
Langit mulai menggelap saat sang rembulan menggantikan kedudukan matahari. Lampu-lampu pun mulai dinyalakan untuk menerangi Istana. Bersamaan dengan itu, seseorang baru saja keluar dari kapel Istana setelah ia menyalakan lilin di dalamnya.
Dalvin mengangguk untuk menyapa sosok pelayan itu. Sudah sejak beberapa saat yang lalu ia berdiri di halaman kapel, menanti Calista yang tengah berdoa di dalamnya. Sesekali pria itu meniup rambut yang tergerai di depan keningnya untuk mengusir rasa bosan yang menghinggapinya.
"Sir Dalvin!" kedua netra sang pemilik nama hanya melirik pada sosok pria yang kini mendekat padanya. Grand Duke Gedeon, pria itu melirik ke dalam kapel saat ia berdiri di depan Dalvin. "Apa Yang Mulia Maharani masih di dalam?"
"Aku di sini, Arthur." suara langkah kaki dari sosok wanita dengan kerudung hitam yang menutupi rambut coklat gelapnya terdengar keluar dari dalam kapel. Calista yang kini berdiri di pintu kapel, menoleh pada Grand Duke Gedeon sembari tersenyum menampilkan riasan pada bibirnya yang sewarna dengan kerudungnya. "Jangan ganggu aku saat aku sedang di kapel, Arthur."
"Yang Mulia," Grand Duke Gedeon lantas menunduk saat Calista menghampirinya.
Sementara itu, Calista melirik pada Dalvin. Ia menepuk bahu pria itu lalu ia berbisik padanya "Siapkan kuda untukku. Tapi jangan katakan pada siapa pun tentang kepergianku."
"Baik, Yang Mulia." Dalvin mengangguk. Pria itu lantas pergi meninggalkan Calista bersama dengan Grand Duke Gedeon.
Untuk sesaat, Calista melirik pada Grand Duke Gedeon yang berada beberapa langkah di belakangnya. Ia kemudian berjalan tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada Grand Duke Gedeon sehingga membuat Sang Grand Duke hanya mengekor di belakangnya tanpa sedikit pun suara yang keluar dari mulutnya.
Sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin Grand Duke Gedeon tanyakan pada Calista. Namun, dengan diamnya wanita yang berjalan di depannya itu, ia menjadi ragu untuk menanyakannya.
Kini keduanya terhenti di depan sebuah bangunan besar yang cukup jauh dari bangunan Istana utama. Calista merogoh saku pakaiannya dan mengambil sebuah kunci dari dalamnya. Setelahnya, pintu dibukakan lebar-lebar.
Sedangkan Calista tersenyum miring pada Grand Duke Gedeon. Ia lantas melepaskan kain merah yang menutupi kotak itu lalu ia berkata "Kau pasti mempertanyakan alasanku mengapa aku menerima hubungan kerjasama dari Kesultanan Kashafa."
Grand Duke Gedeon hanya terdiam. Sepertinya memang sudah sedari tadi Calista membaca isi pikiran Sang Grand Duke.
Melihat Grand Duke Gedeon yang terdiam, Calista lantas mengeluarkan secarik surat yang sudah dibuka dari dalam saku pakaiannya lalu memberikannya pada Grand Duke Gedeon.
Kedua manik mata Sang Grand Duke membulat sempurna saat membaca isi dari surat itu. Ia tentunya tak percaya dengan apa tertulis di dalamnya, terlihat dari wajahnya yang menunjukkan rautnya yang terkejut.
Calista sudah menduga hal itu akan terjadi. Kini ia beralih pada kotak yang semula tertutupi oleh kain merah itu. Dengan sekuat tenaga, Calista mendorong penutup kotak itu hingga kotak itu terbuka sepenuhnya.
Tampaknya tak cukup sekali Calista mengejutkan Grand Duke Gedeon. Pria itu menggeleng tak percaya saat melihat tumpukan senapan yang tertata rapi di dalam kotak.
"Kurasa ini saatnya," pandangan Calista terpaku isi dari kotak itu. Tawa kecil juga mulai terdengar mengisi sunyinya ruangan itu. "Kita gagal menjadikan Voheshia sebagai milik kita. Maka tak ada cara lain bagi kita selain menghancurkannya."
"Kau tahu siapa yang kau hancurkan." Grand Duke Gedeon mencoba untuk memperingatkan Calista dengan apa yang akan diputuskan olehnya. "Aku bisa meyakinkan para anggota Dewan Kerajaan jika kau ingin menghentikan semuanya, Calista."
"Kau tak bisa, Arthur." Calista menggeleng. "Aku tak bisa menghentikan semua ini. Ini sudah menjadi tugasku, dan aku tak ingin menyerah di sini."