30 Days With Shadow Lover

30 Days With Shadow Lover
Episode 12



Reno masuk kedalam ruangan kerjanya lagi, iya segera memakan makanan yang disimpan Reyan dimeja kerjanya.


Tok.. Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Tuan Maf menggangu waktunya, saya mau menginformasikan jika tadi Tuan Jonatan menelepon kepada saya dan menanyakan Tuan Reno " ucap Reyan


" Terus kamu jawab apa " tanya Reno


" Saya bilang anda sedang tidak ada di tempat " ucap Reyan


" Apa dia percaya " ucap Reno


" Sepertinya iya, tapi beliau berpesan jika Tuan disuruh untuk menghubungi Beliau jika sudah kembali kekantor " ucap Reyan


" Palingan juga mau bahas masalah cinta dan pertunangan itu " ucap Reno


" Tuan, jika sudah tidak ada yang dibicarakan saya pamit, kembali bekerja " ucap Reyan


" Tunggu " ucap Reno


" Ada yang saya bisa bantu " tanya Reyan


" Kamu cari tau tentang dimana keberadaan putra Pratama " ucap Reno


" Apakah ada ciri-ciri khusus " tanya Reyan


" Oh iya dia adalah wakil CEO di perusahaan Mynes grup " ucap Nesa sambil tersenyum


" Sepertinya aku pernah mendengarnya " ucap Reno


" Maksud anda apa tuan " tanya Reno sedikit bingung


" Tidak maksudku di wakil dari perusahaan Mynes grup " ucap Reno


" Baik Tuan kalau begitu saya pamit untuk mencari informasi dan memberikan laporannya secepatnya pada Tuan " ucap Reyan membungkukkan tubuhnya dan segera pergi dari sana


Reno menatap tajam wajah Nesa yang sepertinya tidak asing lagi untuknya


" Nesa apakah kita dulu pernah bertemu " tanya Reno dengan wajah serius


" Aku tidak tahu " ucap Nesa cuek


" Aku pernah memanggil seseorang dengan nama MyNes " ucap Reno sambil mendekati tubuh Nesa dan melihat wajahnya lebih dekat


" Mata ini.. sangat indah seperti seseorang yang selama ini aku cari " batin Reno


" Apa maksudmu yang selama ini kamu cari " ucap Nesa masih bingung


" Kenapa dengan jantungku terasa berdetak lebih kencang " ucap Reno dalam hatinya


" Jantungku kenapa, ayo kita kedokter " ajak Nesa pada Niko


" Bisakah aku memelukmu " ucap Reno berdiri dengan wajah penuh harap


" Baiklah " ucap Nesa sambil tersenyum


Reno segera memeluk Nesa, ada perasaan damai dalam hatinya rindu yang selama ini iya pendam bisa hilang ketika iya hanya memeluk Nesa


" Terasa nyaman " ceplos Nesa


" Sama terasa kita pernah dekat " ucap Reno


" Tapi dimana " tanya Nesa


" Entahlah, biarkan aku memelukmu lebih lama " ucap Reno


" Tapi jangan lama-lama " ucap Nesa


" Kenapa " tanya Reno masih memeluk Nesa


" Sesak " ucap Nesa


" Kamu kan arwah " cibir Reno


" Jika suatu saat waktunya tiba, aku mau kamu datang kerumah sakit tempat aku berbaring disana " ucap Nesa


" Tidak " ucap Nesa sambil tersenyum-senyum


" Dasar.. mana mungkin aku Kesana jika alamatnya saja aku tak tahu " ucap Reno melepaskan pelukannya karena suara dering handphonenya terlalu berisik dan iya segera mengangkatnya


Tut... Tut... Tut..


" Pasti ayahmu " ucap Nesa sambil tersenyum


" ya begitulah " ucap Reno kesal


" angkat saja, siapa tau penting " ucapnya Nesa sambil tersenyum


" Malas " ucap Reno


" Atau mau aku yang angkat " ucap Nesa dengan senyum jahatnya


" Ok aku angkat " ucapnya Reno


Reno segera mengangkat teleponnya


" Halo " ucap Reno


" Kamu dari mana saja, kenapa kamu lama sekali mengangkat teleponnya " ucap sang ayah marah


" Ada apa Ayah " tanya Reno cuek


" Ada apa,, ada apa,, cinta bilang kamu ga mau nemenin dia memilih gaun untuk pertunangan kalian " ucap Sang ayah


" Kerjaan aku banyak " ucap Reno singkat


" Ayah ga mau tau pokonya kamu harus temani cinta Sore ini, Cinta akan belanja untuk acara pertunangan kalian " bentak Sang ayah


" Terserah ayah saja " ucap Reno menutup teleponnya


Dengan wajah kesalnya iya segera duduk kembali dikursi kerjanya


" Kenapa kamu selalu saja tidak pernah berdamai dengan ayahmu " tanya Nesa


" Entahlah, ayah selalu saja memaksa aku untuk menuruti kemauannya " ucap Reno


Tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan Reno


" Hai sayang " ucap Cinta


" Tuan, mafkan saya.. Nona Cinta memaksa masuk " ucap Reyan


" Biarkan saja " ucap Reno


" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi " ucap Reyan


" Em " ucap Reno


Reyan segera pergi dari sana sedangkan Cinta dengan wajah senengnya menghampiri Reno


" Ayahmu sudah telepon Aku untuk datang kesini dan mengajakmu membeli cincin untuk pertunangan kita " ucap cinta


" Tidak bisakah kamu memilihnya sendiri tanpa bantuan aku " ucap Reno dengan wajah kesalnya


" Aku mau ditemani calon suami lah " ucap Cinta dengan nada manjanya


" Apa aku boleh ikut " celetuk Nesa


" Boleh asal kamu jangan mengacau " ucap Reno pada Nesa


" Maksudnya apa " tanya Cinta


" Bukan ke kamu.. " ucap Reno


" Terus ke siapa " tanya Cinta


" Ke hantu " ucap Reno melangkah pergi menggenggam tangan Nesa


" Hantu.. maksudnya disini ada hantu .. ko aku jadi merinding " ucap cinta diruangan itu


" Reno tunggu " ucap Cinta mengejar Reno