
Yussa melihat sekeliling kelas dan terkejut. "Wanita yang tadi di lampu merah?" gumamnya dalam hati. "Dia ada di kelas ini?!" tambahnya dalam hati, sambil merasa kelas ini pasti akan jadi lebih menarik.
Setelah selesai perkenalan, Yussa berjalan kearah Kursi kosong yang berada di belakang wanita itu.
"Baiklah. Karena Yussa sudah perkenalan, maka kita akan langsung mulai saja pelajarannya" Ucap Kafi dengan senyuman.
Pelajaran akhirnya dimulai...
Tanpa disadari oleh Yussa, Dia terus-menerus memandangi wanita yang dia temui di lampu merah sebelumnya.
"Kenapa dia terus melihat aku" Ucap Wanita itu dalam hati karena gelisah.
"Baik, Ada yang bisa menjawab soal yang saya kasih di sini?" Tanya Kafi kepada orang-orang di kelas sambil menunjuk papan tulis menggunakan spidol.
Wanita itu mengangkat tangan. "Saya pak" Ujarnya.
Kafi tersenyum. "Sini maju nayla" Ucap Kafi.
"ah.. Jadi namanya Nayla?" Gumam Yussa dalam hati. "Nama yang indah" Tambahnya dalam hati.
Nayla maju lalu mengerjakan Soal yang ada di papan tulis dengan mudahnya. Lalu kembali duduk di tempat duduknya.
"Apa ini benar?" Tanya Kafi kepada murid-muridnya.
"Iya.." Ucap Murid-muridnya.
Kafi memandangi murid-muridnya. "Iya, ini benar" Ucapnya. "Tetapi ini tidak efektif" Lanjutnya.
Kafi mencontohkan cara menjawab soal yang lebih cepat dan mudah.
Sementara Kafi menjelaskan, Nayla menatap Yussa kembali. "Kenapa kamu menatapku terus" Ucap Nayla tersenyum ragu.
"Eh, maaf" Ucap Yussa sambil menahan malu.
Nayla memalingkan pandangannya kembali ke depan. dan Yussa menjadi menatap Kafi.
Kafi ketakutan dan badannya bergetar. "Kenapa dia menatapiku terus." Pikir Kafi.
Setelah beberapa saat, Pelajaran selesai dan Bel Berbunyi "Ding-Dong" Menandakan waktunya jam istirahat.
David berdiri dan berjalan kearah Yussa. "Bagaimana? Apakah sekolah ini buruk?"
Yussa tersenyum. "Aku menarik kembali kata-kataku" Ucapnya dengan percaya diri.
Mereka berdua tertawa beberapa saat.
Yussa hanya mengangguk tanpa bersuara.
Mereka pun berjalan pergi menuju kantin. dalam perjalanan menuju kantin, Yussa melihat Nayla sedang berjalan menuju kantin sendirian.
"Hei, apa kau kenal dia" Tanya Yussa pada David.
Yussa mengangguk. "Tentu saja, Dia itu siswa terpintar di sekolah." Jawab David pada Yussa.
Yussa mengerutkan dahinya. "Kenapa dia malah di kelas 12-B?" Tanya Yussa kepada David.
"Mana aku tau" Ucap David sambil mencoba menggaruk punggungnya. "Mending kau bantu aku garuk punggungku" Ucap David.
"Apa dia tidak punya teman" Tanya Yussa pada David.
David sedang mencoba menggaruk punggungnya. "Garukin punggungku dulu" Ucap David sambil membelakangi Yussa.
Yussa kesal dan pergi meninggalkan David.
"Hei, Tolong garukin punggungku" Teriak David memanggil Yussa.
Yussa hanya diam dan berjalan menuju kantin. Nayla yang melihat David kesusahan mendekat dan membantu David menggaruk punggungnya.
"Aahhh, Nikmat" Ucap David keenakan. "Tunggu, Siapa yang menggaruk punggungku?" Tanya David pada dirinya sendiri.
David berbalik badan dan melihat sekitar. "Tidak ada siapa-siapa" Ucap David dengan waspada.
"Hei aku disini." Ujar Nayla sambil mengangkat tangannya.
"Eh?" Gumam David melihat kearah bawah. "Terimakasih ya" Ucap David sambil tersenyum.
Nayla tersenyum juga. "Tentu" Ucapnya.
Tanpa disadari oleh Yussa. Dirinya mengepalkan tangannya. "Bocah brengsek itu.." Gumamnya dalam hati.
David berlari menuju Yussa. "Udah ga gatel punggungku" Ucap David pada Yussa.
Yussa hanya diam, Membuat ketegangan di sekitarnya.
"Hei" Ucap David sambil meraih pundak Yussa. "Kau kenapa?" Tanyanya.
Yussa menepis tangan David yang ingin meraih pundaknya, dan berjalan menuju kantin.
David berhenti sejenak dan berpikir. "Kenapa dengannya?"