Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 16: Gosip resign tersebar.



Eylaria memutuskan masuk ke kantor setelah merasa tubuhnya sudah membaik. Hari ini badannya jauh lebih segar, meskipun sesekali masih terasa kantuk. Eylaria tersenyum menyapa rekan-rekan kantor yang juga menyapanya saat menuju ruang kerja.


Setelah meletakkan tasnya, Eylaria segera menuju ruang Arlo untuk merapikan ruangan itu seperti biasanya. Karena Arlo biasanya belum berada di kantornya pagi-pagi hari, Eylaria terbiasa masuk tanpa mengetuk, sama dengan hari itu, ia pun langsung membuka pintu dan memasuki ruangan Arlo.


Langkah Eylaria terhenti karena ia dikagetkan dengan sosok Arlo yang sudah menduduki kursi kerjanya pagi itu. Eylaria segera mengecek jam tangannya, baru menunjukkan pukul 08.05 pagi. Biasa Arlo baru akan datang sekitar pukul 08.30.


“Permisi Mr. Arlo, saya izin merapikan ruangan anda…,” Seru Eylaria dengan sopan.


“Hmm, mulai hari ini kau tidak perlu merapikan ruangan saya.” Ucap Arlo tanpa melihat ke arah Eylaria.


Eylaria tersentak mendengar perintah itu. Hatinya terasa perih, tapi ia memaksakan dirinya tersenyum di hadapan Arlo.


“Baiklah…, saya permisi…,” Jawab Eylaria sopan dan mengundurkan diri.


Sekembalinya ke ruangannya, Eylaria mengibas-kibas wajahnya, air matanya terasa ingin kembali menetes, kepalanya seketika merasa sakit.


“Apa aku seburuk itu?” Seru Eylaria lalu menyalakan komputernya, dengan segera mengetik surat resign dan mengeprintnya.


“Apa ini? Kenapa tidak mau terprint keluar?” Seru Eylaria yang merasa kesal karena mesin print di ruangannya mendadak rusak.


Tak mau sabar menunggu, Eylaria mengprint surat resignnya ke printer yang terhubung di ruang kerja di luar. Eylaria yang segera keluar untuk mengambil hasil printnya, kaget saat melihat salah satu staff yang berdiri di mesin printer yang juga sedang menunggu hasil printan.


“Oh No…,” Desis Eylaria panik saat staff itu meraup semua kertas hasil printan.


Eylaria segera menghampiri staff yang tadi sudah berbalik menuju tempat duduknya.


“Maaf, sepertinya ada print an saya di situ…,” Tunjuk Eylaria menghampiri staff itu.


“Ohh silahkan…,” Ucap staff itu mempersilahkan Eylaria untuk mengecek dokumen yang dibawanya.


“Terima kasih…,” Ucap Eylaria dengan perlahan mengobrak-abrik lembaran dokumen, tapi belum juga menemukan lembaran yang ia cari.


“Kau mau resign Ey?” Teriak Marlo, salah satu bawahan Nicolas dan sedang memegang selembar kertas di tangannya. Eylaria melotot kaget, karena Marlo berteriak dari jauh dan tentunya di dengar semua karyawan yang memperhatikan.


“Apa?”


“Kenapa mau resign?”


“Apa Mr. Arlo tidak baik?”


“Apa kau tidak betah di sini?”


Semua pertanyaan itu tiba-tiba terlontarkan oleh karyawan yang penasaran dan langsung menanggapi.


Eylaria segera menghampiri Marlo dan merebut selembar kertas surat resignnya, lalu buru-buru kembali ke ruangannya.


“Ahhh…, bagaimana ini? Aku mau resign dengan tenang tapi justru menjadi seperti ini…,” Seru Eylaria panik mondar mandir di ruangannya.


Marlo yang heboh membaca surat resign itu segera berlari ke ruangan Nicolas, pria bermulut luwes itu segera memberi tahu Nicolas mengenai surat resign Eylaria yang ia baca. Nicolas hanya menghela nafas mendengarnya, ia pun segera pergi ke ruangan Eylaria.


“Arghhh…, kau mengagetkan ku saja Nico..,” Seru Eylaria yang masih mondar mandir dan kaget saat Nicolas membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


“Nicole bilang kau ingin resign, tapi tak ku sangka secepat itu…,” Ucap Nicolas tanpa basa basi.


“Astaga, pasti Marlo sudah memberitahumu… Aku mau resign dengan tenang, malah semua staff tahu…,” Jawab Eylaria mengacak rambutnya.


“Arlo sudah tahu?”


“Tentu saja be…,”


“Tahu apa?” Tanya suara dingin yang tiba-tiba ikut muncul memasuki ruangan kerja Eylaria.


Nicolas dan Eylaria menatap tegang wajah Arlo yang terlihat marah dan kesal. Nicolas menghela nafas pasrah, Eylaria hanya bisa mematung, melihat dengan gugup saat Arlo memasuki ruangannya, auranya sangat dingin dan mencekam, sepertinya berita resignnya sudah diketahui oleh Arlo.


“Maaf yang sebesar-besarnya…,” Ucap Eylaria dengan bersungguh-sungguh, membungkukkan badannya 90 derajat.


Arlo dan Nicolas kaget dan tidak menyangka dengan tindakan Eylaria.


“Kau kira ini akan menyelesaikan masalah? Berdiri yang tegak…” Jawab Arlo menahan suaranya agar tidak meninggi.


juga menurutinya.


“Arlo…,” Tegur Nicolas, takut kemarahan Arlo akan menyakiti Eylaria.


Eylaria yang terkejut, segera berdiri tegak dengan cepat, ada rasa sakit saat mendengar Arlo membentaknya, ia menggigit bibir bawahnya, untuk menahan dirinya agar tidak menangis.


“Apa alasanmu resign? Apa kau pikir bisa bekerja sesuka hatimu? Masuk dan pergi begitu saja? Apa hanya sebatas itu tanggung jawab dan sikap professionalmu dalam bekerja?” Tanya Arlo dengan marah.


“Arlo, kita bisa bicarakan baik-baik.” Tegur Nicolas lagi, tidak tahan melihat Eylaria yang sudah meneteskan air mata.


Nicolas terlambat mencegat Eylaria, ia tidak menyangka Eylaria akan segera menyerahkan surat resign. Dan kemarahan Arlo saat ini, karena Arlo sangat menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja dan pria itu sangat tidak suka jika ada karyawan yang melanggar kontrak kerja sesuka hati.


“Kau keluarlah…,” Perintah Arlo pada Nicolas.


“Arlo…,”


“Ku bilang keluar! Ini perintah dari atasanmu…,” Ucap Arlo kesal. Nicolas pun dengan tidak tega meninggalkan Eylaria yang hanya menunduk dan menangis, sebelum Arlo sendiri yang akan mendorongnya keluar.


“Katakan, kenapa kau memutuskan resign?” Tanya Arlo masih dengan nada dingin dan tatapan marahnya, menunjukkan kekecewaan.


Eylaria memejamkan matanya sesaat, lama-lama ia juga kesal terus dipojokkan, Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kencang.


“Karena kau tidak menyukaiku…,”


“Apa?” Tanya Arlo kaget.


“Karena kau hanya menghina dan menyiksa ku.” Jawab Eylaria menatap balik Arlo dengan berani, toh ia akan resign, jika dipecat ya sudahlah.


“Maksudmu dengan menghina dan menyiksa?” Tanya Arlo yang kebingungan.


“Selama ini kau hanya memperlakukan ku seperti robot, lakukan ini itu ini itu, dan lagi kau memperlakukanku dengan sangat dingin. Jika kau tidak suka dengan kinerja ku, kenapa tidak memecatku? Kau tidak perlu memperkerjakan ku jika hanya bermodalkan rasa kasihanmu karena aku adalah sahabat Nicole…,” Cerocos Eylaria melampiaskan kekesalannya.


“Aku bersikap seperti itu juga karena kau yang memulainya.” Jawab Arlo.


“Aku? Aku kenapa? Memangnya aku salah apa?” Tanya Eylaria tidak mengerti.


“Kau yang menolakku, mengusir ku pulang dari tempatmu malam itu. Menurutmu, sebaiknya apa yang harus aku lakukan jika kau jadi aku?” Tanya Arlo tampak frustasi.


Eylaria tersentak, malam itu di apartemennya, hari di mana mereka berciuman dan Eylaria mengusirnya. Pasti harga diri Arlo merasa terhina…


“Aku minta maaf, jika aku sudah menyinggung dan menyakitimu. Sekarang, kau sudah membalasnya, kita sudah impas bukan?” Eylaria sedikit bergetar saat mengatakannya, rasanya ia ingin segera pulang dan meringkuk di dalam selimut kasurnya. Jadi benar, selama ini Arlo hanya membalaskan dendamnya…


“Apanya yang impas? Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Apa kau sama sekali tidak mengerti Ey?” Tanya Arlo menurunkan nadanya.


“Apa?” Tanya Eylaria menatap mata Arlo, mencari jawaban dalam kebingungannya.


Arlo hanya diam menatap wajah Eylaria yang sudah berlinang air mata, hidungnya memerah. Lagi, wanita itu menangis karenanya.


“Jangan menggigit bibirmu…,” Ucap Arlo melihat Eylaria sedang bergantian menggigit bibir atas dan bawahnya, ia melakukannya untuk menghilangkan rasa ingin menangisnya yang terasa kian menjadi-jadi.


“Eng?” Eluh Eylaria melongo kebingungan menatap Arlo, melepaskan gigitannya dan meninggalkan bekas gigitan merah pada bagian bibirnya.


Cup…


.


.


.


.


.


To Be Continue~