
Reno masuk kedalam ruangan kerjanya lagi, iya segera memakan makanan yang disimpan Reyan dimeja kerjanya.
Tok.. Tok... Tok...
" Masuk "
Ceklek,,
" Tuan Maf menggangu waktunya, saya mau menginformasikan jika tadi Tuan Jonatan menelepon kepada saya dan menanyakan Tuan Reno " ucap Reyan
" Terus kamu jawab apa " tanya Reno
" Saya bilang anda sedang tidak ada di tempat " ucap Reyan
" Apa dia percaya " ucap Reno
" Sepertinya iya, tapi beliau berpesan jika Tuan disuruh untuk menghubungi Beliau jika sudah kembali kekantor " ucap Reyan
" Palingan juga mau bahas masalah cinta dan pertunangan itu " ucap Reno
" Tuan, jika sudah tidak ada yang dibicarakan saya pamit, kembali bekerja " ucap Reyan
" Tunggu " ucap Reno
" Ada yang saya bisa bantu " tanya Reyan
" Kamu cari tau tentang dimana keberadaan putra Pratama " ucap Reno
" Apakah ada ciri-ciri khusus " tanya Reyan
" Oh iya dia adalah wakil CEO di perusahaan Mynes grup " ucap Nesa sambil tersenyum
" Sepertinya aku pernah mendengarnya " ucap Reno
" Maksud anda apa tuan " tanya Reno sedikit bingung
" Tidak maksudku di wakil dari perusahaan Mynes grup " ucap Reno
" Baik Tuan kalau begitu saya pamit untuk mencari informasi dan memberikan laporannya secepatnya pada Tuan " ucap Reyan membungkukkan tubuhnya dan segera pergi dari sana
Reno menatap tajam wajah Nesa yang sepertinya tidak asing lagi untuknya
" Nesa apakah kita dulu pernah bertemu " tanya Reno dengan wajah serius
" Aku tidak tahu " ucap Nesa cuek
" Aku pernah memanggil seseorang dengan nama MyNes " ucap Reno sambil mendekati tubuh Nesa dan melihat wajahnya lebih dekat
" Mata ini.. sangat indah seperti seseorang yang selama ini aku cari " batin Reno
" Apa maksudmu yang selama ini kamu cari " ucap Nesa masih bingung
" Kenapa dengan jantungku terasa berdetak lebih kencang " ucap Reno dalam hatinya
" Jantungku kenapa, ayo kita kedokter " ajak Nesa pada Niko
" Bisakah aku memelukmu " ucap Reno berdiri dengan wajah penuh harap
" Baiklah " ucap Nesa sambil tersenyum
Reno segera memeluk Nesa, ada perasaan damai dalam hatinya rindu yang selama ini iya pendam bisa hilang ketika iya hanya memeluk Nesa
" Terasa nyaman " ceplos Nesa
" Sama terasa kita pernah dekat " ucap Reno
" Tapi dimana " tanya Nesa
" Entahlah, biarkan aku memelukmu lebih lama " ucap Reno
" Tapi jangan lama-lama " ucap Nesa
" Kenapa " tanya Reno masih memeluk Nesa
" Sesak " ucap Nesa
" Kamu kan arwah " cibir Reno
" Jika suatu saat waktunya tiba, aku mau kamu datang kerumah sakit tempat aku berbaring disana " ucap Nesa
" Tidak " ucap Nesa sambil tersenyum-senyum
" Dasar.. mana mungkin aku Kesana jika alamatnya saja aku tak tahu " ucap Reno melepaskan pelukannya karena suara dering handphonenya terlalu berisik dan iya segera mengangkatnya
Tut... Tut... Tut..
" Pasti ayahmu " ucap Nesa sambil tersenyum
" ya begitulah " ucap Reno kesal
" angkat saja, siapa tau penting " ucapnya Nesa sambil tersenyum
" Malas " ucap Reno
" Atau mau aku yang angkat " ucap Nesa dengan senyum jahatnya
" Ok aku angkat " ucapnya Reno
Reno segera mengangkat teleponnya
" Halo " ucap Reno
" Kamu dari mana saja, kenapa kamu lama sekali mengangkat teleponnya " ucap sang ayah marah
" Ada apa Ayah " tanya Reno cuek
" Ada apa,, ada apa,, cinta bilang kamu ga mau nemenin dia memilih gaun untuk pertunangan kalian " ucap Sang ayah
" Kerjaan aku banyak " ucap Reno singkat
" Ayah ga mau tau pokonya kamu harus temani cinta Sore ini, Cinta akan belanja untuk acara pertunangan kalian " bentak Sang ayah
" Terserah ayah saja " ucap Reno menutup teleponnya
Dengan wajah kesalnya iya segera duduk kembali dikursi kerjanya
" Kenapa kamu selalu saja tidak pernah berdamai dengan ayahmu " tanya Nesa
" Entahlah, ayah selalu saja memaksa aku untuk menuruti kemauannya " ucap Reno
Tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan Reno
" Hai sayang " ucap Cinta
" Tuan, mafkan saya.. Nona Cinta memaksa masuk " ucap Reyan
" Biarkan saja " ucap Reno
" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi " ucap Reyan
" Em " ucap Reno
Reyan segera pergi dari sana sedangkan Cinta dengan wajah senengnya menghampiri Reno
" Ayahmu sudah telepon Aku untuk datang kesini dan mengajakmu membeli cincin untuk pertunangan kita " ucap cinta
" Tidak bisakah kamu memilihnya sendiri tanpa bantuan aku " ucap Reno dengan wajah kesalnya
" Aku mau ditemani calon suami lah " ucap Cinta dengan nada manjanya
" Apa aku boleh ikut " celetuk Nesa
" Boleh asal kamu jangan mengacau " ucap Reno pada Nesa
" Maksudnya apa " tanya Cinta
" Bukan ke kamu.. " ucap Reno
" Terus ke siapa " tanya Cinta
" Ke hantu " ucap Reno melangkah pergi menggenggam tangan Nesa
" Hantu.. maksudnya disini ada hantu .. ko aku jadi merinding " ucap cinta diruangan itu
" Reno tunggu " ucap Cinta mengejar Reno