
Setelah pertarungan sengit melawan Cain, Yussa merasa lelah dan perlu istirahat. Dia kembali ke rumahnya yang megah di pinggiran kota.
Ayahnya, Bajisa Traba, menunggunya di ruang tamu dengan tatapan serius.
"Ayah, pertarungan itu sangat melelahkan," ujar Yussa sambil meletakkan kunci mobilnya di meja depan.
Kucing kesayangannya, Julius, melompat turun dari pundaknya dan berlari ke arah dapur untuk mengisi mangkuk makanan.
Bajisa Traba mengangguk, tetapi matanya tetap tajam. "Itu adalah pertarungan yang penting, Yussa. Kamu harus selalu siap menghadapi musuh, terutama musuh dari organisasi lain."
Yussa menghela nafas, mencoba untuk merilekskan tubuhnya yang tegang. "Aku tahu, Ayah. Tapi kadang-kadang, aku merasa seperti aku terjebak dalam lingkaran kekerasan ini."
Bajisa Traba, yang duduk di kursi berlapis kulit, mengangkat alisnya. "Kamu tahu, Yussa, tidak ada jalan kembali. Kamu adalah anggota keluarga Traba, dan tanggung jawab ini tidak bisa dihindari. Kita harus menjaga kekuasaan dan pengaruh keluarga kita di dunia kriminal."
Yussa menatap Ayahnya dengan pandangan campur aduk.
Dia memang tahu bahwa menjadi bagian dari keluarga Traba adalah takdirnya, tetapi terkadang dia merasa tertekan oleh beban itu.
"Namun, Yussa," lanjut Bajisa Traba dengan suara yang lebih lembut, "aku juga ingin kamu tahu bahwa kami selalu mendukungmu. Kami akan melindungimu, sekaligus mengajarimu menjadi yang terbaik dalam bisnis ini."
Yussa merasa sedikit lega mendengar kata-kata Ayahnya.
Terlepas dari semua tekanan dan ekspektasi, setidaknya dia tahu bahwa keluarganya akan selalu ada di sisinya.
Namun, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Bajisa Traba tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi serius lagi. "Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Yussa. Sesuatu yang bisa mengubah jalannya keluarga Traba."
Yussa memandang Ayahnya dengan perasaan penasaran. "Apa yang kamu maksud, Ayah?"
Dia merenung sejenak sebelum berbicara. "Ini tentang saham, Yussa. Saham dalam sebuah proyek besar yang bisa menguntungkan keluarga kita, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika kita tidak hati-hati."
"Saham?" Yussa terdengar agak bingung. Dia tidak terlalu familiar dengan dunia saham. Baginya, bisnis keluarga mereka selalu berhubungan dengan dunia kriminal.
Bajisa Traba menjelaskan lebih lanjut. "Ada perusahaan besar di luar sana yang ingin berinvestasi dalam bisnis kita. Mereka menawarkan saham dalam proyek ekspansi besar yang akan menguntungkan kita secara finansial. Tetapi, mereka juga ingin memiliki sebagian dari kendali."
Yussa memikirkan kata-kata Ayahnya. "Jadi, mereka ingin kita bekerja sama, tetapi juga ingin mengendalikan apa yang kita lakukan?"
Bajisa Traba mengangguk. "Tepat. Ini adalah kesempatan besar untuk menghasilkan uang lebih banyak daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Tetapi, kita perlu berhati-hati dalam negosiasi dan memastikan kita tidak kehilangan kendali sepenuhnya."
Yussa merasa semakin tertarik dengan apa yang Ayahnya bicarakan.
Dia menyadari bahwa ini adalah langkah besar dalam bisnis keluarga mereka. "Apa yang kamu ingin aku lakukan, Ayah?"
Bajisa Traba tersenyum dengan bangga. "Kamu akan menjadi wakil keluarga Traba dalam negosiasi ini, Yussa. Kamu akan bekerja sama dengan tim advokat dan penasihat keuangan kita untuk memastikan kesepakatan ini menguntungkan kita sebanyak mungkin."
Yussa mengangguk, siap untuk mengambil tanggung jawab baru ini. "Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah."
Bajisa Traba mengangkat gelas sampanye yang ada di meja dan mengangkatnya. "Untuk masa depan keluarga Traba yang lebih cemerlang, Yussa."
Yussa mengangkat gelasnya dan bersulang dengan Ayahnya.
Mereka berdua tahu bahwa masa depan mereka sangat bergantung pada bagaimana mereka menjalankan peran mereka dalam bisnis ini, dan mereka siap menghadapinya bersama-sama.
Di sini, dengan pernyataan ambisius tentang investasi saham dan masa depan keluarga Traba yang penuh tantangan.