
Eylaria menghampiri Mama yang sedang duduk di kasur apartemennya, kedua kakaknya sibuk mengotong koper yang mereka bawa. Keluarga Arlo sudah menawarkan mereka bertiga untuk menginap, tapi mereka menolak.
“Dari mana kamu kenal pria itu Ey?” Tanya Ello.
“Dia sepupu Nicole. Nicole yang kenalin, awalnya Ey cuma kerja di kantor dia, tapi hubungan kita berkembang dan…,”
“Loe mau hamil anak dia karena dia CEO? Keren juga mainan loe Ey…,” Sindir Ery yang masih kesal.
“Hushh…,” Tegur Ello pada Ery.
“Kalian udah berapa lama kenal dan pacaran?” Tanya Ello lagi.
“Baru kak, sekitar 6 bln kenal, kalau pacaran baru 2-3 bulan ini…,”
“APA?? Gila loe Ey, sesingkat itu udah mau ditidurin, murah amet loe…,” Sindir Ery lagi.
“Eryyyy!” Tegur Ello kesal.
“Menurut Mama gimana?” Tanya Ello kepada Mama yang sedari diam saja.
“Mau gimana lagi, walaupun Mama gak restu, tapi harus tetep nikah…,” Jawab Mama geram bercampur kecewa.
Eylaria menundukkan kepalanya, ada rasa penyesalan ia harus menikah dengan jalan seperti ini, salah dirinya dan Arlo yang tidak menjaga diri dengan baik, sehingga mereka harus segera menikah karena kehamilannya yang diluar perencanaan. Eylaria mengerti, keluarganya akan sangat kecewa padanya, karena ia bahkan belum memberitahu keluarganya mengenai hubungannya dengan Arlo sebelumnya. Tapi, semua sudah berlalu, nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa ia ulang dan putar kembali.
Back to the wedding…
Dua minggu setelah pertemuan keluarga, akhirnya pernikahan segera digelar, pernikahan itu dilakukan secara tertutup atas permintaan Eylaria dan Arlo serta keluarga pun memahaminya.
Mereka mengadakan pernikahan sederhana dan elegan, di halaman rumah di mana nanti Arlo dan Eylaria akan tinggal.
Perlakuan keluarga Arlo yang sangat ramah kepada keluarga Eylaria, bahkan tidak membeda-bedakan status, membuat interaksi di antara mereka melebur dengan baik.
“Aku senang sekali, anak kita sudah sah menikah. Semoga mereka berbahagia dan punya anak yang sehat…,” Seru Mama Arlo kepada Mama Eylaria yang hanya tersenyum mendengarnya.
“Pernikahan kaum elite memang beda…,” Seru Ery pada Ello, mengomentari pernikahan adiknya yang terkesan simple namun berkelas.
“Stttsss…” Tegur Ello yang sedang berdiri di samping istrinya, Lisa.
“Mereka gak serese yang gue kira, so far mereka gak mengintimidasi kita dan perlakuan mereka baik, meskipun mereka orang kaya.” Ucap Ery.
“Aku akui, Arlo adalah pria yang tegas dan bertanggung jawab…, seharusnya Ey aman di tangan dia…,” Jawab Ello yang selalu memperhatikan gerak gerik dan interaksi keluarga barunya dalam diam.
“Jadi udah restu nih?”
“Lagian mereka udah sah juga, aku hanya berharap yang terbaik untuk Ey…” Jawab Ello tersenyum.
Arlo terus menerus merangkul Eylaria, wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Tanpa berhenti terus menatap wanita cantik bergaun putih di sampingnya itu. Eylaria tersenyum menatap Arlo saat pria itu mempererat pelukan di pinggangnya.
“Ada apa denganmu?” Tanya Eylaria menatap Arlo yang tersenyum padanya.
“Hanya merasa sangat senang…,” Jawab Arlo jujur.
“Apa kau sesenang itu?” Tanya Eylaria menggoda Arlo.
“Tentu saja…, aku bisa menikahi wanita sespecial dirimu... Meski waktu bersama dan perkenalan kita mungkin masih sangat singkat, tapi aku tidak akan menyerah untuk selalu mempertahankan hubungan kita…,” Ucap Arlo bersungguh-sungguh.
“Haaahhh? Kau sedang bergombal? Bisa saja suatu hari kau meninggalkan ku karena aku sudah jelek dan tak lagi menarik di matamu…,”
“Apa aku seburuk itu di matamu?” Raut wajah Arlo tampak berubah menjadi sedih.
“Maaf, apa aku menyinggung mu? Aku hanya bercanda…” Ucap Eylaria dengan cepat, tidak ingin suaminya menjadi tidak bahagia di hari special mereka.
Arlo merapatkan langkahnya ke arah Eylaria, dan berbisik di telinga istrinya, “Aku sangat sedih, jadi kau harus menebusnya malam ini…,” Ucap Arlo dengan senyum menggodanya.
Eylaria berdecih, “Apa kau lupa? Dokter bilang tidak boleh selama trimester pertama…,” Tolak Eylaria dengan wajah merona.
“Dokter tidak bilang begitu Ey…, dia bilang kita tidak boleh melakukannya dengan kasar…” Sanggah Arlo.
“Tidak, aku capek…,” Tolak Eylaria lagi.
“Hmm, baiklah, satu ronde saja…,” Bujuk Arlo dengan manja, menunjukkan wajah manisnya. Eylaria mencubit pipi Arlo yang terlihat seperti anak kecil sedang merengek.
“Ehemmmm, aura pengantin baru memang beda…,” Tegur Nicole menghampiri Eylaria dan Arlo yang sedang saling tersenyum, kedua mempelai itu terlihat sangat bahagia.
“Nicolee…,” Sapa Eylaria tersenyum sangat cantik, sorot matanya menunjukkan rasa terima kasih pada sahabatnya itu.
“Aku lupa, aku belum berbalas budi padamu Nicole…,” Ujar Arlo pada sepupunya.
“Apa?”
“Karena sudah menjodohkan ku pada Eylaria, mempertemukan kami dan yahhh…, sepertinya kau berhasil menjodohkan kami…,” Ucap Arlo terkekeh.
“Aku juga baru akan mengucapkan hal yang sama…,” Sambung Eylaria.
“Iuuuhhhhh…, sekarang sedang kasmaran dan penuh cinta, coba saja beberapa bulan yang lalu, mana ada semanis ini, aku terus diomeli karena menjodohkan kalian…,” Sindir Nicole berpura-pura kesal.
“Nicolee…,” Rengek Eylaria. Nicole pun tak kuasa menahan senyumnya dan memeluk Eylaria dengan erat.
“Tentu saja penilaian ku jarang meleset…,” Ucap Nicole memuji dirinya sendiri.
“Dari sekian banyak wanita, kenapa kau menjodohkan ku dengan Ey?” Tanya Arlo penasaran, begitupun dengan Eylaria yang tidak pernah secara serius mempertanyakan hal itu pada Nicole.
“Aku hanya merasa kalian cocok, dan aku sungguh-sungguh ingin Ey menjadi saudarakuu...,” Jawab Nicole lalu kembali memeluk erat Eylaria yang tersentuh dengan jawaban tulus sahabat baiknya itu, karena selama ini ia kira Nicole hanya asal bicara jika ingin ia menjadi saudaranya.
“Hati-hati, nanti anak kita sesak…,” Tegur Arlo melihat kedua wanita di depannya itu berpelukan dengan kencang.
Eylaria dan Nicole terkikik sambil saling mengelus perut mereka yang masih belum terlihat membuncit.
Seusai pesta, Arlo membawa Eylaria menuju kamar pengantin mereka. Pria bertubuh kekar itu mengendong Eylaria dengan gaya bridal style. Eylaria merangkulkan tangannya ke leher Arlo dan bersandar dengan manja di dada bidang suaminya.
“Aku ngantuk sekali… rasanya lega bisa berjalan dengan lancar hari ini…,” Ucap Eylaria memejamkan matanya.
Arlo mendudukkan tubuh mungil Eylaria di depan meja rias yang terletak di pojok kamar mereka. Dengan telaten Arlo membantu Eylaria melepaskan high heelsnya, lalu beranjak menuju meja rias dan mengambil beberapa helai kapas dan juga botol makeup remover, kemudian mengusapkannya pada wajah lelah Eylaria. Eylaria tersenyum, pria itu tidak banyak bertanya, tapi selalu memanjakannya dengan tindakannya.
“Kau tidak melakukan ini karena aku hamil anakmu kan?” Tanya Eylaria tersenyum menggoda.
“Aku sudah memperlakukanmu sedari awal seperti ini, apa kau tidak menyadarinya?” Tanya Arlo mengernyit.
“Engg…, sekarang aku baru menyadarinya. Dulu kau suka mengambil keputusan sesukamu, tanpa bertanya dulu padaku. Dan sekarang aku baru menyadarinya, ternyata itu cara mu memperhatikanku…,” Jawab Eylaria memeluk pinggang Arlo, wajahnya masih mengadah ke atas untuk diusap.
Setelah selesai mengusap bersih wajah Eylaria, Arlo membantu istrinya untuk melepaskan gaun pengantinnya, kemudian pria itu juga dengan cepat melepaskan setelan tuksedonya.
Eylaria mengulurkan tangannya ke atas, seperti seorang anak kecil yang minta di gendong, dan dengan entengnya Arlo merangkul pinggang Eylaria untuk membawanya ke kamar mandi. Dengan perlahan menurunkannya ke dalam bathtub dan mulai mengisinya dengan air hangat.
Arlo menuangkan sedikit sabun ke telapak tangannya, dan mengusapkannya dengan sedikit air, kemudian tangannya menggapai betis Eylaria dan memijatnya dengan lembut.
Eylaria yang tersentuh dengan perlakuan Arlo, memajukan tubuhnya dan mengecup pelan bibir suaminya.
“Kau jangan memancingku yahhh…,” Tegur Arlo tersenyum nakal.
“Aku tidak…,” Jawab Eylaria memalingkan wajahnya yang sudah merona.
.
.
.
.
.
The End for S1~
To Be Continue for S2~
Sampai sini duluuuuuu yaaaaa, nanti author lanjut ke Season 2… Semoga suka dan mohon
dukungannya… Terima kasih~