Yussa Traba

Yussa Traba
Masa lalu David?



Yussa dan David sedang makan di kantin.


David memandangi Yussa dengan ekspresi kesal. "Kamu ini sebenarnya kenapa?" tanya David dengan nada yang penuh kekesalan.


"Enggak ada," jawab Yussa sambil santai mengunyah makanannya.


David semakin kesal dan menyelesaikan makanannya dengan cepat. Yussa hanya melihat dengan tenang David yang tampak frustrasi.


"Cepetan dong makannya," desak David dengan nada yang meninggi.


"Kamu duluan aja kalau terburu-buru," ucap Yussa dengan santai. "Bukankah seharusnya kamu punya teman selain aku?" lanjutnya.


David terdiam sejenak, lalu meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa.


Yussa menatap bagian belakang David dengan tatapan tajam.


"Ini lebih baik," pikir Yussa sambil melanjutkan makanannya.


Nayla, yang sedang duduk di meja lain, melihat Yussa yang makan sendirian dari kejauhan.


"Dia itu yang tadi bertemu denganku di lampu merah, ya?" gumam Nayla sambil makan. "Orang yang memanggilku 'dek'," tambahnya dalam hati dengan rasa kesal.


Yussa, yang merasa sedang diawasi, menatap Nayla dengan tatapan tajam. Ketika Nayla menyadari tatapannya, dia segera memalingkan pandangannya.


"Imut sekali," pikir Yussa sambil tersenyum dengan manis.


Pipi Nayla memerah dan dia memalingkan mukanya. "Kenapa dia tersenyum saat melihatku?" pikir Nayla dengan gugup.


Yussa menyelesaikan makannya dan berdiri. Dia mendekati Nayla dengan langkah percaya diri.


"Halo," sapa Yussa dengan senyuman.


Yussa mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Mau berteman?" tanyanya dengan suara lembut.


Nayla terkejut dengan tawarannya dan pipinya semakin merah.


"Halo?" panggil Yussa lagi, mencoba mendapatkan perhatiannya.


Nayla tersentak. "Eh?!" teriak Nayla dengan agak keras.


Teriakan Nayla menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.


"Haha, tentu," kata Nayla sambil bersalaman dengan Yussa.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Yussa sambil menunjuk kursi di sebelah Nayla.


"Tentu," jawab Nayla dengan rasa grogi.


Yussa duduk dengan anggun di samping Nayla. Nayla tanpa sadar terpesona dan memerhatikan Yussa.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Yussa sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Tidak, tidak," ujar Nayla dengan kikuk.


"Wanita ini..." gumam Yussa dalam hati. "Imut sekali," lanjutnya dalam hati.


"Kau sendirian?" Tanya Yussa sambil memandangi langit-langit kantin yang cukup ramai.


Nayla mengangguk pelan. Senyum lembut menghiasi wajahnya yang manis. "Ya, aku memang biasanya makan sendirian. Tidak apa-apa kok," jawabnya.


"Curang sekali, wanita ini... dia begitu manis" Gumam Yussa dalam hati, sambil berusaha menjaga ketenangannya.


Pipi Nayla semakin memerah, tetapi senyuman tetap ada di wajahnya. "Aku tidak secantik dan seimut itu," ucapnya kikuk, Sambil merasa bahwa hatinya berdegup kencang.


Yussa tersenyum dan berbalik badan. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya?" Ujar Yussa sambil beranjak pergi.


Tanpa sadar, Nayla terus-menerus memerhatikan punggung Yussa yang semakin menjauh. Tatapannya masih terpaku pada Yussa yang semakin redup. Ia merasa seperti terhipnotis oleh pesona Pria itu.


"Keren sekali," pikir Nayla, menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu. "Eh? Apa yang aku pikirkan?" gumamnya dalam hati sambil menutup mukanya karena malu, pipinya semakin memerah.


Sementara itu, Yussa berjalan melalui koridor sekolah. Dia merasa puas dengan cara dia mendekati Nayla. Yussa tidak sabar untuk mengenal lebih jauh wanita yang telah membuatnya penasaran sejak pertama kali mereka bertemu di lampu merah.


Saat Yussa masuk ke dalam kelas, David sudah duduk di meja mereka. Ia menatap Yussa dengan tatapan aneh.


"Kenapa kau begitu lama?" tanya David dengan rasa kesal.


Yussa bingung. "Aku hanya memiliki sedikit urusan," jawabnya.


David mengerutkan keningnya. "Urusan?"


Yussa tersenyum. "Begitulah" Ucap Yussa sambil melihat sekitar. "Kau tidak bermain dengan temanmu?" Tanya Yussa sambil duduk di kursi.


"Bagaimana ya?" Gumam David. "Aku tidak punya teman selain kamu" Lanjut David sambil menunjuk Yussa.


"Ha? Kau tidak punya teman setelah bersekolah tiga tahun disini?" Ucap Yussa kaget.


"Karena mereka takut kepadaku" Ucap David dengan tersenyum percaya diri. "Jadi begini, Dulu saat aku awal masuk sekolah ini..."


———


David berjalan di Koridor yang di penuhi oleh kakak kelas.


"Hei, apakah ibumu tidak memberikanmu sepatu?" Ucap kakak kelas dengan nada ejekan. "Buang aja tuh, sepatu yang mirip sampah."


David berhenti berjalan dan menatap tajam kakak kelas yang tadi berbicara.


"Ngomong apa kau?" Tanya David dengan tangan yang sudah mengepal.


"Kenapa? marah? sini pukul aku" Ucap kakak kelas itu sambil menunjuk pipinya.


Blam!


Kakak kelas itu di pukul dengan sangat keras oleh David dan terpental menghancurkan tembok. membuat kakak kelas itu sekarat dengan badan yang dipenuhi darah.


David mendekat dan jongkok di depan kakak kelas itu. "Bilang apa kau tadi?"


David memukul wajah kakak kelas itu sekali lagi dan kakak kelas itu benar-benar sudah di ujung tanduk hidupnya.


Sesaat sebelum David melayangkan pukulan terakhirnya, tangannya di tahan oleh seseorang.


"Hentikan, nanti dia bisa mati" Ucap Kafi sambil menahan tangan David.


"Huh?" Gumam David sambil melihat Kafi.


———


"Oo... Jadi begitu." Gumam Yussa setelah mendengar cerita itu. "Tapi, bukankah kau yang memberi tahu kelas ini bahwa aku akan masuk kesini?" Lanjut Yussa.


David tertawa. "Apa benar begitu?" Ucapnya dengan grogi.