
Beberapa hari berlalu, suasana hati Eylaria mulai membaik, ia berusaha beradaptasi dan tidak menanggapi setiap sikap dingin dan ketus Arlo padanya. Ia juga sudah mulai terbiasa melihat keakraban Arlo dan Megan yang tanpa sungkan menunjukkan kedekatan mereka di kantor. Bahkan gosip berseliweran di antara para karyawan mengatakan bahwa mereka berdua sudah lama berpacaran dan sedang tahap bertunangan.
Eylaria tidak ingin ambil pusing, ia hanya ingin bekerja, setelah menyelesaikan kontrak kerjanya selama setahun di sana, ia mungkin akan pindah, demi kesehatan mental dan batinnya.
“Bersabarlah, lama-lama kau akan terbiasa.” Hanya itu yang Eylaria selalu katakan dalam hatinya untuk menguatkan dirinya sendiri.
Sore ini Arlo memanggil Eylaria ke ruangannya, ia memberikan Eylaria sebuah map berisikan beberapa dokumen kontrak.
“Tolong antarkan ini ke kantor Mr. Erick dan minta ia tanda tangani segera.”
“Apa harus hari ini di tanda tangani?” Tanya Eylaria memastikan, karena saat ini sudah hampir pukul 5 sore, ia takut terlambat saat ia tiba di kantor Mr. Erick karena jam pulang kerja akan segera tiba.
“Kau tidak dengar yang ku katakan tadi? SEGERA!” Perjelas Arlo dengan memberikan tekanan pada ucapannya.
“Baiklah…,” Patuh Eylaria segera melangkah dengan tergesa-gesa, dengan cepat ia mematikan komputernya dan mengambil tasnya.
Ia memesan ojek online dan menekan tombol lift turun berulang-ulang, berharap bisa segera menyelesaikan pekerjaan itu sebelum Mr. Erick pulang.
Eylaria menyimpan dokumen kontrak kerjasama ke dalam tasnya, memastikan semuanya aman. Ia segera menghampiri ojek yang ia pesan, syukurnya, kebetulan ojek online itu memang berada dekat dengan lobby kantornya.
Eylaria yang menggunakan dress selutut, tak sempat lagi mengganti bawahannya. Sepanjang perjalanan ia memegang tas dan sebisanya menutupi bagian kakinya yang agak terekpos.
“Pak, cepat sedikit gak apa-apa ya, saya buru-buru… Ngebut gak pa-pa Pak…,” Teriak Eylaria pada bapak ojeknya.
“Oke, siap…,” Ucap Bapak ojek menaikkan kecepatannya.
Eylaria segera berlari ke lobby saat tiba, dengan cepat menuju resepsionis.
“Permisi, mau bertemu dengan Mr. Erick, lantai 17…,” Ucap Eylaria dengan tergesa-gesa sambil menyodorkan kartu identitasnya.
“Perusahaan apa Bu?” Tanya staff resepsionis yang bertugas.
“PT. Tangkas Import…,” Jawab Eylaria dengan cepat.
“Baik, ini kartu aksesnya Bu…,”
Eylaria segera menerima kartu akses dan berjalan menuju lift, langkahnya terhenti saat ia melihat Mr. Erick baru saja keluar dari lift.
“Mr. Erickkk…,” Panggil Eylaria dengan lantang dan berlari menghampirinya.
Pria yang ia panggil Mr. Erick menatapnya dengan bingung, berusaha mengingat siapa wanita cantik di depannya.
“Kauuuu…?”
“Saya Eylaria, assisten Mr. Arlo…,” Jawab Eylaria dengan cepat.
“Ahhhh, benar, pantas saja aku merasa di mana pernah melihatmu…,” Jawab Mr. Erick tersenyum sumringah.
“Ada apa kau di sini?” Tanyanya lagi.
“Aku ditugaskan mengantarkan dokumen kontrak kerjasama, dan harus ditanda tangani segera…,” Jawab Eylaria dengan cepat, tak ingin berbasa-basi.
Mr. Erick terlihat merenung sesaat.
“Apa anda sudah mau pulang?” Tanya Eylaria menebak kegusaran wajah Mr. Erick.
“Hmm, aku masih ada janji makan malam dengan boss lain.”
“Sebentar saja pak, untuk tanda tangan kontrak…,” Eylaria berusaha membujuk.
“Tidak bisa segampang itu, aku harus membacanya dengan detail dan fokus.”
“Tapi…,”
“Bagaimana jika kau ikut aku saja, sembari aku membaca dulu kontrak itu…,” Saran Mr. Erick. Eylaria berpikir sesaat.
“Baiklah…,” Jawab Eylaria mengalah, ia pikir wajar jika sebelum menandatangani kontrak kedua pihak yang terlibat harus berhati-hati membaca semua pasal dan perjanjian yang tertera di dalamnya.
Eylaria terpaksa mengikuti Mr. Erick, di dalam satu mobil berdua dan Eylaria harus sering menahan nafas karena mobil itu beraroma kurang sedap.
“Ya Tuhan, kuatkanlah diriku…,” Batin Eylaria mengernyit tidak nyaman.
Eylaria duduk merapat ke arah pintu, dari pengalamannya terdahulu, ia tidak lupa Mr. Erick adalah pria yang genit. Ia juga memastikan terusan yang ia gunakan menutup dengan rapi lututnya dan meletakkan tasnya di samping kanannya, untuk menghalaukan pandangan dari sisi Mr. Erick.
Eylaria hanya menggangguk dan terkekeh mendengar Mr. Erick yang tanpa henti terus mencerocos, bercerita tentang dirinya bagaimana bisa naik pangkat menjadi CEO di perusahaan ia bekerja sekarang.
“Jika bukan karena disiplin yang tinggi, aku tidak mungkin berada di posisi sekarang ini Eylaria. Begitu banyak wanita yang menyukaiku, dan aku kesulitan memilihnya…,”
“Hoeeksss…,” Jika bisa muntah saat ini, Eylaria sudah pasti memuntahkan semua isi perutnya mendengar Mr. Erick yang memuji dirinya sendiri.
Ia hanya butuh tanda tangan, kenapa pria itu sangat sulit dihadapi?
Eylaria merasa lega saat mereka sudah tiba di sebuah parkiran, ia keluar dari mobil untuk menghirup udara segar. Tapi kelegaannya hanya sesaat saat ia menyadari di mana mereka berada sekarang.
Motel XvX.
Mata Eylaria melongo kaget melihat lobby bangunan di depannya. Mereka akan masuk ke motel?
“Maaf Mr. Erick, kita akan bertemu boss lainnya di sini?” Tunjuk Eylaria pada motel di depan mereka.
“Ohh bukan, kita akan makan di sana…,” Tunjuk Mr. Erick menunjuk pada sebuah restaurant di samping motel itu.
Apa bedanya? Batin Eylaria saat melihat beberapa pengunjung restaurant itu pun adalah pria-pria hidung belang dan wanita malam.
Drrrtt… Drrttt… Drrttt…
“Maaf, aku harus menerima telfon dulu…,” Izin Eylaria sopan pada Mr. Erick.
“Silahkan…, nanti langsung masuk saja.” Jawab Mr. Erick tersenyum terkekeh.
Eylaria segera mengeser tombol hijau di layar handphonenya, panggilan dari Nicole.
“Loe udah di mana? Gue baru mau otw…,” Tanya Nicole dari sebrang sana.
“Ya ampun, gue lupa ada janji sama loe…” Jawab Eylaria yang tanpa sengaja melupakan janji temunya dengan Nicole.
“Whatt? Loe lupa ada janji sama gue?” Pekik Nicole di sebrang sana, membuat Eylaria menjauhkan handphone dari telinganya.
“Gue gak sengaja, sumpah… Tadi sore Arlo tiba-tiba nugasin gue untuk minta tanda tangan client. Tapi clientnya dah mau pulang, terpaksa gue ikut dia.”
“Mang sekarang loe di mana? Biar gue jemput…,”
“Gue lagi mau ikut client masuk ke restaurant, gak ada nama, tapi sebelahnya ada Motel XvX. Tapi gue gak tahu bakal kelar berapa lama, clientnya kudu baca dokumennya dulu dan lagi dia ada meeting sama boss lain di sini…,”
“What??? Loe kerja apaan sih, jadi assisten Arlo kok gitu amet? Sejak loe kerja sama dia, loe jadi gak ada waktu ketemu gue. Giliran udah ada waktu, tetep aja ada halangan…,” Omel Nicole yang memprotes Eylaria.
“Sorry Nic, beneran, gak sengaja…,” Mohon Eylaria meminta maaf.
“Ya udah, loe buru sana urusin kerjaan loe. Nanti gue samperin atau kita ketemu titik tengah, oke?”
“Oke…,” Jawab Eylaria menyetujui.
Bukan tanpa sebab ia jarang bertemu Nicole, belakangan ini ia sengaja menghindari Nicole karena tidak ingin sahabatnya itu terus menjodohkan dan mengaitkan dirinya dengan Arlo, ia tidak ingin menoreh hatinya yang sedang luka.
Arlo masih serius bekerja di ruang kantornya saat sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Itu panggilan bersama.
Nicole, Nicolas dan Arlo.
“Arlo mana Arlo, buru angkat nih orang…,” Terdengar ocehan Nicole saat ia menerima panggilan itu.
“Ya, ada apa?” Tanya Arlo tanpa basa-basi.
“Loe yahh… keterlaluan! Ini udah jam pulang kerja, dan loe masih suruh Eylaria untuk ngikutin client cuma buat tanda tangan? Gak bisa besok pagi apa?” Omel Nicole dengan nyaring dan penuh emosi.
“Gue susah-susah bikin janji temu sama dia, malah batal untuk ngurusin kerjaan loe…,” Sambung Nicole tanpa jeda.
“Apaan sih loe? Gue cuma suruh dia anter dokumen kok…,” Bela Arlo.
Nicolas yang sedang berada di pusat kebugaran, hanya mengikik mendengar ocehan saudara perempuannya pada Arlo, sudah lama ia tidak merasakan hiburan seperti ini sejak Nicole menikah.
“Ah, loe jangan ngelak. Kalian pasti nyiksa sahabat gue kan, sejak kerja sama loe, dia jadi jarang bisa ketemuan sama gue.”
“Gue cuma suruh dia anter dokumen, gak suruh dia buat gak ketemuan sama loe. Sensi amat sih loe sama gue…,” Protes Arlo yang mulai kesal mendengar ocehan tak berbobot dari Nicole.
“Gimana gue gak sensi? Sekarang aja dia belum jelas bisa pulang jam berapa.”
Wajah Arlo seketika menegang mendengar ucapan Nicole. Ada yang tidak beres…
“Maksud loe?” Tanya Arlo serius.
“Dia masih nemenin client loe makan, belum dapet tuh tanda tangan…, puas loe?”
“Loe tahu dia di mana sekarang?” Tanya Arlo mendadak panik, ia segera berdiri dan mengambil kunci mobilnya. Senyum Nicolas memudar saat mendengar suara Arlo yang berubah semakin serius.
“Tadi dia bilang restaurantnya tanpa nama, tapi sebelahnya ada Motel XvX…,” Jawab Nicole tanpa mencurigai apapun.
“Loe minta dia anter dokumen ke siapa Lo?” Tanya Nicolas ikut merasa cemas.
“Mr. Erick…,” Jawab Arlo singkat sambil berlari menuju lift. Men-tapping berkali-kali kartu akses lift VIP nya agar segera bisa turun menuju parkiran.
Nicolas pun sama, ia segera mematikan telfon itu dan bergegas menuju ruang ganti dan mengambil tasnya dari loker. Tanpa mandi dan berganti pakaian, ia berlari menuju mobilnya.
.
.
.
.
.
To Be Continue~