
Satu jam telah berlalu sementara Calista masih terduduk di depan cermin memandangi pantulan bayangan dirinya sendiri. Tubuhnya terbalut dengan gaun berwarna hitam dan pada lehernya, liontin pemberian Edgar mengalung dengan anggun.
Calista mengusap lembut bibirnya setelah ia meriasnya dengan warna gelap. Sementara itu di atas kepalanya, ia memakai tiara dengan sebuah berlian merah gelap di tengah yang menghiasi tiara itu.
Kedua manik matanya tak lama kemudian melirik sudut cermin. Dari pantulan cermin itu, terlihat seseorang dengan mantel hitamnya baru saja keluar dari pintu yang menghubungkan kamar Calista dan ruang gantinya.
"Kau sudah selesai berhias rupanya." Edgar tersenyum saat menghampiri Calista dan saat ia berdiri di belakang Calista, ia memeluknya sembari memandangi wajah istrinya itu dari bayangan cermin yang ada di depannya.
"Cantik." bisik Edgar tepat di samping telinga Calista.
Tak berselang lama, Edgar mengeluarkan sebuah syal dan memakaikannya pada Calista seraya berkata "Aku tahu kau akan melupakan ini. Hari ini cuacanya dingin, jadi sebaiknya kau memakai pakaian yang tertutup."
Edgar juga mengulurkan tangannya dan menuntun Calista berjalan keluar dari kamar. Selama perjalanan mereka dari Istana bagian barat menuju tempat kediaman Margareth, Edgar tak sedikit pun melepaskan genggamannya yang erat pada tangan Calista.
Saat mereka berdua mulai memasuki kediaman Margareth, tampak beberapa orang sudah berdatangan, salah satunya adalah Dalvin. Pria itu langsung mengekor di belakang Calista dan Edgar saat ia melihat kedatangan mereka berdua dan tak lupa, ia memberikan sebuket bunga mawar putih pada Calista.
Mereka berdua lantas memasuki sebuah ruangan yang hanya dibatasi oleh sehelai tirai berwarna hitam, sementara Dalvin menunggu mereka di luar ruangan.
Di dalam ruangan, Margareth terlihat sedang duduk termenung dengan matanya yang sembab lantas berdiri dan menunduk pada Edgar dan Calista saat mereka masuk. "Yang Mulia,"
"Aku turut berduka cita atas tragedi ini." ucap Calista sembari ia memberikan buket bunga mawar putih yang dibawanya tadi pada Margareth. "Keluarga Ardarel akan selalu dikenang atas jasa-jasanya melayani dan mengabdi pada Kerajaan. Semoga mereka beristirahat dengan tenang."
"Terimakasih, Yang Mulia." Margareth tampak lebih tenang saat ia menerima buket bunga pemberian Calista.
Beberapa saat kemudian, Dalvin masuk dan berbisik pada Calista. "Grand Duke Gedeon ada di sini, Yang Mulia."
Sementara itu, Calista hanya melirik sekilas pada Dalvin lalu ia beralih pada Edgar yang ada di sampingnya. "Grand Duke Gedeon berkunjung ke Istana. Aku harus menemuinya."
"Pergilah." ucap Edgar.
Calista pun mengangguk. Sebelum ia pergi, ia terlebih dahulu memeluk Margareth dan berpamitan dengannya.
Calista kemudian pergi meninggalkan kediaman Margareth ditemani dengan Dalvin yang berjalan mengiringinya.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di Istana bagian barat. Calista lantas segera menuju taman Istana dan mendapati Grand Duke Gedeon berada tak jauh darinya.
"Jangan panggil namaku di tempat umum, Calista." ucap Grand Duke Gedeon sembari mengusak surai coklat gelap milik Calista. "Ada banyak orang di sini. Kalau mereka tahu rahasia kita, semua rencana kita bisa gagal."
"Terserah," Calista lantas memalingkan wajahnya dari Grand Duke Gedeon.
Tawa kecil terdengar dari Grand Duke Gedeon saat ia melihat Calista yang merajuk padanya. "Aku tak tahu kalau adikku yang menjadi Ratu ini ternyata masih sama manjanya seperti dulu."
Calista kembali menatap pada wajah Grand Duke Gedeon. Senyuman lebar mengembang pada wajahnya sementara ia melepas pelukannya. Grand Duke Gedeon pun lantas meraih tangan Calista dan kemudian mengecup punggung tangannya seraya berkata "Dulu aku melindungimu sebagai bangsawan yang mengabdi pada keluarga Kerajaan. Tapi sekarang biarkan aku melindungimu sebagai kakak."
"Melindungiku?" Calista tertunduk dengan senyumannya yang tertahan. "Dengan cara menghabisi seluruh keluarga Ardarel?"
"Aku tahu kau dalang dibalik kecelakaan itu." sambung Calista. "Kau membayar pelayan keluarga Ardarel untuk memasang peledak di kereta kuda mereka, benar begitu bukan?"
Dalvin yang berada di belakang Calista terkejut saat mendengarnya. Memang sedari awal, kecelakaan yang dialami oleh keluarga Ardarel sudah janggal baginya, terlebih Dalvin sama sekali belum melakukan apa pun atas perintah Calista untuk menghabisi keluarga Ardarel.
Sementara itu, Grand Duke Gedeon menyeringai pada Calista sembari ia melipat kedua tangannya. "Kau memang benar-benar tak bisa dibohongi. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Margareth akan tetap menjadi selir Edgar dan Daniel menjadi Putra Mahkota Kerajaan." jawab Calista.
Raut wajah Grand Duke Gedeon seketika berubah saat mendengar jawaban dari Calista. Ia yang tak terima dengan jawaban iu lantas berkata "Bagaimana bisa Margareth menjadi selir Kerajaan sedangkan ia sudah pernah menikah sebelumnya?"
"Dewan Kerajaan," Calista melangkahkan kakinya mendekati semak mawar yang ada di pinggir taman sementara Grand Duke Gedeon mengikut di belakangnya. "Margareth masih memiliki pengaruh besar dalam Dewan Kerajaan. Ditambah lagi Daniel sekarang adalah ketua Dewan Kerajaan, bukankah dukungan terhadap mereka semakin besar?"
Grand Duke Gedeon terdiam untuk beberapa saat. Ia menjadi semakin resah setelah mendengar ucapan dari Calista. Selama beberapa saat, ia memutar otak untuk mencari cara untuk menyelesaikan masalah mereka. Lantas Grand Duke Gedeon berkata "Bagaimana kalau aku habisi saja Daniel dan ibunya itu? Posisimu bisa aman dan tak akan ada lagi yang mengganggumu."
"Aku rasa tidak." Calista menggeleng saat mendengar perkataan dari Grand Duke Gedeon. Wanita itu mulai meraih setangkai mawar yang menyembul diantara dedaunan lalu ia menariknya hingga tercabut tanpa mempedulikan jarinya yang terluka akibat duri dari tangkai mawar itu.
Calista menghirup dalam-dalam aroma bunga mawar yang dipetik olehnya lalu ia kembali berkata "Aku ingin tahu sejauh apa mereka bisa berbuat. Sebaiknya kita diam dan lihat apa yang akan terjadi nantinya."
"Calista," Grand Duke Gedeon menarik tubuh Calista hingga berbalik padanya. Ia meraih jari Calista yang terluka lalu ia menyobek kain pada pakaiannya dan kemudian mengikat bekas luka yang ada di jari Calista. Ia juga mengusap lembut punggung tangan Calista seraya ia berkata "Aku menghormati apa pun keputusanmu, Calista. Tapi kumohon, jangan lakukan hal yang bisa membahayakan keselamatanmu."
Sementara itu, Calista hanya terdiam sembari ia memetik mahkota bunga mawar yang ada di tangannya itu satu per satu. Helaian mahkota bunga berwarna merah cerah itu berjatuhan ke tanah sampai akhirnya hanya satu helai mahkota bunga yang tersisa pada bunga mawar itu. Calista pun kemudian mencabutnya seraya berkata "Merekalah yang akan terluka jika mereka berniat untuk menghancurkanku."