
Calista duduk termenung di atas ranjangnya. Angin yang berhembus sesekali menerpa tirai jendela kamarnya. Langit biru gelap tampak terhias oleh bintang saat Calista melirik pada jendela itu.
Ketukan pintu terdengar jelas saat Calista sedang melamun. Ia segera tersadar dari lamunannya, lantas ia meniup lilin yang ada di atas nakasnya dan kemudian ia menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut miliknya.
Suara deritan pintu di tengah sunyinya kamar Calista membuat wanita itu sontak menutup kedua telinganya. Sosok Albertus yang baru saja memasuki kamar itu mendapati Calista yang tengah berpura-pura tidur di atas ranjangnya.
Albertus sedikit terkekeh saat melihat apa yang dilakukan oleh putri semata wayangnya itu. Ia menggeleng kecil, lantas ia berjalan menuju jendela dan membuka tirainya lalu menyalakan perapian yang ada di sisi kamar Calista.
Seketika terasa ada sesuatu yang menyala dari seberangnya, membuat Calista yang khawatir lantas terbangun. Sosok ayahnya tampak tengah berdiri memunggungi perapian dan tersenyum padanya. "Apa ayah mengganggu waktu tidurmu?"
Calista terdiam dan hanya menggeleng pada Albertus. Sementara itu, Albertus bisa melihat kedua mata putrinya tampak membengkak dan merah. Ia lantas menghampiri putrinya itu dan terduduk di sampingnya.
"Kemarilah, putriku." lengan Albertus ia rentangkan sementara Calista bersandar pada bahu ayahnya itu.
"Kupikir aku bisa menyembunyikannya." wanita itu berusaha keras untuk menahan tangis yang hendak keluar. Meski begitu, Albertus tetap bisa mendengar suara isakan dari putrinya itu. "Tapi aku gagal menyembunyikannya dari ayahku."
Hatinya terasa sakit saat Albertus melihat putrinya menangis di dalam pelukannya. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Calista, namun saat ini sudah tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki semuanya. "Maafkan ayah, Calista. Seharusnya ayah tidak memaksa perjodohanmu dengan Edgar."
"Ayah melakukan itu demi negara." Calista mengangkat wajahnya dan menatap kedua netra Albertus lekat-lekat. "Dan aku akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi ayah."
Tak berselang lama kemudian, kembali terdengar ketukan dari pintu kamar Calista, membuat keduanya lantas menoleh secara bersamaan. "Yang Mulia," Dalvin yang mengetuk pintu lantas membungkuk pada mereka berdua. "Raja Edgar datang mengantar Oliver untuk Yang Mulia."
"Edgar?" Calista terheran dengan apa yang disampaikan oleh Dalvin sehingga ia dan Albertus saling menatap dengan penasaran. "Ia berani datang setelah ia mengancam untuk menghukum mati aku?"
Calista lantas tertawa setelah menyadari apa yang baru saja diucapkan olehnya. Lantas ia beranjak bangun dan kemudian ia keluar dari kamarnya bersama dengan Dalvin yang mengekor di belakangnya. Albertus yang Calista tinggal sendirian di kamarnya, hanya bisa berharap yang terbaik bagi putrinya itu.
Pandangan Calista langsung tertuju pada sekelompok orang yang tengah mengawal sosok yang terduduk di sofa ruang tamu kastil. Ia lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu sementara Edgar yang semula sedang duduk kini berdiri dengan raut wajahnya yang cerah menyambut Calista.
Alih-alih menujukan perhatiannya pada Edgar, Calista justru menatap tajam pada pengawal-pengawal Edgar yang enggan menunduk untuknya. "Dimana sopan santun kalian pada Permaisuri kalian?!"
"Kami tidak akan menunduk hanya untuk seorang penjahat." jawab salah seorang pengawal dengan tegas.
Calista hanya terdiam saat mendapat jawaban itu dari salah satu pengawal Edgar. Berbeda dengan Edgar yang langsung melayangkan tamparannya pada pengawal itu seraya berkata "Bagaimana pun juga Permaisuri Calista masih menjadi Permaisuri kalian secara sah!"
"Maafkan kami, Yang Mulia." melihat amarah yang ditunjukkan oleh Edgar membuat para pengawal itu menundukkan wajahnya.
Edgar lantas menggeleng. Ia meraih tangan Calista dan menariknya ke dalam dekapannya. Ia kemudian berbisik tepat di samping telinga Calista "Kembalilah, kumohon. Aku berjanji akan melindungimu."
Tak dapat dipungkiri, Calista sangat merindukan pelukan dari suaminya itu. Aroma tubuhnya, kehangatan yang diberikan padanya, Calista merindukan semua itu. Namun ia tetap tidak bisa terlena dengan semua itu. Lantas Calista menghempaskan tubuh Edgar lalu ia berkata "Melindungiku atau mengesekusi aku? Jangan begitu naif, Edgar. Aku tak sebodoh yang kau kira."
"Calista," Edgar yang terkejut dengan perlakuan Calista lantas berusaha membantah apa yang diucapkan oleh Calista. "Yang menyampaikan tuntutan tentangmu pada Kehakiman Agung adalah Margareth. Aku bersumpah, bukan aku yang menyampaikannya."
"Margareth?" Calista tertawa sinis saat nama itu disebutkan oleh Edgar. "Setelah apa yang kulakukan untuknya dan untuk Kerajaanmu, ini balasan yang kudapat dari kalian?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah satu jam berlalu sejak Calista berjalan kesana-kemari di dalam aula Istana. Sesekali ia menggigiti kukunya untuk menyalurkan rasa resah yang mulai merambat dalam hatinya. Sementara itu, Dalvin hanya bisa menggeleng melihat sosok Maharani itu berkali-kali menanyainya pukul berapa saat itu.
"Yang Mulia," Dalvin lantas mencoba untuk menyudahi langkah kaki Calista. "Yang Mulia tak perlu khawatir. Utusan itu pasti akan tiba dengan selamat di Istana ini, Yang Mulia."
"Benarkah?" Dalvin hanya mengangguk dengan perlahan pada Calista.
Tak lama kemudian, pintu aula dibukakan hingga menampilkan sosok pria yang berjalan mendekati Calista. Pria itu berlutut saat berada di dekat Calista, lalu pria itu berkata padanya "Salam, Yang Mulia Maharani. Saya Farabi, menyampaikan pesan perdamaian dari Sultan kami untuk Yang Mulia Maharani."
"Farabi, sang penjelajah dari Benua Asad." Calista mengangkat tangannya, mengisyaratkan pria yang bernama Farabi itu untuk berdiri. "Bagaimana perjalananmu kemari, Tuan Farabi?"
"Kota Alexis begitu indah, Yang Mulia. Saya merasa seperti berada di negeri dongeng saat saya menginjakkan kaki di kota ini." jawab Farabi.
Calista lantas tertawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut Farabi. "Aku tak menyangka kau pandai memuji seorang penguasa."
Tak lama kemudian, Calista menoleh pada Dalvin. Ia mengangguk, lalu Dalvin pun berjalan menghampiri Farabi dengan sebuah peti kecil dan kemudian Dalvin pun membukakan peti itu. Calista lalu berkata pada Farabi "Sampaikan kepada Sultanmu, Kekaisaran Hellenocitus-Lozarayas akan mempertimbangkan hubungan kerjasama dengan Kesultanan Kashafa. Kapal dagang kalian akan diizinkan untuk berlabuh di dermaga kami."
Farabi tertegun saat melihat begitu banyak permata yang dihadiahkan Calista dalam peti yang dipegang oleh Dalvin itu. Setelah Dalvin memberikan peti itu pada Farabi, Farabi pun berkata "Sultan kami akan dengan senang hati menerima keputusan Yang Mulia. Sebagai tanda terimakasih kami, kami membawa banyak rempah-rempah untuk Yang Mulia Maharani."
"Terimakasih atas kebaikan kalian." Farabi pun mengangguk perlahan pada Calista dan ia kemudian berjalan mundur keluar dari aula Istana.
Setelah pintu aula kembali ditutup, Dalvin berjalan menghampiri Calista. Ia kemudian bertanya "Apa kita perlu menjalin hubungan kerjasama dengan Kesultanan Kashafa, Yang Mulia?"
Calista hanya melirik pada Dalvin. Ia kemudian berbalik memunggungi Dalvin seraya berkata "Suatu saat akan terjadi perang besar. Kita perlu dukungan dari dunia luar untuk memenangkan peperangan itu, bukan hanya dari Imperium Hellenocitus."