
"Yang Mulia Maharani Calista telah tiba!" para bangsawan yang hadir di ruang pertemuan di kastil Delavour berdiri saat wanita yang memakai jubah merah gelap itu memasuki ruangan.
Setibanya Calista di tempat duduknya, ia menatap pada para bangsawan yang ada di sana, termasuk kedua orang tuanya. Tampaknya yang hadir di ruangan itu tak hanya bangsawan dari Kerajaan Hellenocitus saja, tetapi diantara mereka juga ada yang merupakan perwakilan dari seluruh penjuru Imperium Hellenocitus. Ia lantas mempersilahkan para bangsawan untuk kembali duduk.
"Tuan-tuan bangsawan, aku berterimakasih atas kesediaan kalian memenuhi seruan panggilanku." Calista yang masih berdiri lantas membungkukkan tubuhnya sehingga membuat mereka yang ada di sana terheran-heran atas sikap Calista. "Aku tahu perjalanan kalian dari negeri yang jauh pasti sangat melelahkan. Bahkan kalian yang baru sampai harus dipanggil untuk menghadiri pertemuan di kastil Delavour. Aku meminta maaf atas ketidaknyamanannya. Tetapi memang ada yang harus aku sampaikan."
Pandangan Calista kini beralih pada Dalvin yang berdiri di sudut ruangan. Ia mengangguk, lantas Dalvin berjalan ke tengah ruangan itu dengan membawakan sebuah berkas di tangannya. Dalvin mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya lalu ia menunjukkan berkas yang dibawanya itu seraya berkata "Kehakiman Agung Kerajaan Voheshia telah mengajukan tuntutan atas keterlibatan Yang Mulia Maharani dengan organisasi terlarang, The Priestess. Ini adalah fitnah besar yang secara lancang ditunjukkan untuk Yang Mulia Maharani kita!"
"Maka dari itu aku ingin mengajukan permohonan untuk menceraikan Edgar, Raja Voheshia." selaan dari Calista membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan atensinya pada wanita itu.
"Permohonan itu tidak bisa dikabulkan, Yang Mulia." Dalvin dengan tegas menolak niat Calista. "Saya sebagai penasihat pribadi Yang Mulia Maharani, tidak menyetujui permohonan Yang Mulia."
Satu per satu bangsawan yang ada di sana setuju dengan ucapan Dalvin, termasuk Lady Mirana dan suaminya. Calista sebenarnya merasa geram saat melihat para bangsawan tak sejalan dengannya. Namun melihat Arthur Gedeon yang memilih untuk diam membuat Calista penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. "Menurutmu bagaimana, Grand Duke Gedeon?"
"Ya, Yang Mulia?" diamnya Arthur sebenarnya karena ia terlalu malas untuk ikut campur dalam urusan pernikahan Calista. Namun karena saat ini ia menjadi pusat perhatian di sana, dengan terpaksa ia menjawab pertanyaan Calista. "Mengapa Yang Mulia menginginkannya sedangkan Yang Mulia sedang mengandung anak dari Raja Edgar?"
Ekspresi wajah Calista yang mengharap jawaban dari Arthur seketika berubah saat pria itu alih-alih memberinya sebuah jawaban, namun Arthur justru menjawabnya dengan pertanyaan lain. Para bangsawan juga mulai merasa resah dalam situasi yang canggung itu. Setelah beberapa saat ruangan itu diliputi keheningan, akhirnya seorang bangsawan di sana memberanikan diri untuk angkat bicara. "Perceraian adalah aib bagi keluarga Kerajaan, Yang Mulia. Terlebih jika melihat pada fakta yang disembunyikan bahwa Yang Mulia sedang mengandung anak dari Raja Edgar tentunya akan menyulitkan Yang Mulia untuk mengajukan perceraian."
"Menyulitkan?" Calista mendecih dengan tatapannya yang sengit pada bangsawan yang bicara padanya itu. "Kau tahu apa yang menyulitkan untukku, Lord Calix?"
Calista lantas memalingkan wajahnya dari mereka semua. Namun belum lama Calista berpaling, wanita itu justru kini menggebrak meja yang ada di depannya sehingga membuat semua orang terdiam. Suasana hatinya saat itu benar-benar buruk sehingga membuatnya mudah tersulut emosi. "Kalian lah yang menyulitkanku! Kalian yang menjodohkanku dengan Edgar agar kalian bisa memperluas Imperium Hellenocitus! Seharusnya kalian sadar akan hal itu!"
Kini orang-orang tertunduk takut. Tak pernah mereka melihat Sang Maharani semarah itu di hadapan para bangsawan. Ini kali pertamanya Calista meluapkan seluruh perasaan yang tertahan dalam hatinya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah kereta kuda baru saja sampai di halaman Istana kediaman Calista di Kerajaan Voheshia. Seorang wanita turun dari kereta kuda itu ketika pintu dibukakan. Gaun ungu terangnya tergerai di atas tanah, menyapu rumput-rumput yang tumbuh di jalan yang ia lewati.
"Archduchess Malette," Margareth melempar senyuman hangat pada wanita yang baru saja masuk ke dalam Istana. Ia lantas mengulurkan tangannya pada wanita itu seraya berkata "Selamat datang di Istana bagian barat. Seandainya Calista ada di sini, pasti dia lah yang akan menyambut Anda, Archduchess Malette."
Archduchess Malette merasa senang saat ia mendapat sambutan hangat dari Selir Sang Raja itu. Ia mengedarkan pandangannya sesaat lalu ia berkata "Tampaknya Calista pergi dengan terburu-buru."
"Sepertinya memang begitu." Margareth tertawa lirih bersama dengan Archduchess Malette di sampingnya. Ia lantas mempersilahkan wanita itu untuk berjalan terlebih dahulu.
Di sepanjang lorong Istana, Archduchess Malette berdecak kagum saat melihat ke sekelilingnya. Dinding-dinding lorong itu dihiasi dengan berbagai ornamen patung yang dibuat langsung oleh para seniman terkenal dari seluruh penjuru Kerajaan. Bahkan pada langit-langit lorong, lukisan bergaya Baroque terlihat indah menghiasi Istana.
Archduchess Malette menyayangkan Istana seindah itu justru dimiliki oleh Calista yang ia tahu suatu saat nanti akan meninggalkan Istana itu. Namun semuanya sudah terjadi. Calista sudah pergi meninggalkan Kerajaan Voheshia dan tak akan mungkin kembali menempati Istana bagian barat.
Pintu kamar Calista dibuka lebar sesampainya mereka berdua di sana. Ini kali pertamanya Archduchess Malette menginjakkan kakinya di kamar milik Calista. Melihat isi kamarnya, membuat Archduchess Malette kembali terkagum-kagum.
Berbagai piringan hitam tertumpuk tinggi di dalam rak yang dipajang di dekat dinding ruang kamar. Salah satu piringan hitam itu masih ada yang terpasang pada gramaphone. Satu hal yang kini ia sadari, Calista adalah seorang penggila seni.
"Aku tahu Calista tak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya padamu." tatapan penuh kekaguman milik Archduchess Malette buyar saat Margareth menghampirinya. "Sekarang ceritakan padaku bagaimana bisa kau mendapatkan barang bukti dari semua kejahatan Calista?"
"Bagimu Calista seperti seorang Dewi, kan? Kelemahannya sangat sulit untuk dicari." tangan Archduchess Malette bergerak meraih sebuah piringan hitam dari dalam rak lalu mengambilnya. Ia melepas piringan hitam yang ada pada gramaphone lalu menggantikannya dengan piringan hitam yang baru. Archduchess Malette kemudian kembali menatap Margareth. "Lady Margareth, sepertinya kau tak benar-benar mengenal Permaisurimu. Tak ada apa pun yang begitu dipercayai oleh Calista melebihi dirinya sendiri selain The Priestess. Aku berani bertaruh, Calista pasti selalu mempercayai The Priestess tanpa sedikit pun menaruh curiga padanya."