
Keluarga Traba tengah merayakan kesepakatan investasi saham yang baru saja mereka lakukan dengan perusahaan luar.
Ruang makan besar mereka dihiasi dengan dekorasi mewah dan makanan lezat.
Semua anggota keluarga hadir, bersama dengan beberapa tamu terpilih.
Yussa Traba duduk di ujung meja, di sebelah Ayahnya, Bajisa Traba.
Dia melihat sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah yang tersenyum dan suasana penuh kehangatan.
Ini adalah momen penting bagi keluarga mereka, dan Yussa merasa bangga atas peran yang telah dia mainkan dalam kesepakatan ini.
Ketika acara makan malam berlangsung, Yussa mendapat kesempatan untuk berbicara dengan beberapa tamu bisnis.
Mereka adalah pemimpin perusahaan besar yang telah bekerja sama dengan keluarga Traba. Yussa menyadari pentingnya menjaga hubungan baik dengan mereka.
Salah satu tamu bisnis, Samuel Bennett, seorang eksekutif senior dari perusahaan mitra, mendekati Yussa. "Yussa, saya harus mengakui bahwa Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam perundingan ini. Ini adalah kesepakatan besar bagi kedua belah pihak."
Yussa tersenyum ramah. "Terima kasih, Samuel. Saya senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda. Saya yakin ini akan menjadi kemitraan yang sukses bagi kita semua."
Percakapan mereka terus berlanjut, dengan Yussa berusaha memahami lebih dalam tentang perusahaan mitra mereka dan tujuan mereka dalam kesepakatan ini.
Dia tahu bahwa menjaga hubungan yang baik dengan mitra bisnis adalah kunci untuk kesuksesan jangka panjang.
Sementara itu, di meja lain, Ayah Yussa, Bajisa Traba, sedang berbicara dengan pemimpin perusahaan mitra lainnya, Charlotte Montgomery.
Mereka membicarakan rencana masa depan dan bagaimana mereka dapat saling mendukung dalam pelaksanaan kesepakatan ini.
Charlotte tertarik pada strategi bisnis keluarga Traba. "Saya mendengar bahwa Anda memiliki rencana ekspansi bisnis yang ambisius. Apakah Anda ingin berbagi lebih banyak detail tentang itu?"
Bajisa tersenyum dan merasa senang atas ketertarikan Charlotte. "Tentu, Charlotte. Kami memiliki rencana untuk mengembangkan bisnis kami ke sektor yang lebih luas. Dengan dukungan dari perusahaan Anda, kami yakin ini akan menjadi kenyataan."
Pertemuan mereka berlanjut, dan mereka mulai merinci rencana ekspansi bisnis yang lebih besar.
Mereka berdua melihat potensi besar dalam kemitraan ini.
Namun, tidak semua tamu bisnis di ruangan itu memiliki niat baik.
Terdapat seorang tamu yang diam-diam berbicara dengan rekannya tentang rencana jahat mereka.
Yussa, yang selalu berhati-hati, mencurigai perilaku mereka.
Dia berusaha untuk mendekati mereka dengan hati-hati dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Saat mendengar rencana busuk mereka, Yussa merasa marah dan khawatir.
Dia tahu dia harus mengambil tindakan cepat untuk melindungi kepentingan keluarga Traba.
Setelah makan malam selesai, Yussa segera mendekati Ayahnya dan memberitahunya tentang rencana jahat yang telah dia temukan.
Bajisa Traba mendengarkan dengan serius dan merasa khawatir akan dampak buruk yang bisa terjadi jika rencana tersebut berhasil.
"Bisakah Anda mengidentifikasi mereka dengan pasti?" tanya Bajisa Traba.
Yussa mengangguk. "Ya, saya bisa. Mereka ada di meja di sana."
Bajisa Traba memberi isyarat kepada salah satu anggota keluarga kepercayaan mereka yang memiliki pengalaman dalam hal ini.
Mereka segera berkoordinasi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Pada akhirnya, rencana jahat para tamu bisnis tersebut digagalkan, dan mereka diusir dari acara tersebut.
Keluarga Traba menunjukkan bahwa mereka adalah kekuatan yang tidak bisa diintimidasi atau disalahgunakan.
Setelah insiden tersebut, Ayah Yussa, Bajisa Traba, merasa semakin yakin tentang keputusan untuk melakukan kesepakatan saham.
Mereka telah menghadapi berbagai rintangan dan intrik bisnis, tetapi keluarga Traba tetap bersatu dan kuat.
Malam harinya, Yussa yang kelelahan tertidur di tempat dia bekerja, dengan computer yang masih menyala.
Leon datang dan memberikan jas yang dia pakai untuk menyelimuti Yussa.
Leon menunjukan senyuman yang lembut. "Anda telah bekerja dengan sangat keras, Tuan Muda" Gumamnya kepada Yussa yang sedang tidur.
Leon mengingat dimana dia mengajari Yussa cara bertarung.
Yussa yang dulunya ingin menjadi pemimpin organisasi kriminal melanjutkan ayahnya, kini telah membuat jalan lain untuk keluarganya.