
Pertempuran mendekat, dan ketegangan di kalangan keluarga Traba semakin terasa.
Mereka telah mengumpulkan pasukan mereka, memeriksa senjata, dan menyiapkan strategi pertahanan yang cermat.
Semua anggota keluarga, termasuk Yussa, telah dilatih secara intensif untuk menghadapi serangan dari Fleksora.
Hari pertempuran akhirnya tiba. Langit cerah, tetapi ketegangan melingkupi markas besar keluarga Traba. Mereka tahu bahwa serangan Fleksora bisa datang kapan saja.
Di ruang pertemuan bawah tanah, Bajisa Traba berbicara kepada semua anggota keluarga. "Ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu. Kita harus tetap bersatu dan melindungi wilayah kita dengan segala yang kita miliki. Fleksora tidak akan ragu-ragu untuk menghancurkan kita jika mereka mendapatkan kesempatan."
Semua anggota keluarga mendengarkan dengan penuh antusiasme.
Mereka tahu bahwa mereka bertarung bukan hanya untuk melindungi wilayah mereka, tetapi juga untuk mempertahankan kehormatan keluarga Traba.
Pada saat yang sama, di markas besar Fleksora, Julius dan para pimpinan inti mereka bersiap-siap untuk serangan besar-besaran mereka.
Mereka telah mempersiapkan senjata-senjata berat dan pasukan yang kuat untuk menyerbu wilayah keluarga Traba.
Julius melihat peta wilayah keluarga Traba dan merencanakan serangan mereka dengan cermat.
Dia ingin menyerang wilayah keluarga Traba secara bersamaan, menciptakan kebingungan di antara para anggota keluarga Traba.
Pada saat yang sama, Yussa bertemu dengan Leon di salah satu sudut markas besar keluarga Traba. "Leon, apakah kamu yakin tentang rencana ini?" tanya Yussa dengan ragu.
Leon mengangguk tegas. "Kita harus percaya pada persiapan kita dan pada Bajisa. Dia adalah pemimpin kita, dan dia tahu apa yang dia lakukan."
Yussa menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengatasi ketegangan dalam dirinya.
Dia tahu bahwa sebagai penerus keluarga Traba, dia harus menjadi contoh bagi yang lain.
Saat matahari terbenam, pasukan Fleksora mulai bergerak menuju wilayah keluarga Traba.
Mereka menggunakan berbagai kendaraan dan menyusup dengan hati-hati ke wilayah musuh.
Di markas besar keluarga Traba, anggota keluarga dan sekutu mereka berjaga-jaga.
Mereka telah membagi wilayah mereka menjadi beberapa sektor, masing-masing dengan pemimpinnya sendiri yang bertanggung jawab atas pertahanan.
Tiba-tiba, suara sirene darurat berkumandang di seluruh markas besar keluarga Traba. Ini adalah tanda bahwa serangan Fleksora sudah dimulai.
Keluarga Traba segera bersiap-siap. Mereka mengambil posisi mereka dan menunggu serangan musuh.
Pertempuran pun dimulai. Pasukan Fleksora menyerbu wilayah keluarga Traba dari berbagai arah.
Tembakan senjata api dan suara ledakan memenuhi udara.
Pertarungan berdarah ini membuat banyak anggota keluarga Traba merasakan ketegangan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Mereka melawan pasukan Fleksora yang datang dengan ganas. Peluru dan granat melintas di antara mereka dalam pertempuran sengit.
Leon, yang berada di sektor lain, juga berjuang mati-matian melawan serangan musuh.
Dia memimpin pasukannya dengan tekad yang kuat, mengambil setiap kesempatan untuk mengalahkan musuh.
Leon benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuannya, membuat seluruh orang yang melihatnya ketakutan.
"Monster" Pikir orang-orang yang melihat Leon.
Di lain tempat, Bajisa Traba sendiri terlibat dalam pertempuran.
Dia adalah pemimpin mereka, dan dia tidak akan tinggal diam saat keluarganya berjuang.
Dia menggunakan senjata andalannya dengan keahlian yang luar biasa, mengalahkan musuh yang mencoba mendekat.
Pertempuran berlangsung selama berjam-jam, dengan kedua belah pihak tidak memberi ampun satu sama lain.
Darah tumpah di medan perang, dan banyak yang terluka dalam pertempuran ini.
Yussa, yang berjuang dengan penuh semangat, melihat bahwa pasukannya mulai terdesak oleh serangan musuh. Dia tahu bahwa mereka harus bertahan lebih kuat jika ingin menang.
Menggunakan komunikator, dia menghubungi Bajisa Traba. "Ayah, kita butuh bantuan di sektor kami. Pasukan Fleksora semakin kuat."
Bajisa Traba mendengarkan dan merespon dengan cepat. Dia memerintahkan pasukan tambahan untuk mendukung sektor Yussa.
Saat bantuan tiba, pasukan keluarga Traba mulai mengambil alih inisiatif.
Mereka mendorong pasukan Fleksora kembali dan mengusir mereka dari wilayah mereka.
Pertarungan semakin intens, tetapi keluarga Traba terus maju dengan tekad yang kuat.
Mereka tidak akan membiarkan Fleksora mengambil alih wilayah mereka.
Di ruang komando Fleksora, Julius melihat bahwa serangan mereka telah gagal.
Dia merasa frustrasi dan marah. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja.
Julius merencanakan rencana cadangan mereka.
Dia tahu bahwa ini adalah pertempuran panjang, dan dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan kendali atas wilayah keluarga Traba.
Pertempuran terus berlanjut, dan kedua belah pihak tidak akan mundur.
Ini adalah pertarungan untuk kekuasaan dan kehormatan, dan hanya waktu yang akan menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya.