
Dalam kediaman keluarga Traba yang luas, suasana tegang masih terasa sejak kembalinya Fleksora yang sangat kuat.
Julius, otak jenius di balik reorganisasi Fleksora, telah berhasil menjalankan rencananya dengan cermat, membuat keluarga Traba kehilangan kendali.
Yussa, yang selama ini merupakan sosok pemberani dalam keluarga Traba, merasa frustrasi.
Julius telah mengungguli mereka di setiap langkah.
Julius menggunakan strategi dan trik licik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dia adalah musuh yang sangat berbahaya.
Saat Yussa dan keluarga Traba berkumpul di ruang pertemuan bawah tanah mereka, Bajisa Traba memandang putranya dengan ekspresi serius. "Yussa, kita harus memutarbalikkan situasi ini. Fleksora tidak boleh mengambil alih wilayah kita."
Yussa mengangguk tegas. "Saya setuju, Ayah. Tapi Julius adalah musuh yang cerdik. Kami harus mencari cara untuk mengungkapkan rencananya."
Nina, saudari Yussa, menambahkan, "Saya mendengar bahwa salah satu anggota inti Fleksora memiliki informasi penting tentang strategi Julius. Kita harus mencoba mendekati orang itu."
Leon, rekan setia keluarga Traba, juga berkomentar, "Saya telah mengumpulkan intelijen tentang aktivitas Fleksora. Kami harus bergerak cepat."
Mereka memutuskan untuk melakukan serangkaian operasi intelijen untuk mengungkapkan rencana Julius.
Sementara itu, Julius juga tidak tinggal diam. Dia mengejar penaklukan wilayah keluarga Traba dengan tekad yang kuat.
Julius duduk di ruang kerjanya yang mewah, melihat peta wilayah keluarga Traba yang tersebar di meja besar di depannya. "Mereka berusaha untuk mengejar kita," gumamnya dengan nada dingin. "Tetapi mereka tidak akan berhasil."
Julius memiliki rencana cadangan untuk menghadapi setiap operasi intelijen yang mungkin dilakukan oleh keluarga Traba.
Dia tahu bahwa keluarga Traba tidak akan menyerah begitu saja.
Pertempuran ini semakin memanas, dan nasib wilayah kekuasaan tergantung pada siapa yang bisa mengungkapkan rencana musuh lebih dulu.
Di sisi keluarga Traba, Yussa memimpin serangkaian operasi intelijen.
Operasi intelijen pertama mereka berjalan dengan lancar. Mereka berhasil menangkap seorang anggota Fleksora yang sedang bersembunyi di salah satu safe house mereka.
Pria itu, yang sangat ketakutan, dengan enggan mengungkapkan beberapa informasi penting tentang rencana Julius.
Dengan bantuan informasi yang diberikan oleh tahanan mereka, keluarga Traba berhasil menggagalkan satu operasi besar Fleksora yang sedang direncanakan.
Mereka merasa sedikit lega, tetapi mereka sadar bahwa pertempuran masih jauh dari selesai.
Julius, yang menyadari kegagalan rencananya, semakin marah dan frustasi. Dia menyadari bahwa keluarga Traba tidak akan mundur begitu saja. "Mereka mungkin telah menggagalkan satu operasi kita," gumamnya dengan ekspresi marah. "Tetapi pertempuran ini belum berakhir."
Sementara itu, Bajisa Traba berusaha menjalin hubungan dengan sejumlah tokoh penting dalam dunia kriminal untuk mendapatkan dukungan dalam menghadapi Fleksora.
Dia tahu bahwa mereka membutuhkan semua bantuan yang bisa mereka dapatkan.
Operasi intelijen terus berlanjut, dengan keluarga Traba dan Fleksora saling berhadapan dalam permainan catur yang semakin rumit.
Julius terus menciptakan tipuan dan menyesatkan lawan-lawannya.
Di tengah pertempuran ini, Yussa merasa tekanan dan tanggung jawabnya sebagai penerus keluarga Traba semakin besar.
Dia merenungkan semua tindakan yang telah diambilnya sejak kembali dari Amerika Serikat.
Yussa juga merenungkan kata-kata pemimpin Aries, Albert, yang pernah mengatakan kepadanya bahwa kekuatan dan kepemimpinan sejati datang dari dalam diri seseorang. "Saya harus menemukan cara untuk mengalahkan Julius," pikir Yussa dengan tekad. "Saya harus membuktikan bahwa saya adalah penerus yang sesungguhnya."
Pertempuran antara keluarga Traba dan Fleksora semakin memanas.
Setiap pihak berusaha untuk mengungkapkan rencana musuh terlebih dahulu.
Kedua belah pihak bermain catur dengan berbagai trik dan tipuan.