
Di arena pertarungan yang dipersiapkan oleh Bajisa, Yussa berdiri dengan tegap, siap menghadapi salah satu petinggi Aries yang dikenal sebagai Cain. Lawan di depannya memegang dua bilah pisau tajam di kedua tangannya.
"Perkenalkan, nama saya 'Cain,'" ucap Cain dengan senyuman misterius yang menghiasi wajahnya.
Yussa, yang tak membawa senjata apapun, juga tersenyum saat mendengar nama lawannya. "Nama Anda terdengar seperti nama orang asing, bukan?"
Cain, dengan senyuman misterius yang tak pernah lepas dari wajahnya, bergerak dengan cepat. Ia melangkah maju, kedua bilah pisau tajamnya berkilap di bawah sinar obor di arena.
Dalam sekejap, Cain melancarkan serangan pertamanya. Ia mengayunkan bilah pisau pertama ke arah Yussa, menciptakan lengkungan sempurna dalam serangannya yang mematikan.
Namun, Yussa membaca gerakan Cain dengan sangat tepat. Dengan refleks yang luar biasa, Yussa menghindari setiap serangan dengan lincah, melompat dan berguling di atas lantai arena dengan kecepatan yang mengagumkan.
Cain berhenti sejenak, ekspresinya berubah menjadi kombinasi kesal dan senyum misterius. "Kau benar-benar mengesalkan," ucapnya sambil menggertakkan gigi.
Di sisi lain, Bajisa dan pemimpin Aries, yang dikenal sebagai Pemimpin Aries, terus menyaksikan pertarungan sengit antara Yussa dan Cain. Pemimpin Aries tersenyum puas sambil memandang Yussa yang berjuang.
"Anakmu sangat hebat," ucap Pemimpin Aries dengan senyuman puas kepada Bajisa.
Namun, Bajisa tetap tenang dan tegas dalam penilaiannya. "Dia masih lemah. Untuk menjadi penerusku, dia harus menjadi jauh lebih kuat daripada ini," tegasnya.
"Lemah?" Pemimpin Aries tertawa kecil dengan nada bangga. "Cain adalah muridku, tentu saja Yussa yang setara dengannya tak bisa dianggap masih lemah."
Bajisa hanya diam, tak terpengaruh oleh kata-kata Pemimpin Aries.
"Kau masih saja seperti dulu, Bajisa," kata Pemimpin Aries sambil menghembuskan napas panjang. "Padahal, aku, Albert, telah menjadi pemimpin organisasi besar seperti Aries."
Kembali ke pertarungan antara Yussa dan Cain, Yussa terlihat telah kelelahan, dengan keringat mengucur dari tubuhnya.
Yussa berjongkok, dia tersenyum pada Cain dan berkata, "Mulai sekarang, aku akan serius."
Cain merasa sedikit terkejut. "Apa dia benar-benar belum serius sejauh ini?" Gumam Cain dalam hati. "Apa dia hanya mencoba menggertak?" Tambahnya dalam hati.
0,01 Detik....
Yussa dengan cepat berada di belakang Cain seperti kilat. Wajahnya memiliki tatapan yang sangat tajam. Tanpa ragu, ia mengarahkan pukulan yang sangat keras tepat ke bagian belakang kepala Cain.
Teriakan hening terdengar saat pukulan itu mendarat dengan presisi yang luar biasa. Bagian belakang kepala Cain menerima dampak keras dari serangan ini.
Terdengar suara retakan keras ketika kepalanya menyentuh permukaan beton bawahnya.
Beton di sekitar kepala Cain pecah berkeping-keping, menghasilkan debu dan potongan-potongan yang terbang ke segala arah.
Tubuh Cain terjatuh ke bawah dengan kepalanya sebagai yang pertama menyentuh permukaan, menghasilkan suara yang mengerikan.
Cain langsung pingsan, tubuhnya tergeletak di atas beton yang hancur. Ketegangan pertarungan tadi sekarang tergantikan oleh keheningan.
Albert, pemimpin organisasi Aries, tampak terkejut, bahkan terkesan oleh tindakan Yussa.
"Tak heran Zaki kalah dengan dirinya tanpa perlawanan, Cain juga kalah" pikir Albert dalam hati.
Albert tersenyum pahit, mengakui keunggulan Yussa. "Dia menyerang pusat kesadaran Cain dengan presisi yang luar biasa, mengakibatkan pemutusan koneksi saraf. Tak heran Cain pingsan," gumam Albert dengan nada menghormati, meskipun sedikit terkejut.
Bajisa menoleh kepada Albert. "Jadi," Ucap Bajisa. "Bisakah kau pergi sekarang?" Lanjutnya.