belt milik Eylaria dan tangan kanannya membuka pintu.


Eylaria dapat menghirup aroma parfum wood yang menenangkan dari tubuh Arlo, tapi berbeda situasi dengan jantungnya sekarang yang justru berdetak tak karuan karena Arlo menatapnya dengan tajam dengan jarak sedekat itu.


“Mari kita turun…,” Ajak Arlo tersenyum manis.


Eylaria menarik nafas panjang saat Arlo sudah berbalik melangkah keluar dari mobil, tak terasa sejak tadi ia menahan nafas. Eylaria dengan canggung turun dari mobil, berusaha bersikap tenang dan baik-baik saja.


Mereka memasuki sebuah café malam dengan live music di dalamnya, menuju sebuah ruang smoking room yang berdindingkan kaca sehingga tembus luar dalam.


Beberapa orang di dalamnya terlihat berseru saat melihat Arlo akan membuka pintu kaca itu, sepertinya itu teman-temannya.


“Yuhuuuuu!! Arlo udah datang guysss…,” Seru Revan merangkul Arlo, menuntunnya duduk di samping mereka.


Eylaria yang merasa kikuk menunggu di luar pintu, ia bingung harus bergabung masuk atau tidak.


Arlo mengangkat tangannya saat melihat Rio mengulurkan gelas alkohol ke hadapannya.


“Gue gak minum hari ini…,” Jawab Arlo.


“Whattt?” Seru teman-temannya bingung. Ada 4 pria dan 2 wanita di sana.


“Gue ke sini cuma mampir, sekalian…, tunggu…,” Seru Arlo lalu beranjak dari duduknya, menghampiri Eylaria yang berdiri di luar ruangan dan menariknya masuk.


Eylaria mengernyit saat terhirup asap rokok yang mengepul di ruangan itu.


“Ada apa?” Tanya Eylaria menatap bingung pada Arlo yang juga ditatap kebingungan oleh teman-temannya.


“Ohhhhh…, yuk duduk-duduk…,” Seru Revan ramah. Tapi Arlo tidak menurutinya.


“Gue mesti anter dia pulang, kalo gak diamuk gue…, kalian have fun yahh…,”


“Jiahhhh…., gak seru loeee…,” Seru yang lain, tapi Arlo hanya tersenyum dan menarik Eylaria keluar dari ruangan itu.


Eylaria masih bingung apa yang terjadi. Kenapa ia harus turun dan berkenalan dengan teman Arlo dan kenapa ia jadi alasan Arlo untuk tidak menghabiskan waktu malam minggunya dengan mereka, dan lagi dia tidak pernah meminta Arlo mengantarnya pulang.


“Aku bisa naik taksi dari sini…,” Seru Eylaria saat mereka tiba di depan mobil Arlo.


“Aku akan mengantarmu…,” Seru Arlo.


“Tidak…, aku bisa pulang sendiri…,”


“Kau sedang bertingkah?” Tanya Arlo.


“Apa?” Tanya Eylaria kebingungan.


Arlo melangkah mendekati Eylaria, menekan tombol unlock dari kunci mobilnya, lampu mobil berkedip menandakan pintu terbuka, Arlo dengan cepat meraup tubuh kecil Eylaria, mengangkatnya dengan gaya bridal style dan dengan gampang membuka pintu mobil dan mendudukkan Eylaria ke dalamnya.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Eylaria yang masih kaget.


“Diam dan patuhlah…,” Arlo tersenyum saat mengucapkannya.


Sepanjang perjalanan, kedua tangan Eylaria terus menggenggam tali seatbeltnya. Ia sengaja terus menoleh ke arah jalanan, tidak ingin bertatapan dengan Arlo, sedangkan pikirannya sedang kacau dan jantungnya berdetak cepat sejak pria itu dengan gagah menggendongnya masuk ke dalam mobil.


Berbeda dengan Arlo, pria itu justru tersenyum-senyum melihat Eylaria yang terlihat jelas kikuk dan gugup di sebelahnya.


Arlo menepati ucapannya untuk mengantar Eylaria pulang, ia memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen, membuat Eylaria kembali bingung melihatnya.


“Kenapa tidak drop off di lobby?” Batin Eylaria.


“Terima kasih sudah mengantar…,” Ucap Eylaria lalu bergegas akan keluar dari mobil.


“Boleh aku ikut ke apartemenmu?” Tanya Arlo tiba-tiba.


“Apaaa???” Tanya Eylaria melongo kaget.


“Aku kebelet pipis, apa boleh menumpang di kamar mandi mu?”


“Kau bisa pipis di toilet staff, di sana, dekat lobby…,” Jawab Eylaria dengan cepat karena panik.


“Kau pelit sekali…, apa kau benar teman baik Nicole?” Sindir Arlo.


Eylaria menghela nafas, berani-beraninya Arlo menyebut nama Nicole untuk mengancamnya.


“Apa hubungannya teman baik Nicole dan kau sekarang? Kau mau ke toilet, silahkan saja di sana…,” Tunjuk Eylaria ke arah lobby.


“Baiklah, aku tahan saja…,” Ucap Arlo pasrah, merasa Eylaria sangat tidak menyukai dirinya.


Eylaria menghela nafas kasar, ada rasa tidak enak hati timbul saat melihat wajah Arlo yang tampak kecewa. Eylaria menepis pikirannya, mungkin ia hanya berpikiran terlalu jauh, seharusnya saat ini ia menggangap Arlo seperti temannya bukan?


“Baiklah, kau boleh ke apartemenku…,” Ucap Eylaria dengan pelan, Arlo mendelik mendengarnya. Ia sudah pasrah tadinya, tapi saat mendengarnya ia justru terpaku.


“Kenapa kau tidak mau turun? Bukannya mau ke toilet?” Teriak Eylaria saat melihat Arlo masih tak bergeming. Pria itu lantas segera turun dan mengikuti langkah Eylaria memasuki lobby apartemen, menaiki lift dan menyusuri lorong di lantai 6.


“Toiletnya di sini,” Tunjuk Eylaria pada sisi kirinya saat sudah berada di dalam kamarnya.


Arlo bergegas ke toilet, menuntaskan buang air kecilnya, kemudian keluar dari sana. Eylaria menghampirinya dengan segelas air putih.


“Minumlah…,” Arlo tersenyum kecil, wanita itu masih memiliki tata krama dalam menjamu tamu.


“Kau tinggal sendiri?” Tanya Arlo memperhatikan kamar apartemen Eylaria yang polos tanpa kamar tidur, dengan 1 ranjang queen bed dan 1 kamar mandi.


“Hmm…,” Jawab Eylaria jujur.


Arlo berjalan mengitari kamar, membuka pintu teras dan melihat-lihat di sana. Eylaria menghela nafas, berusaha bersabar dengan sikap sesuka hati sepupu Nicole itu.


“Keamanan sekitar sini tidak terlalu baik, berhati-hatilah. Hubungi aku jika ada yang mencurigakan…,” Pesan Arlo sambil menutup kembali pintu balkon.


“Kenapa?” Tanya Eylaria yang bingung dengan sikap sok peduli Arlo.


“Apa?”


“Kau tidak usah repot-repot bersikap baik padaku hanya karena aku teman Nicole.” Gerutu Eylaria dengan jujur.


Arlo tersenyum mendengarnya. Ia melangkah mendekati Eylaria, berdiri di hadapannya, mengikis jarak di antara mereka.


“Aku tidak melakukannya karena kau teman baik Nicole.”


“Lalu?” Tanya Eylaria, matanya menyipit mencari jawaban pada wajah Arlo.


“Karena aku peduli padamu…,” Bisik Arlo dengan cepat dan mengecup pelan pipi Eylaria.


.


.


.


.


.


To Be Continue~