
Bel sekolah berdenting, mengumumkan akhir pelajaran dan waktu untuk para murid pulang.
David dan Yussa dengan cermat menata buku-buku mereka ke dalam tas mereka yang hampir penuh dengan tugas dan catatan.
David melihat ke arah Yussa dengan senyum ramah. "Yussa, kau pulang naik apa nanti?" tanyanya.
Yussa berhenti sejenak, memikirkan jawabannya, lalu menjawab dengan lembut, "Aku akan pulang dengan berjalan kaki."
"Maukah kau bonceng motorku?" Tawar David dengan antusias.
Yussa tersenyum lembut. "Terima kasih, tapi tidak, aku akan jalan kaki saja."
Mereka berdua memulai perjalanan pulang, dengan David yang terus mengajak Yussa berbicara dan tertawa di sepanjang jalan.
Akhirnya, mereka mencapai gerbang sekolah. David memberi hormat dengan mengangkat tangan, "Aku duluan ya, Yussa."
Yussa mengangguk dan menjawab, "Tentu, David. Sampai jumpa besok."
Setelah David pergi, Yussa mengeluarkan handphonenya dan menelepon Leon.
[ Handphone ]
[ Leon ]
[ Tersambung ]
"Leon, apa kamu akan menjemputku?" tanya Yussa dengan suara lembut sambil menatap sekitar.
"Tentu, saya akan menyiapkan mobil terlebih dahulu" balas Leon dari telepon.
Namun, dalam keheningan sejenak itu, Yussa tiba-tiba melihat seorang wanita.
"Nayla?" gumam Yussa dalam hati.
"Tuan muda?" sapaan Leon dari telepon membuatnya tersadar.
"Aku akan pulang sendiri," ucap Yussa singkat lalu langsung memutuskan panggilan.
Yussa, di sisi lain, melihat Nayla yang berjalan sendirian. Dia pun memutuskan untuk menemui Nayla.
"David benar, sepertinya dia memang tidak punya teman," pikir Yussa saat melangkah menuju Nayla.
Nayla terkejut, refleksif mengangkat kepalanya, mencoba mencari tahu siapa yang melakukan itu.
"Maaf ya," ucap Yussa dengan senyum hangat. "Kamu terlihat begitu imut tadi."
Nayla hanya terdiam, pipinya memerah karena malu.
Yussa mendekatkan kepalanya kepada Nayla dengan penuh perhatian. "Aku benar-benar minta maaf," katanya dengan suara lembut.
Nayla yang masih terdiam karena sedang berusaha menyembunyikan wajah yang semakin merah karena malu.
"Apa kau merasa tidak enak badan?" tanya Yussa dengan ekspresi bingung yang menghiasi wajahnya.
Nayla dengan suara gemetar menjawab, "T-tidak, aku baik-baik saja."
Kedua matanya terlihat canggung dan berkaca-kaca, dan suasana canggung semakin terasa.
Yussa merasa gugup saat melihat reaksi Nayla. "Astaga, mungkin aku terlalu berlebihan," pikir Yussa dalam hati sambil merasa bersalah.
Dalam suasana yang semakin canggung, Yussa mencoba mencari topik pembicaraan untuk meredakan ketegangan. "Ehm, jadi, apa yang kamu lakukan setelah sekolah, Nayla?"
Nayla dengan ragu menjawab, "Biasanya aku hanya pergi ke perpustakaan atau duduk di taman sekolah untuk membaca buku."
Yussa tersenyum ramah, mencoba membuat Nayla merasa lebih nyaman. "Itu menarik. Aku juga lumayan suka membaca. Apa buku favoritmu?"
Nayla mulai agak lebih rileks saat berbicara tentang buku-buku. Mereka pun mulai membagikan cerita tentang buku-buku yang mereka nikmati.
"Aku suka buku 'Sapiens: A Brief History of Humankind' karya Yuval Noah Harari," ujar Nayla dengan mata berbinar.
"Oh ya? Aku pribadi suka 'Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action' karya Simon Sinek," jawab Yussa sambil tersenyum ramah.
Nayla tersenyum lebar. "Jadi kau suka buku tentang bisnis? Itu sepertinya cocok untukmu," ujarnya sambil memandangi wajah Yussa.
Mereka berdua terus mengobrol dengan Nayla yang penuh antusias. Akhirnya, saat waktu beranjak sore, mereka harus berpisah di sebuah persimpangan jalan.
"Senang berbicara denganmu, Yussa," ucap Nayla dengan tulus.
Yussa tersenyum hangat. "Aku juga merasa senang, Nayla," balasnya.
Keduanya pun pergi melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.....