
Di tengah ramainya jalanan kota Calasandra, seseorang memacu kudanya melesat hingga terhenti di depan kafetaria La Falcona. Wanita bertopeng perak itu turun dari kudanya dan sebelum ia memasuki kafetaria, ia terlebih dahulu mengawasi sekelilingnya untuk memastikan tak ada yang mengikutinya sampai di sana.
Gemerincing lonceng terdengar dari pintu kafetaria yang dibuka oleh wanita itu saat ia masuk. Saat itu, kafetaria sedang diramaikan oleh para pengunjung yang kebanyakan dari mereka ingin mengisi waktu santai mereka di kafetaria La Falcona.
Sesosok pelayan kafetaria segera menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Calista. Ia mengeluarkan sebuah lencana dari dalam jubahnya lalu ia menunjukkannya pada si pelayan.
"Yang Mulia," pelayan itu yang mengerti bahwa wanita yang berdiri di hadapannya ialah Calista lantas membungkuk sejenak. Ia lalu mengayunkan tangannya menunjuk pada tangga yang ada di dekat sana dan kemudian berkata "Lewat sini, Yang Mulia."
Calista pun berjalan mengekor di belakang pelayan itu dan menaiki anak tangga hingga mereka sampai di lantai atas. Pelayan itu berbalik, lalu ia menunjuk pada dua orang yang sedang terduduk di dekat jendela. "Silahkan, Yang Mulia."
"Terimakasih." ucap Calista. Pelayan itu mengangguk, lalu ia kembali turun ke lantai bawah.
Calista kemudian berjalan menghampiri dua orang itu dan saat kedua orang itu melihat Calista yang mendekati mereka, mereka pun berdiri dan menunduk pada Calista.
"Archduchess Malette, Archduke Angloska." Calista menatap kedua orang itu bergantian ia mengulurkan tangannya.
Marchioness Malette, yang kini sudah berganti menjadi Archduchess Malette lantas membalas uluran tangan Calista sementara Calista tersenyum padanya seraya berkata "Selamat atas pengangkatan kalian sebagai Archduke dan Archduchess Lozarayas."
"Terimakasih, Yang Mulia." jawab Archduchess Malette bersamaan dengan Archduke Angloska. "Silahkan duduk, Yang Mulia."
"Terimakasih." Calista mengembangkan senyumannya pada Archduchess Malette dan Archduke Angloska bergantian saat ia terduduk di seberang mereka berdua.
"Lozarayas akan dibagi menjadi dua." ucap Calista. "Akan ada Lozarayas Timur yang ada dibawah kuasa Archduchess Malette, dan Lozarayas Barat yang akan diperintah oleh Archduke Angloska. Kewajiban kalian adalah mengelola tempat itu dan bertanggung jawab langsung padaku, bukan pada Edgar."
"Ya, Yang Mulia." Archduchess Malette dan Archduke Angloska pun mengangguk dengan perlahan pada Calista.
"Hanya itu saja, Yang Mulia?" tanya Archduchess Malette beberapa saat kemudian. Wanita itu merasa janggal ketika Calista mengundang mereka berdua hanya untuk menyampaikan hal itu, padahal itu bisa disampaikan hanya melalui surat. Ia yakin ada maksud lain Calista mengundang mereka saat itu.
Di seberangnya, Calista mencondongkan tubuhnya dengan senyumannya yang tak memudar sedikit pun. "Daniel bukanlah anak dari Archduke Ardarel. Daniel adalah anak dari Margareth dan Edgar."
"Yang Mulia?" Archduke Angloska tampak terkejut saat mendengarnya. Ia yang terlihat ragu lantas bertanya "Apa Yang Mulia yakin dengan itu? Tak ada bukti kuat bahwa Daniel adalah putra dari Archduchess Ardarel dan Yang Mulia Raja."
Calista tertawa kecil saat menatap Archduke Angloska. Ia kemudian berkata "Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri. Margareth sendiri yang mengatakannya pada Edgar bahwa Daniel adalah anak kandungnya tepat di depan ruanganku."
Meski demikian, Archduke Angloska masih tetap ragu dengan ucapan Calista. Perkataan itu tentunya begitu mengejutkan baginya dan tak ada bukti yang menguatkannya sehingga Archduke Angloska masih belum mempercayainya. "Apa Yang Mulia sudah memastikannya lagi?"
"Apa yang akan Yang Mulia lakukan setelah ini?" Archduchess Malette menunjukkan reaksi yang berbeda dengan Archduke Angloska. Wanita itu justru terlihat percaya dengan Calista.
Sementara Calista melirik pada arloji di tangannya lalu ia pun berdiri. Ia mengarahkan pandangannya keluar seraya berkata "Akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi."
Namun sesaat kemudian, Archduchess Malette menyadari sesuatu. Pandangannya tak lepas dari tiga kereta kuda yang melintas di jalanan di depan kafetaria. Archduchess Malette kemudian bergumam "Bukankah itu kereta kuda milik keluarga Ardarel?"
"Kau benar." jawab Calista. Untuk kedua kalinya Calista memeriksa arlojinya.
"Satu....."
"Dua....."
"Tiga....." tepat pada hitungan Calista yang ke-tiga, dentuman keras terdengar memekakkan telinga sehingga banyak orang yang penasaran melihat keluar dari bangunan.
Calista sendiri tersenyum puas saat melihat asap hitam bercampur dengan gejolak api melahap ketiga kereta kuda milik keluarga Ardarel yang sedang melintas. "Aku sengaja mengundang mereka untuk datang ke Istana."
"Dan Yang Mulia menghabisi mereka sekaligus." celetuk Archduchess Malette.
"Aku tak perlu memberikan pengampunan pada mereka yang mengancamku, bukan?" raut wajah Calista menyeringai saat wanita itu kembali duduk.
"Tapi Yang Mulia memberi melepaskan Daniel dan Archduchess Ardarel." ucap Archduke Angloska. "Kenapa Yang Mulia melakukan itu?"
Calista menghela nafasnya untuk sesaat sembari ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja. Ia menatap pada wajah Archduke Angloska dengan sudut bibirnya yang terangkat seraya ia berkata "Edgar akan curiga jika Margareth dan Daniel kita singkirkan. Kita harus bermain bersih. Bukankah memang seperti itu prinsip The Priestess?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Butiran-butiran air mulai turun dari langit membasahi jalanan di kota Calasandra. Perlahan-lahan, suasana di kota itu menjadi lebih sepi seiring dengan terbenamnya sang mentari.
Calista juga baru saja keluar dari kafetaria yang saat itu sudah kosong tanpa pengunjung. Wanita itu membuka payung hitamnya dan berdiri di pinggir jalan sembari mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Sepertinya pelayannya tak akan datang untuk membawakan seekor kuda untuknya pulang ke Istana.
Kini pandangannya terhenti pada serpihan kereta kuda milik keluarga Ardarel yang masih tersisa di tengah jalan. Dari sana, apinya masih menyala kecil meski pun telah diguyur oleh rintikan hujan. Namun Calista dengan segera memalingkan wajahnya agar tak ada seorang pun yang curiga.
Merasa tak ada seorang pun pelayan yang akan datang untuk menjemputnya, Calista lantas melangkahkan kakinya di tepian jalan dengan harapan ia bisa menemukan kereta kuda yang dapat disewa untuknya pulang.
Sementara itu, dari jendela lantai atas kafetaria La Falcona, Archduchess Malette yang belum pulang dari sana tampak tengah menatap Calista yang berjalan menjauh dari kafetaria. Pada tangannya, ia memegang dan mengaduk cangkir teh sambil ia menghirup nafas dalam-dalam.
Kedua netra Archduchess Malette terpejam menikmati aroma yang menyeruak dari tanah bercampur dengan air hujan. Sesekali wanita itu menyesap tehnya. Perhatiannya juga tak sedikit pun beralih dari Calista yang kian lama kian menjauh.
Ditengah kesunyian ruangan lantai atas kafetaria, Archduchess Malette berkata pada dirinya sendiri "Entah apa yang akan terjadi nantinya. Semoga saat semuanya selesai, tak ada kesalahan yang perlu dimaafkan."