
" Kita pulang " ucap Reno pada Nesa
" Baiklah " ucap Nesa
Reno segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, iya memang sedang kesal dengan Nadia yang seolah bahagia diatas penderita Nesa.
" Kamu sedang apa " tanya Reno
" Aku sedang menulis diary " ucap Nesa
" Sejak kapan kamu menulis diary " tanya Reno
" Dari dulu, semenjak aku SD.. " ucap Nesa
" Sudah ga jaman nulis di diary nulis di sosmed saja " ucap Reno
" Tidak mau " jawab Nesa
" Kenapa " tanya Reno
" Nanti mereka tau tenang semua perasaanku " ucap Nesa
" Tapi kalau kamu menulis di diary tidak akan ada orang yang tahu " ucap Reno
" Biarin " ucap Nesa sambil tersenyum
" Kamu sudah tidak sedih lagi " tanya Reno pada Nesa
" Tidak " ucap Nesa sambil tersenyum
" Syukurlah kalau begitu " ucap Reno
" Oh iya kenapa kamu sebentar makan malamnya dengan Nadia " tanya Nesa sambil tersenyum
" Dia orangnya tidak asik, jahat " ucap Reno kesal
" Nadia baik ko " ucap Nesa mencoba membela sang adik
" Tapi menurutku dia tidak baik " ucap Reno
" Kenapa Reno berkata seperti itu " batin Nesa
" Mungkin tidak sebaik aku mengatakannya, lain kali dan waktu yang tepat " ucap Reno dalam hatinya
" Memang kamu mau berbicara apa " tanya Nesa
" Tidak " ucap Reno
" Kamu yakin " tanya Nesa
" Iya aku yakin " jawabnya
" Yasudah kalau begitu " ucap Nesa
Kini mereka sudah sampai dimansion Reno, Mereka langsung menaiki tangga rumah Reno, namun sebelum menaiki tangga sang ayah malah berdiri didekat tangga tersebut
Plak,,
" Ayah apa-apaan ini " ucap Reno kesal
" Ayah dengar dari mata-mata yang ayah kirimkan untukmu, katanya kamu makan malam bersama dengan wanita selain cinta " tanya sang ayah dengan nada tinggi
" Dia temanku " ucap Reno
" Teman, Ayah rasa baru kali ini Ayah dengar kamu punya teman, dan ini seorang teman wanita " tanyanya lagi
" Ayolah Ayah,, Dia temanku " ucap Reno
" Teman tapi kamu menyewa restoran dengan kursi VVIP apa sespesial itu kah " ucap sang ayah
" Ayah salah paham, kami tidak ada hubungan apa-apa " ucap Reno mencoba menjelaskan pada sang ayah
" Tutup mulutmu, Ayah tidak mau tau jangan pernah temuin wanita selain cinta apa kamu mengerti " ucap Sang ayah dengan nada tingginya
" Aku bilang saja iya, dari pada ayah terus memarahiku dan urusannya akan semakin ribet, dan panjang " batin Reno
" Iya, terserah ayah saja " ucap Reno melangkah pergi dan menaiki tangga Mansionnya
" Ingat ya ucapan ayah, ayah ga akan segan-segan untuk membuat pelajaran pada temanmu itu " ucap sang ayah
" Terserah " ucapnya Reno
" Lihat saja Reno, aku akan menemui perempuan itu dan memintanya menjauhimu " batin Sang ayah
" Reno mafkan aku gara-gara kamu makan malam bersama Nadia kamu jadi dimarahin ayahmu " ucapnya Nesa
" Ayahku selalu marah-marah kamu jangan merasa bersalah " ucap Reno
" Sekali lagi aku minta maf " ucap Nesa
" No Problem " ucapnya Reno bangkit dari tempat tidurnya dan langsung masuk kedalam kamar mandinya untuk mendinginkan otak kepalanya yang dari tadi panas karena iya merasa kesal dan marah pada sang ayah, sedangkan Nesa iya duduk disofa sembari menggambar di buku diary nya.
Dua puluh menit kemudian iya sudah selesai mandinya , iya melilitkan handuknya dia atas pinggang. Pemandangan yang sangat bagus yang dilihat Nesa kala itu
Bahkan tanpa banyak bicara iya melihat tubuh kekar dan banyak otot yang Reno punya.
" Astaga Nesa.. kamu terpesona padaku " tanya Reno sambil senyum-senyum sendiri
" Ish jangan kegeeran " ucap Nesa sambil tersipu malu
" Tidak apa-apa jujur saja " goda Reno
" Astaga Reno kamu apaan sih " ucap Nesa
" Wanita memang begitu gengsian kalau bicara " ledek Reno
" Terserah saja " ucap Nesa menutup matanya takut Reno memakai celananya
" Kamu kenapa " tanya Reno
" Takut dikira ngintip sama kamu " ucap Nesa
" Dasar kamu ya, tai yasudah lah.. kalau itu maumu " ucap Reno sambil tersenyum jahat
" Kamu tutup mata sebelum aku bilang buka kamu langsung buka mata nya " ucap Reno
" Baiklah " ucap Nesa
Reno segera memakai bajunya dan celananya lalu terlintas ide jahil pada Nesa
" Aku hitung sampai tiga kamu buka mata ya " ucap Reno
" Iya " jawabnya
" Satu. . "
" Dua... "
" Tiga "
" Buka matamu " ucapnya Reno sambil tersenyum jahat
Namun diluar dugaan harusnya Nesa membuka mata kedepan malah iya menoleh kesamping kirinya yang ternyata Reno sudah berada disampingnya dari tadi
" Astaga " ucapnya Nesa kaget ketika jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter
" Janyungku " batin Nadia
" Kenapa rasanya beda... jantungku " batin Reno
" Kenapa dengan jantungmu, apa kau memiliki riwayat penyakit jantung " ucap Nesa dengan wajah paniknya
" Tidak bukan begitu " ucap Reno gugup
" lalu apa " tanya Nesa
" Masa aku harus bilang " batin Reno
" Bilang saja dari pada kamu pendam dan jadi sakit " ucap Nesa
" Astaga dia polos sekali " batin Reno sambil memegang dadanya sendiri
" Ayo katakan " ucap Nesa
" Aku tidak apa-apa " ucap Reno
" Kamu bohong " ucap Nesa
" Aku hanya butuh beristirahat " ucap Reno segera menuju ranjangnya dan berbaring disana
" Apa kamu yakin " tanya Nesa
" Iya, Aku mau tidur cape... selamat tidur... " ucap Reno segera memejamkan matanya
Bersambung...