Yussa Traba

Yussa Traba
Sekolah Baru



Keesokan paginya, di kamar Yussa. Yussa sibuk mengaca untuk merapikan bajunya.


"Kenapa aku masih harus pergi ke sekolah?" gerutunya dalam hati.


"Tuan Muda, Anda sudah hampir terlambat," suara seseorang dari luar pintu memperingatkannya.


"Iya, iya, sebentar," ujar Yussa seraya mengambil tasnya.


Dia membuka pintu kamar dan di sana, dia menemukan seorang pria botak dengan seluruh tubuhnya dipenuhi tato dan mengenakan jas rapi.


"Ayo," ujar Yussa sambil berjalan pergi.


Pria botak yang bertato itu hanya diam, memandangi Yussa dengan tatapan misterius.


Yussa akhirnya berhenti dan menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Yussa pada pria botak bertato itu.


Pria botak bertato itu tersenyum lebar. "Anda pindah sekolah, bukan?" ucapnya.


"Benar," jawab Yussa. "Ada lagi yang ingin kau katakan?" lanjutnya.


"Anda tidak lupa denganku, bukan?" kata pria botak bertato itu.


Yussa menghela napas dan melanjutkan langkahnya menuju tangga. "Aku tidak akan melupakanmu, Aril," ucap Yussa. "Kita sering bertemu, Hampir setiap hari," tambahnya kesal.


Pria botak bertato itu tersenyum. "Tentu, Anda harus terus mengingat saya," ucap Aril.


Mereka berdua pergi ke garasi mobil dan pergi ke sekolah menggunakan mobil.


Di dalam mobil, Yussa tiba-tiba memanggil nama Aril dari kursi belakang.


"Ya?" jawab Aril tanpa menoleh ke belakang.


Yussa beralih ke kursi samping Aril. "Kau kuat, kan?" tanya Yussa.


Aril tersenyum bangga. "Tentu saja," jawab Aril. "Jika ada yang mengganggu anda, katakan saja pada saya," lanjutnya.


Yussa merenung sejenak. "Bagaimana jika yang mengganggu adalah ayahku?" tanya Yussa pada Aril.


Aril merenung sejenak dan kemudian dengan ragu menjawab, "Jika itu Ketua, saya tidak berani ikut campur."


Yussa tertawa melihat ekspresi Aril. Aril ikut tertawa mendengar Yussa tertawa.


Beberapa saat berlalu, mereka hampir sampai ke sekolah.


"Berhenti di sini saja," ucap Yussa pada Aril.


"Ada apa? Ini Masih jauh dari sekolah," ujar Aril pada Yussa. "Apakah anda tidak nyaman dengan saya?" lanjut Aril dengan wajah panik.


"Tidak, aku nyaman kok," ucap Yussa. "Hanya saja, aku tidak ingin terlalu mencolok sebagai anak orang kaya," lanjutnya.


Saat Yussa hendak menyeberang di lampu merah, dia melihat seorang wanita pendek di sebelahnya yang juga hendak menyeberang.


"Dek, kalau mau menyeberang, lebih baik sama kakak aja," ucap Yussa.


Wanita itu tampak bingung, sedangkan Yussa melihati Seragam wanita itu.


Yussa terkejut. "Dia SMA?" gumamnya dalam hati. "Dia benar-benar pendek," tambahnya dalam hati.


Yussa tersenyum. "Maaf, aku kira kamu masih SMP," ucap Yussa dengan lembut.


Wanita itu tersenyum. "Gak masalah, udah biasa," kata wanita itu.


"Manis sekali," pikir Yussa. "Andai saja kita satu sekolah," lanjutnya dalam hati.


Lampu merah berganti menjadi hijau, dan Yussa serta wanita itu menyeberang bersama-sama.


Mereka berdua berjalan ke arah yang sama, dan akhirnya, Yussa sampai di sekolah barunya.


"Ini adalah sekolah baruku," ucap Yussa kepada dirinya sendiri.


Wanita itu masuk ke dalam sekolah.


Yussa terkejut. "Wanita itu, Dia juga sekolah di sini?" gumamnya dalam hati.


Yussa memasuki sekolah dan bertanya kepada seseorang di sana di mana kantor kepala sekolah berada, lalu menuju ke sana.


Sambil menuju ruang kepala sekolah, Yussa memperhatikan lingkungan sekolah barunya.


"Sekolah ini tidak terlalu bagus," gumamnya.


Seseorang pria berambut belah tengah mendengar komentar Yussa dan mendekat.


"Hei," panggil pria berambut belah tengah itu sambil memegang pundak Yussa.


Yussa menoleh dan tampak kesal. "Ada apa?" tanyanya dengan marah.


"Kau bilang sekolah ini tidak bagus?" tanya pria berambut belah tengah itu.


Yussa melepaskan tangan pria itu dari pundaknya dan berjalan pergi tanpa menjawab.


"Tarik kembali kata-katamu," ucap pria berambut belah tengah itu. "Ini adalah sekolah elit," lanjutnya.


"Pft, Itulah yang membuat sekolah ini tidak bagus," ucap Yussa sambil terus berjalan. "Ini mungkin sekolah elit, tetapi lingkungannya seperti sekolah biasa," lanjutnya.


"Tapi di sekolah biasa tidak ada banyak wanita cantik, seperti di sekolah ini!" teriak pria berambut belah tengah itu dengan percaya diri.