
"Yang Mulia," Margareth dan Daniel yang tengah duduk menunggu Edgar berdiri saat pria itu masuk ke dalam ruang makan Istana. Alih-alih menunduk, Margareth justru menatap pada balutan perban yang menutupi pelipis Edgar.
Mereka berdua kembali duduk saat Edgar sampai di tempat duduknya. Margareth mengangguk pada pelayan yang berdiri di pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur Istana, dan tak lama kemudian hidangan pembuka mulai berdatangan memenuhi meja makan.
Setelah semua hidangan pembuka tersaji, Margareth lantas mengambil sebuah teko dan menuangkan air ke dalam gelas milik Edgar. Sembari menuangkan airnya, Margareth pun berkata "Yang Mulia terlihat sedang tidak sehat. Sebaiknya Yang Mulia beristirahat saja hari ini. Biar urusan Kerajaan Daniel yang mengaturnya untuk Yang Mulia."
"Tak perlu." Edgar dengan sengaja mengacuhkan perhatian yang diberikan oleh Margareth untuknya. Manik matanya terfokuskan pada gulungan daun selada yang ada di atas piringnya sembari Edgar sesekali menyuapkannya ke dalam mulutnya. "Aku bukan sedang sakit berat. Aku masih bisa mengurus semuanya sendiri."
"Edgar memang masih tak memerlukan bantuan dari Daniel." seluruh atensi mendadak tertuju pada pemilik suara lantang itu. Dengan langkah kakinya yang panjang, Calista menghampiri Edgar diiringi oleh Dalvin yang membawakan sebotol wine di tangannya.
"Selamat pagi, suamiku." sebelum terduduk di sisi kanan Edgar, Calista terlebih dahulu mengecup pipi suaminya itu. Di tangannya, Calista memegang sebuah bungkusan dan ia kemudian memberikannya pada Edgar. "Kau melupakan obatmu."
"Terimakasih, sayang." Calista hanya tersenyum saat Edgar mengambil bungkusan yang berisi obat milik Edgar darinya.
Sementara itu, pria yang berdiri di samping Calista menuangkan wine pada gelas Calista. Setelah gelasnya terisi, Calista pun mengangkatnya dengan anggun, mencerminkan kepribadiannya yang seorang bangsawan. Dihirupnya aroma wine itu dalam-dalam dan kemudian ia menyesapnya sedikit demi sedikit.
Lirikan matanya saat itu tertuju pada Daniel yang menatapnya dengan penuh keheranan. Calista pun terkekeh setelah ia meletakkan kembali gelas wine-nya di atas meja. Ia kemudian berkata "Tak perlu seperti itu menatapku. Semua orang yang sudah lama tinggal bersamaku di sini tahu aku tak akan makan bersama keluarga Kerajaan."
Mengetahui bahwa Calista menyadari tatapannya lantas membuat Daniel merasa malu. Ia mengalihkan pandangannya dari Calista dan berusaha menampilkan raut wajahnya sealami mungkin.
"Dalvin," Calista kemudian menoleh pada Dalvin yang terlihat sedang berusaha menahan tawanya. Ekspresinya kembali memudar saat Calista memanggil namanya. Calista lalu mengangguk kecil padanya.
Dalvin yang mengerti dengan maksud dari Calista itu lantas berbalik. Ia kemudian berseru "Yang Mulia Raja dan keluarga Kerajaan ingin ditinggalkan untuk sementara waktu. Silahkan bagi yang tidak berkepentingan dimohon untuk keluar dengan tenang."
Pelayan-pelayan yang ada di sana berbondong-bondong keluar meninggalkan ruang makan. Namun melihat para pengawal Istana yang masih berdiri di tempatnya membuat Dalvin merasa kesal. Ia pun mengambil sebuah garpu di atas meja makan lalu mengetukkannya dengan keras sehingga mendapatkan antensi dari para pengawal Istana.
Dalvin lantas mengayunkan wajahnya mengisyaratkan agar pengawal-pengawal itu untuk pergi dari sana. Setelah ruang makan menjadi sepi, Dalvin kembali berbalik pada Calista dan dengan menyunggingkan senyumannya, ia berkata "Semuanya sudah beres, Yang Mulia. Silahkan Yang Mulia lanjutan."
"Terimakasih." ucap Calista sembari ia membalas senyuman Dalvin padanya.
Pandangannya kini kembali beralih pada kedua orang yang duduk di seberangnya. Ia mengambil sebilah pisau makan yang ada di depannya lalu ia melayangkannya di tangannya. Senyuman yang terukir pada wajah Calista membuat Margareth dan Daniel merasa tak nyaman. Ditambah lagi, Calista dengan gampangnya memainkan pisau tajam di tangannya membuat mereka berdua dibuat gugup olehnya.
"Aku juga memiliki bekas luka." Calista kemudian membuka syal yang membalut lehernya sehingga menampilkan goresan kuku pada kulit lehernya yang pucat.
Ia kembali mengikat syalnya lalu ia berkata "Kalian tahu, pertikaianku dengan Edgar hanya disebabkan oleh satu masalah kecil, yaitu kalian. Edgar tidak mengharapkan kehadiran kalian, apalagi Daniel, di keluarga Kerajaan. Tapi prioritasku saat ini bukanlah apa yang suamiku inginkan, melainkan apa yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap keluarga Kerajaan."
"Sejak penggulingan Sang Ratu dari tahtanya, kepercayaan rakyat terhadap keluarga Kerajaan menurun. Jadi untuk mengembalikannya, aku melakukan segala cara sekuat tenagaku. Maka dari itu, kalian sebaiknya tidak mengulangi tindakan kalian yang seperti tadi. Jangan pernah ganggu Edgar." Calista menarik nafasnya dalam-dalam setelah ia berkata pada Margareth dan Daniel.
Ia kemudian beranjak bangun dan berbalik pada Edgar. "Terimakasih atas undangan sarapan paginya, Edgar. Siang nanti datanglah ke Istana bagian barat, aku punya kabar gembira untukmu." ucap Calista sembari mengukirkan sebuah senyuman untuk suaminya itu.
Edgar lantas meraih tangan Calista dan dengan lembut ia mengusapnya lalu mengecup punggung tangannya. "Hati-hati di jalan, istriku."
"Terimakasih." Calista lantas berbalik. Ia berjalan keluar dari ruang makan diikuti oleh Dalvin.
Sementara itu, Margareth hanya bisa menatap kesal pada punggung wanita yang sudah menjadi musuhnya itu sejak ia berada di Istana. Tanpa sadar Margareth mencengkram erat kedua pahanya seraya bergumam "Dasar wanita pembunuh!"
"Apa katamu?" Edgar yang tak sengaja mendengar gumaman dari selirnya itu lantas menjadi kesal.
Margareth yang terkejut pun kemudian menoleh pada Edgar. Ia melirik sekilas pada Daniel sementara putranya itu kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam saku pakaiannya. Margareth pun berkata "Kau sebaiknya lihat saja sendiri. Kau tak akan percaya jika aku ceritakan."
Pandangan Edgar tertuju pada foto-foto yang berada di tangan Daniel. Setelah Daniel memberikan semua foto itu padanya, Edgar pun kemudian memperhatikannya dengan seksama.
Awalnya ia tak menyadari ada yang aneh dari foto-foto itu. Itu hanya foto biasa yang diambil dari berbagai tempat di sudut kota Calasandra pada waktu yang berbeda. Namun kini perhatiannya tertuju pada selembar foto terakhir yang belum dilihat olehnya.
Pada foto itu, Edgar bisa melihat dengan jelas sesosok wanita yang tengah tersenyum diantara rintikan hujan. Sorot mata wanita itu tertuju pada serpihan kereta kuda yang berada di tengah jalan. Wanita itu terlihat menatap dengan senang pada kereta kuda yang baru saja mengalami kecelakaan.
Melihat sosok wanita itu lantas membuat Edgar kembali memeriksa foto-foto lainnya. Ia baru menyadari bahwa wanita itu ada di setiap tempat yang ada pada foto itu.
Namun Edgar kembali menyadari satu hal. Ia melihat pada foto dimana wanita yang ada di dalam foto itu tengah berada di sebuah ruangan. Namun bukan ruangan itu yang menjadi perhatian Edgar, melainkan sebuah ukiran yang berbentuk seekor kucing yang berada di tengah ruangan itu lah yang menarik perhatiannya. "Calista adalah The Priestess?"