
Keluarga Traba telah memasuki periode persiapan intensif. Mereka menyadari bahwa pertempuran melawan Fleksora tidak bisa dihindari lagi.
Setiap anggota keluarga tahu bahwa mereka harus bersatu dan mempersiapkan segala sesuatu dengan cermat jika mereka ingin bertahan dalam pertempuran yang akan datang.
Di ruang pertemuan bawah tanah, Bajisa Traba memimpin rapat darurat.
Raut wajah Bajisa penuh dengan ketegasan. "Keluarga, saatnya kita berdiri sebagai satu kekuatan dan menghadapi ancaman dari Fleksora. Mereka ingin merebut kendali atas wilayah kita, dan kita tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Yussa, yang duduk di sebelah ayahnya, merasa gelisah.
Yussa tahu bahwa ini akan menjadi ujian terbesarnya.
Yussa harus membuktikan dirinya sebagai penerus yang kuat untuk keluarga ini.
Pembicaraan berlanjut, membahas strategi, persiapan, dan logistik yang diperlukan untuk menghadapi Fleksora.
Leon, Nina, dan anggota keluarga Traba lainnya memberikan masukan mereka.
Selama beberapa minggu, keluarga ini bekerja keras, meningkatkan keamanan, melatih pasukan mereka, dan menyusun rencana pertahanan yang cermat.
Mereka tahu bahwa Fleksora adalah musuh yang kuat, dan mereka tidak boleh meremehkan mereka.
Namun, di antara semua persiapan ini, Yussa merasa ada yang mengganjal dalam pikirannya.
Dia masih mencoba memahami bagaimana Fleksora bisa kembali sekuat ini. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
Pada malam hari, Yussa berjalan-jalan di sekitar markas besar mereka.
Dia merenung dalam gelap, mencoba menghubungkan semua petunjuk yang telah dia temukan.
Kemudian, sebuah ide menyala di benaknya.
Dia ingat tentang seorang informan yang pernah memberikan informasi penting kepada mereka tentang Fleksora.
Yussa segera menghubungi informan tersebut.
Mereka membuat janji untuk bertemu di lokasi yang aman.
Keesokan harinya, Yussa bertemu dengan informan tersebut di tempat yang sepi di pinggiran kota.
Informan tersebut adalah seorang pria paruh baya dengan wajah yang berkilau karena keringat.
"Informan, aku butuh informasi tentang Fleksora. Bagaimana mereka bisa kembali sekuat ini?" tanya Yussa tanpa basa-basi.
Informan itu menatap Yussa dengan pandangan yang penuh kekhawatiran. "Keluarga Traba, Fleksora memiliki sumber daya yang sangat kuat. Mereka telah mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok yang lebih besar di luar negeri. Ini adalah bagian dari rencana besar mereka untuk menguasai seluruh perdagangan ilegal di negara ini."
Yussa mengernyitkan keningnya. "Tapi mengapa mereka ingin merebut wilayah kita? Apa yang mereka inginkan?"
Informan itu menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu dengan pasti, tapi yang saya dengar, mereka ingin mengendalikan seluruh pasar narkoba dan perdagangan senjata ilegal. Mereka memiliki rencana besar, Yussa."
Yussa berpikir keras. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dalam rencana Fleksora ini.
Tapi setidaknya dia memiliki petunjuk awal sekarang.
Sementara itu, di markas besar Fleksora, Julius memimpin pertemuan dengan para pimpinan inti. "Waktu kita telah tiba," ucap Julius dengan suara tegas. "Keluarga Traba harus dihancurkan, dan kita akan mengambil alih seluruh bisnis mereka."
Para anggota Fleksora yang hadir di ruangan itu mendengarkan dengan penuh antusiasme.
Mereka telah menunggu kesempatan seperti ini selama bertahun-tahun.
Julius menggambarkan rencana rinci mereka. Mereka akan menyerang wilayah-wilayah keluarga Traba secara bersamaan, menciptakan kekacauan dan kebingungan di antara para anggota keluarga Traba.
Sementara Yussa merenung tentang informasi yang baru saja dia terima, pertarungan besar antara dua organisasi kriminal terbesar di negara itu semakin mendekat.
Semua yang dia ketahui adalah bahwa dia harus bersiap menghadapi serangan mematikan Fleksora, dan dia harus menemukan cara untuk melawan mereka.