Your Majesty

Your Majesty
Chapter 23



"Selamat, Yang Mulia." Albertus yang baru saja turun tahta menyalami Calista sambil mengecup punggung tangannya dalam pesta yang diadakan oleh Kerajaan Hellenocitus pada malam itu. Ia tersenyum bangga melihat putri semata wayangnya yang baru saja disumpah sebagai Ratu. "Terakhir kau tinggal di sini, kau masih menjadi gadis yang suka merengek. Dan kini kau datang sebagai Ratu."


"Terimakasih, ayah." Calista sendiri tersipu saat mendapat penghormatan itu dari ayahnya sendiri. Namun ia juga bangga mengingat mahkota yang bertengger angkuh di atas kepalanya kini menegaskan bahwa ia lah Ratu dari Kerajaan Hellenocitus, penerus dari Raja Albertus.


Sang ayah menuntun Calista untuk menyapa para tamu undangan yang hadir di Istana Kerajaan. Dari atas sana, Calista dapat melihat para bangsawan dari seluruh penjuru Kerajaan berkumpul dalam aula Istana dan menari, bernyanyi, serta bersenang-senang dalam pesta yang meriah itu. Calista juga tak segan untuk melambaikan tangannya pada para tamu undangan yang hadir di bawah sana.


Di belakang Calista, sesosok pria berjalan menghampiri Sang Ratu baru itu dan diikuti oleh beberapa orang pelayan yang mengekor di belakangnya. Dalvin, pria itu menunduk sejenak lalu memanggil Calista. "Yang Mulia,"


Calista berbalik, ia mendapati pelayan-pelayan yang mengikuti Dalvin membawa beberapa kotak beludru hitam sehingga membuatnya penasaran. Biasanya, sebagai ucapan selamat dari para bangsawan, mereka hanya akan membawakan sekotak hadiah dan akan langsung bertemu dengan Sang Ratu untuk menyatakan sumpah setianya pada Sang Ratu. Karena tak melihat seorang pun bangsawan yang mengiriminya hadiah-hadiah itu, Calista menyimpulkan bahwa hadiah itu tak berasal dari bangsawan Kerajaan Hellenocitus.


Dalvin melihat raut wajah Calista yang tampak kebingungan. Ia membungkuk sembari menunjukkan hadiah-hadiah itu untuk dibukakan kotaknya lalu ia berkata "Dari Yang Mulia Raja Edgar, Yang Mulia."


"Aah, Edgar." secercah senyuman terukir pada wajah pucat Calista saat mendengar nama suaminya disebutkan oleh Dalvin. Senyumannya semakin mengembang saat ia melihat pada isi kotak-kotak beludru hitam itu yang tak lain adalah perhiasan berlian.


Namun diantara perhiasan-perhiasan itu tak ada yang menarik perhatian Calista kecuali satu, sebuah kalung dengan bandul berlian hitam yang diukir bentuknya menyerupai seekor ular. Ia sangat jarang menemukan perhiasan yang seperti itu disepanjang hidupnya. Calista lantas mengambil kalung itu dan memakaikannya di lehernya seraya bertanya "Bagaimana penampilanku?"


"Sangat cantik." Calista menoleh ke arah tangga pada sosok pria yang baru saja menaiki anak tangga itu dan berjalan ke arahnya. Edgar yang baru saja datang, bertepuk tangan saat melihat penampilan istrinya itu. Ia mengulurkan tangannya pada Calista, dan dengan sedikit membungkuk ia meraih tangan Calista lalu mengecup punggung tangannya. "Yang Mulia,"


Edgar kembali berdiri sedangkan Calista langsung menarik tubuh Edgar ke dalam pelukannya. Hatinya begitu tersentuh dengan semua pemberian Edgar pada malam itu. Calista merasa malam itu adalah saat-saat paling membahagiakan dalam seumur hidupnya.


"Masih ada satu lagi yang belum aku tunjukkan." saat Edgar melepas pelukannya pada Calista, ia menunjuk pada seorang pelayan yang sudah mengikutinya tadi.


Calista sedikit terkejut saat melihat sesuatu yang dibawakan oleh pelayan itu. Sebuah sangkar yang didalamnya ada seekor burung hantu berwarna putih dengan kedua matanya yang berwarna kuning terang. Pandangannya lalu beralih pada Edgar sementara Edgar berkata "Sekarang Samantha memiliki teman."


Albertus yang sedari tadi berdiri di dekat sana pun berkata pada Edgar "Sepertinya kau sangat mengerti akan ketertarikan Calista pada binatang."


"Ya, Yang Mulia." jawab Edgar sembari mengangguk. "Calista adalah istri saya, jadi saya berkewajiban untuk mengetahui apa yang disenangi dan apa yang tidak disenangi olehnya."


Albertus terkekeh saat mendengar jawaban dari Edgar. Sementara itu, Calista tampak sedang merogoh saku pakaiannya dan mengambil secarik kertas dari dalamnya lalu memberikannya pada Albertus.


"Apa ini?" Albertus terlihat penasaran saat ia menerima secarik kertas itu dari putrinya.


"Ah, Delavour Castle!" Albertus langsung teringat pada kastil yang terkenal seantero Kerajaan Hellenocitus itu. "Kastil itu terkenal dengan pemandangannya yang langsung mengarah ke laut yang indah. Terimakasih, Calista. Ayah sangat suka hadiah darimu."


Ditengah pembicaraan mereka bertiga, Dalvin yang baru saja bertemu dengan seseorang pun berjalan menghampiri Calista dan berbisik di belakangnya "Ada sesuatu yang harus disampaikan, Yang Mulia."


Calista melirik sekilas pada kedua pria yang sedang saling berbincang di hadapannya itu lalu setelah ia berpamitan untuk pergi sebentar, ia pun menjauh dari kerumunan orang-orang dan menuju sudut aula diikuti oleh Dalvin di belakangnya. Setelah itu, lantas Calista bertanya "Apa yang perlu kau sampaikan, Dalvin?"


Dalvin mengeluarkan sepucuk surat yang diberikan oleh orang yang ditemuinya tadi lalu ia pun menyerahkannya pada Calista seraya berkata "Rencana pengambil-alihan Kerajaan Lozarayas telah siap, Yang Mulia. Kepercayaan diantara keluarga Kerajaan Lozarayas berhasil dihancurkan dan kini para bangsawan menanti titah dari Yang Mulia."


"Lakukanlah." Calista segera menyimpan surat itu ke dalam saku pakaiannya lalu berjalan meninggalkan Dalvin di sudut aula.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di seberang sana, tepatnya di Istana Kerajaan Lozarayas, para bangsawan dari seluruh penjuru Kerajaan datang ke Istana memenuhi panggilan Duke Angloska. Mereka berkumpul dalam ruang pertemuan di Istana dan menanti kehadiran Sang Raja di sana.


Mereka mengetahui apa yang akan mereka lakukan di sana, karena sebagian dari mereka terlibat dalam rencana besar itu. Hanya ada satu yang tak mengetahuinya, yaitu keluarga Kerajaan itu sendiri.


"Yang Mulia Raja telah tiba!" para bangsawan berdiri dari tempat duduk mereka menyambut Sang Raja di dalam ruangan.


Saat Sang Raja berada di tempat duduknya, ia langsung dikejutkan dengan secarik kertas yang ada di atas mejanya. Setelah membaca isi dari kertas itu, dengan nada yang tinggi Sang Raja bertanya "Apa maksud dari semua ini?!"


Duke Angloska yang memimpin pertemuan itu lantas menjawab "Yang Mulia Raja William dan keluarga Kerajaan dianggap tak mampu lagi untuk memegang kekuasaan atas Kerajaan Lozarayas. Dengan terbunuhnya Putra Mahkota dan kekalahan Yang Mulia Raja atas kota Valche, para bangsawan memutuskan untuk menyatakan mosi tidak percaya pada Yang Mulia Raja dan keluarga Kerajaan serta menuntut Yang Mulia Raja untuk turun dari tahta."


Semua orang yang ada di sana terdiam saat mendengar pernyataan dari Duke Angloska. Pernyataan itu juga membuat emosi Sang Raja semakin memuncak sehingga ia menggebrak meja dan mengejutkan seisi ruangan. Namun disaat yang bersamaan, pengawal-pengawal Kerajaan yang berada di depan ruangan langsung memasuki ruangan itu dan menodongkan senjata mereka pada Sang Raja.


Duke Angloska lalu kembali berkata "Yang Mulia Raja tak lagi memiliki kuasa di sini. Pergilah dengan damai bersama keluarga Yang Mulia dan tinggalkan urusan ini pada kami. Para bangsawan telah sepakat untuk menunjuk Marchioness Malette sebagai pengganti Yang Mulia, maka sebaiknya Yang Mulia tandatangani saja surat perjanjian itu."


Sang Raja tak memiliki pilihan lain melihat dua orang pengawal sudah menodongkan senjata mereka padanya. Dengan sangat terpaksa, Sang Raja mengambil pena bulu yang ada di atas mejanya itu lalu membubuhkan tanda tangannya pada surat perjanjian itu.


Hal itu disaksikan oleh seluruh bangsawan yang hadir di ruangan itu, termasuk Duke Angloska. Dalam batinnya, Duke Angloska berkata "Hidup Sang Ratu!"