Yussa Traba

Yussa Traba
Aries (2)



"Aries?" Yussa mengucapkan nama organisasi itu dengan nada tajam, berdiri di hadapan Zaki yang hampir kehilangan kesadarannya.


"Bukankah Aries adalah organisasi kriminal yang terkenal?" Gumam Yussa mendengarkan Zaki, mata tajamnya fokus pada wajah bonyok Zaki.


Zaki tertawa meremehkan, meskipun wajahnya penuh luka dan kotor. "HAHAHA. Benar sekali, apa yang bisa kau lakukan sekarang, apa kau takut?" Teriak Zaki dengan nada meremehkan.


"Pft, Takut? Aku tidak pernah takut pada sampah seperti kalian," gumam Yussa dengan dingin, mendengar kata-kata Zaki.


Dengan tiba-tiba, Yussa berdiri tegak. "Apakah kau pernah mendengar tentang 'Dio della Guerra'?" tanyanya dengan suara tegas kepada Zaki.


Zaki terkejut, dan seluruh badannya gemetar ketakutan. "D...Dio della G...Guerra?" Gumam Zaki dengan nada yang lemah.


Yussa dengan cepat melancarkan tendangan ke arah kepala Zaki dengan kekuatan yang tak terbayangkan.


Tendangan itu mematikan, menghancurkan kepala Zaki dan mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Tembok di belakang Zaki retak dan runtuh akibat kekuatan pukulannya yang luar biasa.


Dalam keheningan yang tercipta setelah serangan itu, Yussa berjalan menuju pria berkacamata yang sudah hampir tak sadarkan diri.


Yussa mengangkat tubuh pria berkacamata yang penuh luka dan lemas ke bahunya dengan sangat mudah.


Yussa, dengan langkah tegap dan penuh kepercayaan, mulai berjalan pergi dari lokasi itu, membawa pria berkacamata yang tak berdaya itu di punggung kirinya.


Cahaya matahari yang merayap di langit senja memancar dari balik gedung-gedung, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti Yussa dan beban beratnya.


Suara langkahnya yang menggema di sepanjang jalan, menciptakan aura yang tidak bisa diabaikan.


Yussa melambaikan tangan di pinggir jalan raya. Taksi berhenti disana dan Yussa masuk bersama pria berkacamata.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Yussa mengeluarkan ponselnya. Dia menatap angka saldo yang terpampang di layar dengan perasaan lega.


[ Handphone ]


[ Saldo ]


"Dengan saldo sebanyak ini, seharusnya biaya rumah sakit tidak menjadi masalah," pikir Yussa dengan hati yang lega.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Yussa menggendong pria berkacamata memasuki rumah sakit. Pria berkacamata terlihat lemah dan pucat.


"Kenapa kau membantu diriku?" tanya Pria berkacamata dengan suara yang pelan.


Yussa tersenyum. "Aku juga tidak tahu," ucap Yussa dengan lembut.


Pria berkacamata tersenyum lemah. "Apa kamu tidak takut dengan organisasi Aries?" ucapnya dengan suara yang pelan. "Mereka pasti akan memgincarmu," lanjutnya dengan suara yang semakin menghilang.


Yussa hanya tersenyum dengan percaya diri yang tak tergoyahkan. "Jika begitu, tinggal kuhabisi mereka semua sekaligus," ucap Yussa tanpa ragu.


Pria itu segera diterima di Unit Gawat Darurat (UGD) dan diserahkan kepada tim medis yang terampil.


Mereka bekerja dengan cepat, mencoba menyelamatkan nyawa pria berkacamata yang wajah dan badannya penuh memar tersebut.


Ruang UGD penuh dengan keriuhan, mesin-mesin yang berdering, dan para dokter serta perawat yang sibuk.


Di ruang tunggu rumah sakit, Yussa duduk dengan perasaan campur aduk. "Kenapa aku membantunya sampai seperti ini?" batinnya sambil merenung.


dia mencoba mencari jawaban dalam dirinya sendiri, merenungkan mengapa ia memutuskan untuk ikut campur dalam urusan pria berkacamata tersebut.


Setelah beberapa saat merenung, Yussa berdiri, Dia pergi berjalan menuju bagian administrasi rumah sakit dan menyelesaikan semua biaya yang diperlukan dengan cepat.


Namun, setelah semuanya selesai, Yussa memilih pergi tanpa pamit kepada pria berkacamata yang telah dia selamatkan.


Yussa melanjutkan perjalanannya dengan taksi. Saat duduk di dalam taksi, dia masih terus memikirkan tindakannya. "Kenapa aku membantunya? Lawannya adalah Aries bodoh!!!" gumamnya dalam hati, kesal dengan dirinya sendiri.


Ketika dia akhirnya tiba di depan rumahnya, Yussa terus merenung dengan pandangannya yang kosong. Kata "Aries" terus muncul dalam pikirannya.


"Ini akan sangat menyusahkan" Ujar Yussa dengan kedua tangannya di saku sambil memandangi gerbang rumahnya yang belum kunjung di buka.