Yussa Traba

Yussa Traba
Yussa vs Leon



"Mulai!" Ucap Ayah Yussa.


Leon melangkah maju dengan kecepatan kilat, memulai serangkaian serangan presisi yang menghantam ke arah Yussa.


Yussa, dengan ketangkasan luar biasa, menghindari setiap serangan dengan melompat dan berputar dengan llincah


Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang meningkat. Yussa menyerang balik dengan pukulan dan tendangan tajam, tetapi Leon dengan mudah menghindari setiap serangan itu, tetap tenang seperti air di tengah badai.


"Anda telah tumbuh kuat dari waktu ke waktu," ucap Leon sambil tersenyum, terus menghindari serangan Yussa.


Tiba-tiba, Leon meluncur dengan lincah ke samping, mencoba mencengkeram tangan Yussa. Yussa dengan cepat melompat ke belakang, menghindari cengkeraman itu dengan selisih sempit.


Leon berhenti sejenak, tersenyum tipis, dan berkata, "Saya rasa, ini saatnya saya sedikit lebih serius."


Yussa mengangguk, menyiapkan kembali dirinya untuk pertempuran yang semakin memanas. Namun, kali ini, Leon bergerak lebih cepat dan lebih kuat daripada sebelumnya, menghindari setiap serangan Yussa dengan kecepatan yang menakjubkan.


Yussa berjuang keras untuk mengikuti ritme pertarungan, tetapi semakin lama dia merasa semakin sulit untuk mengenai Leon. Tampaknya Leon adalah lawan yang luar biasa kuat.


Yussa merenung dalam hati, "Leon, dia benar-benar seorang monster."


setelah berkali-kali mencoba menyerang, akhirnya Yussa berhasil mengenai Leon dengan low kick yang tajam, membuat Leon sejenak kehilangan keseimbangannya.


Yussa melihat peluang dan dengan cepat melancarkan serangan ke arah kepala Leon.


Namun, dengan refleks yang luar biasa, Leon berhasil menghindari pukulan itu dengan merendahkan badannya dan berputar ke samping.


Serangan Yussa melesat melewati Leon, dan sebelum Yussa bisa kembali mengatur posisinya, Leon memanfaatkan momen tersebut untuk mengirimkan tendangan tajam yang menghantam Yussa, menjatuhkannya ke lantai.


Yussa mencoba untuk bangkit kembali. "Aku belum selesai," ucapnya.


Namun, sebelum Yussa bisa berdiri, Leon menginjaknya dengan sangat keras, bahkan membuat beton yang terkena Yussa hancur. "Sudah Cukup" kata Leon.


Yussa terdiam, merenungkan kekalahan ini. Sementara Leon meninggalkan arena. Yussa tetap di sana, meratapi kegagalannya. Ayah Yussa ikut pergi dengan hawa yang mencekam.


Penglihatan Yussa mulai memudar. "Ah... sial," desisnya dalam hati.


Tanpa daya, Yussa roboh di tengah-tengah arena yang telah hancur, tempat dia dan Leon menggelar Pertarungan yang sengit sebelumnya.


Beberapa jam kemudian, Yussa akhirnya terbangun dari pingsannya. "Di mana ini?" gumamnya.


Seseorang dengan jas putih seperti dokter dan dengan rambut putihnya tersenyum lembut. "Anda sudah bangun?"


Orang dengan jas putih itu mengangguk, "Iya, Anda pingsan setelah pertarungan yang hebat."


Yussa menggeleng pelan. "Pertarungan yang hebat?" gumamnya dengan suara yang penuh dengan kekecewaan.


Orang dengan jas putih itu tersenyum sambil menghibur Yussa. "Leon adalah salah satu anggota terkuat di organisasi, Ketua," ucapnya dengan lembut. "Jadi, jangan terlalu larut dalam kefrustasianmu," lanjutnya.


Yussa berusaha untuk menjaga wajahnya tetap tenang. "Frustrasi? Siapa yang frustasi?" ucapnya dengan senyuman palsu yang mencolok.


Yussa melangkah menjauh, namun sejenak ia berhenti. "Terima kasih telah meredakan hatiku, Cris," ucapnya dengan tulus.


Orang dengan jas putih yang bernama Cris hanya tersenyum dan mengangguk, mengerti bahwa kata-katanya telah memberikan sedikit kenyamanan bagi Yussa.


Yussa kemudian berjalan menuju ruang pribadi ayahnya. Setibanya di sana, ia mengetuk pintu.


Tok, Tok, Tok!


"Siapa?" jawab ayah Yussa dari dalam ruangan.


"aku" Jawab Yussa dengan singkat.


"Masuklah" Ucap ayahnya dari dalam ruangan.


Yussa membuka pintu, dan di dalamnya, ayahnya duduk sambil mengamati dokumen-dokumen di depannya.


"Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya ayah Yussa tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen itu.


Yussa berdiri di depan ayahnya. "Aku telah memutuskan untuk menjadi penerusmu," ucapnya dengan tatapan mata yang serius.


Ayah Yussa meletakkan dokumen yang tengah ia baca dan menatap Yussa dengan serius. "Akhirnya kau berubah pikiran, huh?" tanyanya.


Yussa mengangguk mantap. "Ya, tetapi aku mohon, buat aku jadi jauh lebih kuat," lanjutnya dengan serius.


Ayah Yussa tersenyum tipis sambil meyakinkan, "tentu." Suaranya penuh keyakinan. "Aku akan menjadikanmu sebagai manusia paling kuat di seluruh negeri ini."


Meskipun begitu, Yussa masih meragukan dirinya sendiri. "Apakah itu benar-benar mungkin?" tanyanya ragu. "Aku merasa tidak memiliki bakat."


Ayah Yussa tertawa lembut. "Bagaimana mungkin? Anak satu-satunya Yang aku punya tidak memiliki bakat?" Ucapnya dengan senyum yang penuh kebanggaan. "Aku itu Bajisa "Dio della guerra" Traba." Lanjutnya dengan meyakinkan.