
Nadia sudah siap dan berdandan cantik, dengan terpaksa Reno harus mengajaknya makan malam seperti janjinya pada Nadia,
Sementara Nesa masih dengan wajah sedihnya, Sebenarnya Reno tidak tega pada Nesa namun apalah daya, Nesa harus tau semua sikap ibu tirinya dan adik tirinya
Reno sudah sampai disebuah restoran, iya sengaja memesan meja VVIP untuk iya makan malam bersama dengan Nadia.
" Sudah sampai " ucap Reno pada Nadia
" Ya ampun ini kan restoran yang paling mahal dikota ini " ucap Nadia sambil tersenyum senang
" Gila, Reno tajir juga ya, bisa bawa aku kesini " batin Nadia
" Ayo kita masuk kedalam " ucap Reno sambil melihat wajahnya Nesa
" Ayo " ucap Nadia membuka pintu mobilnya dan keluar
" Aku ga mau ikut, kamu saja sama Nadia " ucap Nesa
" Kenapa " tanya Reno
" Aku butuh waktu sendiri " ucap Nesa
" Tapi kan... " ucap Reno terpotong saat Nadia membuka pintu mobil Reno
" Ko kamu masih dimobil, ayo kita masuk " ajak Nadia
" Iya sebentar " ucap Reno
" Yasudah, aku akan segera kembali, aku tidak akan lama ko " ucap Reno pada Nesa
" Iya " ucap Nesa masih sedih
Reno segera membuka pintu mobilnya, iya dan Nadia segera menuju meja yang telah iya pesan
" Yakin kita duduk disini " ucap Nadia
" iya... " ucap Reno tersenyum
" Reno, aku menjadi orang yang sangat spesial kalau kamu perlakukan aku begini " ucap Nadia senang
" Kita nikmati saja makan malamnya " ucap Reno dingin
" Aku jadi khawatir sama Nesa " batin Reno
" Silahkan " ucap sang pelayan membawakan makanan yang sudah Reno siapkan dan pesankan bersamaan iya memesan meja VVIP
" Wah ini makanan kesukaanku " ucap Nadia
" Syukurlah kalau kamu suka " ucap Reno
" Reno, Sebenarnya wanita yang dulu kita pernah ketemu itu siapanya kamu " tanya Nadia
" Dia orang yang dijodohkan oleh ayahku " ucap Reno jujur
" Apa kamu mau dijodohkan sama dia " tanya Nadia
" Jujur aku ga mau " ucap Reno
" Wah ternyata ada kesempatan untukku mendekati Reno " batin Nadia
" Kalau begitu, kamu bisa minta bantuan ku untuk berpura-pura menjadi pacarmu " ucap Nadia
" Tidak terima kasih " ucap Reno
" Loh kenapa " tanya Nadia
" Ayahku bisa ngamuk, aku takut nanti kamu diapa-apain " ucap Reno
" Kayanya Reno suka sama aku " batin Nadia
" Oh iya, boleh aku nanya sesuatu " ucap Reno sambil membuka handphonenya diam-diam dan merekam percakapan mereka
" Kamu mau tanya apa " ucap Nadia
" Apa dia mau nembak aku " batin Nadia
" Sebenarnya apa hubunganmu dengan Putra " ucap Reno
" Oh putra, kami hanya berteman " ucap Nadia bohong
" Ini ga salah lagi, Reno cemburu pada putra " batin Nadia
" Kamu cemburu ya, jujur aja kali " ucapnya Nadia kepedean
" Apa-apaan dia, suka juga ga, kenapa dia bilang aku cemburu.. wanita aneh " batin Reno
" Coba kamu jujur sama aku " ucap Reno
" Cemburu aja ga mau ngaku, dasar lelaki gengsian " ucapnya Nadia dengan suara pelan
" Apa kamu bilang " tanya Reno
" Tidak apa-apa " ucap Nadia sambil tersenyum
" Apa sebaiknya aku jujur " batin Nadia
" Ok, aku jujur sebenarnya putra itu ngejar-ngejar aku " ucap Nadia
" Loh bukanya Putra pacaran sama kakakmu " tanya Reno
" Iya sih, Putra itu pacaran sama kakakku hanya ingin perusahaannya saja " ucap Nadia
" Astaga, cowo ga tau malu " ucap Reno
" Makanya aku sengaja dekati putra agar rencananya gagal " ucap Nadia
" Bagus, kamu pintar " ucap Reno
" Ya iyalah, enak aja mau perusahaan milik ayah, harusnya juga aku yang dapat itu perusahaan " ucap Nadia
" Tapi kan masih ada kakakmu " tanya Reno
" Kakakku itu tidak akan sadar lagi " ucap Nadia
" Kenapa kamu bisa bilang begitu " tanya Reno heran
" Lukanya parah sekali, bahkan dokter pun sudah putus harapan " ucap Nadia
" Astaga, kemungkinan untuk sembuh berapa persen " ucap Reno mulai panik
" Kira-kira 30% " ucap Nadia
" Apa aku bisa tau kakakmu dirawat dimana " ucapnya Reno
" Dirumah sakit Kasih bunda " ucapnya Nadia
" Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu begitu peduli d Ngan kakakku " tanya Nadia
" Aku hanya ingin tahu saja " ucap Reno bohong
" Biarkan lah kakakku kalau pun mati juga aku ga peduli " ucap Nadia
" Kenapa kamu bicara begitu, ga sepantasnya kamu bilang begitu " ucap Reno marah
" Ko kamu jadi marah " tanya Nadia
" Kamu jahat " ucap Reno
" Astaga aku keceplosan " batin Nadia
" Reno kamu mau kemana " ucap Nadia memegang tangan Reno yang hendak berdiri
" Aku mau pulang, aku tidak menyangka kamu sejahat itu " ucap Reno
" Reno bukan maksud aku begitu " ucap Nadia
" Aku permisi " ucap Reno pergi membawa handphonenya dan menuju mobilnya
" Reno tunggu " ucap Nadia dengan wajah kesalnya
" Sial, dalam keadaan koma Nesa selalu saja membuat orang yang aku sayang membenci aku " batin Nadia
Sedangkan Reno kembali kemobil nya dilihatnya Nesa sedang menulis buku diary miliknya
Bersambung...