Yussa Traba

Yussa Traba
Kelas yang menarik



"Tapi di sekolah biasa tidak ada banyak wanita cantik, seperti di sekolah ini!" teriak pria berambut belah tengah itu dengan percaya diri.


Yussa menghela napas, melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Kepala Sekolah, dengan David yang terus mengikuti.


"Hei, kamu anak baru, kan?" Tanya David kepada Yussa. "Kenalin, nama gua David," ujarnya sambil mengajak bersalaman.


Yussa tidak terlalu responsif terhadap David dan hanya berjalan terus tanpa menjawabnya. Mereka akhirnya sampai di pintu ruangan Kepala Sekolah.


Yussa memasuki ruangan Kepala Sekolah tanpa basa-basi, dan terlihat jelas Kepala Sekolah yang tadinya tenang mulai mengeluarkan keringat dingin. Pemandangan ini tidak luput dari perhatian tajam Yussa.


Kepala Sekolah mencoba menjaga ketenangan. "Kamu adalah Yussa, bukan?" tanya Kepala Sekolah dengan suara gemetar.


Yussa mengangguk. "Aku di tempatkan di kelas mana?" Tanya Yussa Pada Kepala sekolah.


Di samping pintu yang terbuka, mendengarkan percakapan dengan cermat,


Kepala Sekolah mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Kamu ditempatkan di kelas 12-B, Yussa. SeLamat datang di sekolah kami."


"Baiklah" Respon Yussa Singkat.


Kepala Sekolah mencoba tersenyum meskipun terlihat gugup. "Semoga kamu bisa beradaptasi dengan baik di sekolah ini."


Yussa mengangguk dan dengan santainya berpindah dari kursi di depan kepala sekolah ke sofa yang nyaman di pojok ruangan.


Sementara itu, David terkejut. "Dia berada di kelas kami," gumamnya dalam hati. "Aku harus memberitahu semuanya," tambahnya dalam hati sambil berjalan menuju kelasnya.


Yussa duduk dengan santai, membaca buku di dekatnya. Kepala sekolah terus-menerus mengeluarkan keringat dingin sambil diam-diam memperhatikan Yussa dari sudut matanya.


Ketegangan di dalam ruangan itu semakin terasa, menciptakan atmosfer yang sangat tegang.


Beberapa saat berlalu, bel sekolah akhirnya berbunyi, mengumumkan dimulainya hari pelajaran.


Wali kelas 12-B yang tampan, Kafi, tiba di ruangan kepala sekolah. Dengan pakaian yang begitu rapi, dia terlihat jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Kafi memandang Yussa dengan hormat. "Selamat pagi," sapa Kafi dengan sopan.


Yussa merasa sedikit kesal. "Hei, jangan seperti itu, anggap saja aku seperti murid biasa," kata Yussa dengan tegas. "Kau di sini untuk menjemputku, bukan?" lanjutnya sambil menggumamkan ketidakpuasannya.


Kafi mengangguk dan menjawab, "Benar, mari kita ke kelas."


Yussa meraih tasnya dan mengikuti Kafi. Mereka berjalan melalui lorong-lorong sekolah yang ramai.


Akhirnya, mereka tiba di depan pintu kelas 12-B. Kafi membuka pintu dan mengucapkan salam, yang dijawab oleh seluruh murid di dalam kelas.


Kafi memberi pengantar, "Anak-anak, hari ini kita memiliki murid baru di kelas kita."


David, dari kursi belakang, langsung mengenalinya, "Namanya Yussa, benar kan?"


Kafi mengangguk dengan ragu. "Benar," ucapnya. "Silakan masuk, Yussa."


Yussa memasuki ruangan dengan sikap yang penuh ketampanan, membuat wanita-wanita di kelas langsung terpesona. Mereka tidak bisa menahan diri dari bersorak dan mengagumi kegantengannya.


Yussa memperkenalkan diri dengan tegas, "Nama saya Yussa Traba, umur saya 17 tahun, dan saya tidak memiliki hobi."


Yussa melihat sekeliling kelas dan terkejut. "Wanita yang tadi di lampu merah?" gumamnya dalam hati. "Dia ada di kelas ini?!" tambahnya dalam hati, sambil merasa kelas ini pasti akan jadi lebih menarik.