Your Majesty

Your Majesty
Chapter 22



Semua orang di kota Saphile berbondong-bondong keluar dari tempat persembunyian mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Beberapa diantara mereka ada yang menyaksikannya dari atas tembok kota, termasuk Alice yang penasaran.


Tentu kejadian itu begitu mengherankan bagi mereka semua. Bagaimana tidak, sejak awal Pangeran Harith pemisahan kota Saphile dengan Kerajaan Voheshia, pasukan dari Kerajaan Voheshia segera mengepung kota Saphile dan memutus akses mereka ke dunia luar. Namun pada hari ini, mereka semua menyaksikan dengan mata kepala sendiri hampir seluruh pasukan yang ditempatkan di perbatasan kota Saphile ditarik mundur, membuat mereka menjadi heran.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Harith sendiri yang baru saja keluar bergumam saat melihat pemandangan yang ada di depannya.


Alice menoleh pada suaminya itu. Ia lantas menjawab "Aku tak tahu apa yang terjadi di Kerajaan sana, tapi aku yakin apa pun itu pasti bukan lah sesuatu yang baik."


"Ini sudah saatnya, Harith. Saatnya kita tunjukkan pada dunia luar akan keberadaan kita. Kita tak bisa selalu hanya berada di balik bayang-bayang Kerajaan Voheshia sampai akhir. Tahta itu milikmu. Hanya karena kau bukan putra dari Permaisuri bukan berarti kau tak layak untuk duduk di kursi tahta." sambung Alice.


Raut wajah Harith tampak tak setuju dengan ucapan dari istrinya itu. Ia masih meragukan dirinya meski ia melihat kesempatan itu ada di depan mata. Kesempatan untuk membuktikan dirinya bahwa ia mampu untuk menjadi seorang Raja. Namun ia masih tak yakin, ia menggeleng seraya berkata "Kita masih memerlukan banyak hal agar kota Saphile bisa berdiri mandiri."


"Aku tahu yang kau khawatirkan." Alice menepuk bahu Harith yang tengah berdiri di sampingnya itu. Ia tak mengalihkan pandangannya ke depan saat ia berkata "Satu-satunya kelompok yang berani menjual barang-barang yang diperdagangkan di pasar gelap."


"The Priestess," gumam Harith. Ia langsung teringat akan kelompok itu dan seseorang yang berkaitan dengan kelompok itu, Dalvin.


Alice menoleh pada Harith sembari tersenyum. Ia kemudian berkata "Akan aku suruh William untuk membuat janji temu dengan Dalvin."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maafkan saya, Yang Mulia." Duke Angloska menundukkan wajahnya tanpa berani sedikit pun melayangkan pandangannya pada Raja William yang saat itu tengah diliputi dengan amarah.


Tentu saja Raja William marah saat paginya yang tenang diusik dengan kabar buruk yang dibawakan oleh Duke Angloska. Sang Raja tengah disibukkan dengan invasi Kerajaan untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Lozarayas, namun alih-alih tenang menunggu Sang Raja pulang, para Pangeran yang tinggal di Istana justru sibuk berebut posisi sebagai pewaris tahta sampai-sampai putra tertua dari Raja William ikut terbunuh dalam pertikaian itu.


Amarah Sang Raja bahkan tak dapat diluapkan dengan kata-katanya. Namun di tengah suasana yang canggung itu, Marchioness Malette datang di saat yang tidak tepat.


Wanita itu segera menunduk untuk Sang Raja lalu ia berkata "Pasukan Kerajaan Voheshia yang dipimpin langsung oleh Raja Edgar akan segera tiba di kota Saradokh, Yang Mulia. Saya sarankan Yang Mulia untuk segera meninggalkan kota Valche demi keselamatan Yang Mulia."


"Baiklah, kalian boleh pergi." Duke Angloska bersama dengan Marchioness Malette lantas menunduk pada Sang Raja sebelum akhirnya mereka mundur dan keluar dari ruangan.


Sang Raja pun menjatuhkan dirinya di atas kursi sambil merenungkan tentang apa yang terjadi saat itu. Hanya ada satu jalan bagi Sang Raja untuk keluar dari situasinya, yaitu menarik mundur pasukannya kembali ke ibukota Kerajaan sembari ia menyelesaikan masalah yang terjadi di antara keluarga Kerajaan. Sang Raja tak boleh memaksakan diri untuk tetap tinggal di kota Valche saat pikirannya melayang pada keluarga Kerajaan sementara tubuhnya bertempur melawan pasukan dari Kerajaan Voheshia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disaat Calista sedang terpaku pada pandangannya, ia merasa sepasang lengan melingkar pada pinggangnya. Calista yang tahu pemilik lengan itu lantas menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya yang berdiri di belakangnya itu seraya berkata "Aku tahu kau pasti akan menyusulku kemari."


"Kenapa kau begitu yakin?" Edgar sendiri terkekeh saat mendengar perkataan dari istrinya itu. Dekapannya pada tubuh Calista kian mengerat membuat Calista terpejam nyaman dalam pelukannya. Tak dapat dipungkiri, Edgar memang merindukan kehadiran Calista di sisinya.


"Aku sangat yakin, karena kau mencintaiku." jawaban yang keluar dari mulut Calista berhasil membuat senyuman Edgar mengembang pada wajahnya.


"Kau lihat itu, Edgar?" Calista menunjukkan jarinya ke bawah, membuat Edgar lantas melayangkan pandangannya searah dengan jari Calista menunjuk. "Kota Valche sebentar lagi akan dikosongkan. Pada akhirnya Voheshia tak akan pernah kehilangan sedikit pun wilayahnya, kecuali kota Saphile."


"Kota Saphile?" Edgar beralih menatap wajah istrinya itu dengan kebingungan.


Sementara itu, Calista mengangguk kecil lalu ia menjawab "Jika Pangeran Harith tetap tunduk di bawah tahta Kerajaan Voheshia, pengkhianatan yang dilakukan olehnya akan jauh lebih besar. Itu bisa mengancam kekuasaanmu. Sebaiknya kita lihat sejauh mana ia bergerak saat kita melepaskan kota Saphile."


"Aku rasa kau benar." Edgar mengangguk setuju dengan ucapan Calista.


"Edgar," pria itu kembali menoleh saat Calista melepaskan dekapannya pada tubuh Calista.


Ia melihat Calista dengan tatapannya yang bertanya-tanya saat istrinya itu mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya lalu menunjukkan surat itu kepadanya.


Sementara itu, Calista melempar senyuman pada Edgar saat menunjukkan surat itu seraya berkata "Aku harus kembali ke Kerajaan Hellenocitus. Ayahku akan turun tahta dan aku akan segera menggantikannya menjadi Ratu Hellenocitus."


"Benarkah?" secercah senyuman juga ikut mengembang pada sudut bibir Edgar saat mendengar kabar gembira yang dibawakan oleh istrinya itu. "Sebentar lagi kau akan menjadi Ratu. Kau pasti sangat senang."


"Tentu!" Calista mengangguk semangat menanggapi perkataan Edgar. "Menjadi Ratu Kerajaan Hellen memang sudah menjadi impianku sejak kecil. Hanya saja para Dewan Kerajaan sialan itu selalu membujuk ayahku agar tak menyerahkan tahta padaku."


"Tapi kini kau sudah menang, Calista." ucap Edgar sembari mengusak surai coklat gelap milik Calista. "Tak akan ada yang menghalangimu lagi."


Calista mengangguk kecil. Pertikaiannya dengan Dewan Kerajaan Hellenocitus telah usai. Kini yang harus ia fokuskan hanya lah cara untuk mempertahankan tahtanya di Kerajaan Hellenocitus dan juga rencananya dalam upaya pengambil-alihan Kerajaan Lozarayas. Tak lama kemudian Calista berkata "Aku perlu kembali untuk mengambil sumpah Ratu."


"Kau boleh kembali, Calista." setelah mengusak surai milik Calista, Edgar pun kembali menarik tubuh Calista ke dalam pelukannya. "Aku akan selalu menunggumu di sini."