Yussa Traba

Yussa Traba
Aries (3)



Ayah Yussa menatap Yussa dengan sangat serius, kucing yang ada di bahunya tampak gelisah. "Tidak," ujar Ayah Yussa dengan tegas, suaranya penuh otoritas.


Wajah Yussa terpampang kesal. "Kenapa?" desaknya.


Ayah Yussa mendekat, wajahnya hampir menyentuh wajah Yussa. "Kenapa kau melakukannya?" ucapnya dengan aura yang mencekam.


"Apa kau takut?" tanya Yussa dengan nada menantang.


Ayah Yussa menatap Yussa dengan tatapan tajam, dan kemarahan semakin terpancar dari matanya.


"Apa kau takut dengan Aries?!" teriak Yussa dengan penuh kekesalan.


Ayah Yussa mendengus kesal dan mengepalkan tangannya. "Anak ini..." gumamnya dengan penuh kekecewaan.


Tiba-tiba, Ayah Yussa melancarkan serangan dengan tangan kanannya, mencoba memukul Yussa.


Yussa dengan sigap mencoba menghindari serangan itu, tetapi itu sudah terlambat dalam mengantisipasi.


Blam! Yussa terpukul oleh ayahnya. Tubuhnya terhempas ke lantai.


"Bagaimana mungkin?" gumam Yussa dalam hati, merasa kebingungan. "Itu tidak masuk akal," tambahnya dalam hati, masih berusaha mencerna kejadian itu.


Ayah Yussa mendekati Yussa yang tergeletak di lantai, mencibir. "Kau benar-benar pandai membuat orang marah," ucapnya dengan nada merendahkan, sambil berjalan mendekatinya.


Yussa gemetaran, ketakutan, dan penuh kebingungan saat ayahnya semakin mendekati.


"Ketua," panggil Leon dari pintu, mengakhiri ketegangan di ruangan itu.


Yussa menghembuskan napas lega. "Aku selamat," pikir Yussa dalam hati, tetapi ia masih merasa tegang.


Ayah Yussa menatap Leon dengan mata yang penuh kekesalan. "Ada apa?" tanya Ayah Yussa dengan suara yang tegas.


"Apa?" Yussa merasa kesal dan bingung saat Leon terus menatapnya.


Ayah Yussa mengenakan jasnya dengan cepat dan berjalan pergi menuju pintu. "Kau ikut," perintah Ayah Yussa kepada Yussa.


Yussa terkejut dan dengan enggan mengikuti Ayahnya keluar ruangan menuju pertemuan dengan pemimpin organisasi Aries.


Sesampainya di ruangan pertemuan yang mewah, tensi antara Ayah Yussa dan pemimpin organisasi Aries menjadi sangat terasa.


"Kenapa kau datang kemari?" ujar Ayah Yussa dengan suara yang membawa ancaman.


Pemimpin organisasi Aries tersenyum lebar, seolah tak terpengaruh oleh ketegangan di ruangan itu. "Aku hanya ingin menyapa teman lamaku," ucapnya dengan nada yang tak terbaca.


Yussa, yang merasa tatapan pemimpin Aries tertuju kepada dirinya, berusaha keras untuk mengalihkan pandangannya, berpura-pura tertarik pada dekorasi ruangan.


Ayah Yussa menghela nafas dalam-dalam dan dengan tegas menyuarakan keputusannya, "Jika kau tidak punya urusan yang jelas, pergilah dari tempat ini."


Leon, yang tengah membawa segelas teh, tersenyum dan berjalan perlahan mendekati mereka bertiga.


Pemimpin organisasi Aries, meskipun dikelilingi oleh ketegangan, masih tersenyum dengan mengesankan. "Bagaimana bisa kau begitu kejam terhadapku, 'Bajisa'?" ucapnya dengan suara memelas.


Ayah Yussa merasa semakin kesal, aura mencekamnya semakin terasa di ruangan itu. "Kau berani memanggilku dengan namaku?" kata Ayah Yussa sambil mengepalkan tangannya, siap untuk bertarung.


"Tenang, tenanglah," ujar pemimpin organisasi Aries dengan nada mereda. "Aku hanya ingin membicarakan salah satu anak buahku yang tersayang, yang disakiti oleh seseorang."


"Aku tidak akan meminta maaf," ucap Bajisa dengan keras. "Begitu juga dengan anakku."


Pemimpin organisasi Aries tak melepaskan senyumannya yang misterius. "Aku tidak menginginkan permintaan maaf," ucapnya dengan nada yang membuat semua orang di ruangan merasa ketidaknyaman.


"Aku hanya ingin salah satu anak buahku untuk melawan anakmu sekali lagi...."