Your Majesty

Your Majesty
Chapter 26



Matahari hendak menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Sementara itu, di taman Istana, para istri dari anggota Dewan Kerajaan berkumpul di sana. Raut wajah mereka yang hadir di sana tampak gelisah, seolah mereka menghadapi sesuatu yang benar-benar serius.


"Lord Havaar dijatuhi hukuman mati oleh Permaisuri Calista." Archduchess Ardarel terlihat mengayunkan cangkirnya dengan tawa sinis mengiringinya. "Sepertinya Voheshia benar-benar akan runtuh. Permaisuri seharusnya tak memiliki hak untuk terlibat dalam urusan pemerintahan Kerajaan."


"Archduchess Ardarel benar!" Duchess Nathlis setuju dengan ucapan yang dilontarkan oleh Archduchess Ardarel. Ia juga merasa kesal saat mendengar kabar yang beredar di kalangan Istana. "Bagaimana Permaisuri bisa mengesahkan keputusan itu sedangkan ia tak memiliki hak untuk mencampuri urusan Kerajaan?"


"Bukankah seharusnya sejak awal kita tak memihak padanya?" Duchess Zanazar justru menyalahkan Archduchess Ardarel atas semua yang sudah terjadi. Lirikannya yang tajam menatap pada wanita yang duduk di ujung meja. Meski pun ditatap seperti itu, Archduchess Ardarel tak menghiraukannya.


Tetapi Archduchess Ardarel peka dengan sindiran yang dilayangkan untuknya itu. Wanita itu lantas berkata "Tak ada baiknya kita saling menyalahkan saat ini. Kita tak boleh terpecah jika ingin mengalahkan Calista."


"Archduchess Ardarel ada benarnya." ucap Duchess Nathlis. "Aku tak tahu akan segila apa Calista nanti, tapi memang sebaiknya kita saling percaya untuk sekarang."


Duchess Zanazar tanpa sadar mendecih, membuat Duchess Zanazar dan Archduchess Ardarel menoleh padanya. Ia tak menanggapi kedua wanita yang tengah menatap sengit padanya itu. Duchess Zanazar justru hanya memainkan jarinya pada tepian cangkir seraya bergumam "Calista bahkan membuat Lozarayas bertekuk lutut pada Hellenocitus. Bagaimana bisa seseorang sepertinya melakukan hal itu? Apa karena dia anggota The Priestess?"


"Anggota?" Archduchess Ardarel terkekeh pelan ketika mendengar celotehan Duchess Zanazar. Wanita itu menggeleng pada Duchess Zanazar seraya berkata "Calista sendiri lah yang memimpin The Priestess. Lord Havaar yang mengatakannya padaku."


"Dia bisa mendapatkan Kerajaan Lozarayas dengan bantuan dari Marchioness Malette." sambung Archduchess Ardarel. "Dia bahkan memanipulasi para bangsawan agar menyatakan mosi tidak percaya pada Raja William dan memaksanya untuk turun tahta. Wanita itu benar-benar seperti ular berbisa."


"Jadi, Lord Havaar dijatuhi hukuman mati karena ia membocorkan rahasia The Priestess karena ketika?" Duchess Zanazar yang penasaran lantas bertanya pada Archduchess Ardarel.


"Sepertinya begitu." ketiga wanita itu tampak terkejut saat mendengar suara yang berada tak jauh dari tempat mereka berada. Mata mereka terbelalak saat melihat Calista berjalan mendekat. Calista melempar senyuman sesaat lalu ia berkata "Setiap pengkhianat harus dihukum mati. Benar begitu bukan, Margareth?"


"Kau,!" Archduchess Ardarel tanpa sadar mengeraskan rahangnya, sementara Calista yang berdiri di seberangnya menyeringai padanya. "Saya masih menjadi istri Archduke Ardarel, Yang Mulia."


"Aku tahu itu." ucap Calista dengan wajahnya yang berpaling dari mereka bertiga. Tawa lirih terdengar keluar dari mulut Calista, membuat Archduchess Ardarel semakin dibuat kesal olehnya.


Melihat hal itu, Calista lantas kembali berkata "Kalian juga harus menyebut Yang Mulia saat ingin mengucapkan namaku. Bukankah memang seperti itu protokol keluarga Kerajaan, Nyonya-nyonya sekalian?"


"Maafkan kami atas kelancangan kami, Yang Mulia." ucap Duchess Zanazar dan Duchess Nathlis secara bersamaan dengan wajah mereka yang tertunduk.


"Tidak juga, berkat benda ini." kedua mata Archduchess Ardarel membulat sempurna saat ia melihat Calista mengeluarkan Stempel Kerajaan dari balik pakaiannya. Sementara itu, Calista kembali menyeringai pada Archduchess Ardarel seraya berkata "Aku tak tahu kalau aku harus berterimakasih pada Dewan Kerajaan atas benda ini. Benda ini benar-benar berguna bagiku, Margareth."


"Stempel Kerajaan adalah barang penting milik Dewan Kerajaan, Yang Mulia!" Archduchess Ardarel yang emosinya sudah tersulut tanpa sadar meninggikan suaranya hingga terdengar seolah membentak Calista.


"Milik keluarga Dominique, lebih tepatnya." bantahan yang dilontarkan oleh Calista berhasil membuat Archduchess Ardarel bungkam seribu bahasa. Calista tersenyum miring saat ia memasukkan kembali benda itu ke dalam saku pakaiannya lalu ia berkata "Aku tahu Dewan Kerajaan berkhianat dan menggulingkan Sang Ratu lalu menggantikannya dengan seseorang dari keluarga Dominique. Jangan bodohi aku, Margareth. Aku tahu semua kebusukan kalian."


Untuk sesaat, Calista menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kemudian menatap Duchess Nathlis dan Duchess Zanazar secara bergantian lalu ia pun berkata "Kalian berdua, keluarlah."


"Baik, Yang Mulia." kedua wanita itu mengangguk bersamaan lalu mereka berdua pun beranjak bangun dan pergi meninggalkan Calista bersama dengan Archduchess Ardarel di sana.


Calista hanya melirik sekilas saat Duchess Zanazar dan Duchess Nathlis pergi. Ia kemudian berjalan mendekati Archduchess Ardarel dan saat ia berdiri di samping Archduchess Ardarel, ia mengeluarkan sepucuk surat lalu memberikannya pada Archduchess Ardarel seraya ia berkata "Kau menyuruh Lord Havaar menyembunyikan surat dari Edgar untukku. Tapi aku menyampaikan surat dari orang tuamu untukmu."


Saat Archduchess Ardarel hendak mengambil surat itu dari tangan Calista, Calista terlebih dahulu menarik kembali surat itu sehingga Archduchess Ardarel menoleh padanya. "Aku Maharani Hellenocitus-Lozarayas, Margareth. Bukan pelayan, apalagi budak milikmu."


Archduchess Ardarel langsung menyadari kesalahannya dan ia pun segera berdiri. Ia menundukkan wajahnya seraya berkata "Maafkan saya, Yang Mulia."


Sementara itu, Calista menghela nafasnya kasar dan kembali memberikan surat itu pada Archduchess Ardarel. Ia membiarkan Archduchess Ardarel membaca surat itu sampai selesai lalu ia pun berkata "Orang tuamu berkata Archduke Ardarel telah tiada. Sesuai hukum Kerajaan, kau tak bisa memakai gelar kebangsawananmu lagi, tapi putramu akan dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Kerajaan yang selanjutnya."


Tanpa sadar, Archduchess Ardarel meremas sudut kertas yang ada ditangannya itu hingga lusuh. Calista yang tak sengaja menangkap pemandangan itu lantas berkata "Aku tahu kau kesal. Kau tak bisa menemani suamimu diakhir hidupnya. Tapi di sini, putramu akan menjadi Ketua Dewan Kerajaan. Aku ucapkan selamat padamu, Margareth. Tapi berhati-hatilah. Aku memiliki The Priestess, seluruh mata dan telinga di Istana mengawasimu."


Setelah itu, Calista kemudian berjalan meninggalkan Archduchess Ardarel yang masih menahan emosinya. Saat Calista sudah berada cukup jauh dari tempat Archduchess Ardarel berada, seseorang yang berdiri di samping lampu taman berjalan mengekor di belakang Calista.


"Ancaman yang disampaikan oleh Yang Mulia sudah cukup untuk mengintimidasi mereka, Yang Mulia." bisik Dalvin dari belakang Calista. "Dengan begitu mereka tak akan lagi mengganggu rencana Yang Mulia."


"Tidak juga," jawab Calista. "Mereka ingin melengserkanku dari posisiku sebagai Permaisuri. Mereka akan terus mengacau sampai keinginan mereka terwujud."


"Maka dari itu," Calista secara tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Dalvin yang berjalan mengiringinya terkejut dan hampir menabrak wanita itu. Calista menoleh pada Dalvin lalu ia berkata "Cari tahu tentang keluarga Darrel untukku."