
Siang itu terik matahari terasa sangat menyengat kulit. Meski begitu, orang-orang tetap berkumpul di alun-alun kota, menyaksikan apa yang sedang terjadi di sana.
Seorang wanita berdiri di depan podium dan menatap pada orang-orang yang mengelilinginya. Secarik kertas ia ambil dari dalam saku pakaiannya lalu ia membukanya dan meletakkannya di atas podium.
Sebelumnya, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia berseru di hadapan semua orang "Aku, Archduchess Joan Isabel Malette, Adipati Agung Kerajaan Lozarayas Timur, menyatakan bahwa Kerajaan Lozarayas Timur tidak lagi tunduk dibawah tahta Kekaisaran Hellenocitus-Lozarayas."
Tanpa Archduchess Malette sadari, dari kerumunan orang-orang yang mengelilinginya, ada seseorang yang telah mengincarnya sedari tadi. Pria itu memakai jubah biru gelap dengan sehelai kain yang menutupi separuh wajahnya. Di balik jubahnya itu, ia menyembunyikan sepucuk pistol yang sudah ia siapkan.
"Isabel!" pria itu berteriak, membuat dirinya kini menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang berada di dekatnya segera menjauh saat pria itu mengeluarkan pistol yang disembunyikan di balik jubahnya dan menodongkannya pada Archduchess Malette yang masih berdiri di depan podium.
Para pengawal Archduchess Malette langsung pasang badan saat melihat pria itu hendak menarik pelatuk pistolnya. Sementara pria itu yang sudah mengincar Archduchess Malette sejak tadi, tanpa pikir panjang ia langsung menembakkan pelurunya.
Salah seorang pengawal meloncat saat melihat pria itu menarik pelatuk pistolnya hingga akhirnya ia yang terkena peluru itu alih-alih Archduchess Malette. Pengawal-pengawal lainnya lantas menodongkan senapan mereka saat melihat seorang dari mereka tumbang akibat tembakan itu.
Tanpa mereka duga, ada kelompok lain yang bersama dengan pria itu. Mereka semua menodongkan senjata mereka pada para pengawal Archduchess Malette hingga akhirnya baku tembak diantara mereka tak dapat terhindarkan.
Suasana yang semula tenang menjadi sangat kacau. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri sementara peluru-peluru melayang di udara dan siap membunuh siapa saja yang tidak beruntung pada saat itu.
Archduchess Malette yang melihat suasana tak lagi sebagai mana mestinya hanya bisa mematung. Ia secara tak sadar meremas kertas yang ada di atas podium seraya bergumam "Apa lagi yang sebenarnya kau rencanakan, Calista?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Calista yang baru saja menghentikan kudanya lantas meraih tangan Dalvin yang berada di bawahnya. Saat ia turun dari kudanya, ia mendapati suasana dermaga saat itu sedang sangat ramai.
Orang-orang yang melihat kedatangannya di sana membungkuk padanya sementara Calista hanya mengangguk dan melambaikan tangannya sembari tersenyum menyapa mereka semua.
Saat Calista sedang berjalan-jalan dengan Dalvin, pandangannya terpaku pada sebuah kapal dagang yang cukup besar yang terparkir di dermaga itu. Sesosok pria tampak turun dari kapal itu bersama dengan awak kapal lainnya yang membawa beberapa gerobak dari dalamnya.
Calista yang mengenali sosok pria itu lantas menyapanya saat pria itu mendekat padanya. "Tuan Farabi! Kebetulan sekali kita bertemu di tempat ini."
"Yang Mulia," Farabi yang tengah mengobrol dengan salah satu awak kapalnya lantas menoleh dan menunduk saat Calista memanggilnya. "Kebetulan juga saya ingin membawakan semua ini untuk Yang Mulia."
Calista melirik pada gerobak-gerobak yang ditunjukkan oleh Farabi. "Rempah-rempah dari Kesultanan Kashafa memang yang terbaik, Tuan Farabi. Tapi kami tak tahu bagaimana cara kami untuk membalas kebaikan Sultan kalian."
"Kami juga berterimakasih, Yang Mulia." Farabi mengangguk dengan perlahan pada Calista. Ia lantas mengeluarkan sebuah gulungan surat lalu memberikannya pada Calista seraya berkata "Surat ini ditulis langsung oleh Sultan kami untuk Yang Mulia."
"Terimakasih." Calista lantas mengambil surat itu dari Farabi dan kemudian menitipkannya pada Dalvin.
Gerobak-gerobak yang berisikan rempah-rempah itu pun akhirnya diantarkan menuju gudang dermaga. Sementara itu, Calista kembali melanjutkan perjalanannya berkeliling dermaga.
Bersama dengan Dalvin yang masih setia menemaninya, Calista melihat pada sekelilingnya yang kebanyakan diramaikan oleh para pedagang. Saat Calista memperhatikan ke sekitarnya, sesuatu menarik perhatiannya.
Wanita itu lantas menghampiri salah seorang pedagang di sana lalu ia melihat ke dalam sebuah kandang yang berisikan seekor serigala kecil. "Kau menangkapnya dari benua di utara?"
"Ya, Yang Mulia." pedagang itu mengangguk pada Calista.
Lantas Calista pun menoleh pada Dalvin lalu ia berbisik padanya "Bagaimana menurutmu jika aku memelihara serigala?"
Dalvin hanya mengangguk kecil sedangkan Calista kembali menoleh pada pedagang itu dan setelah ia mengeluarkan sebuah kantung coklat dari dalam sakunya lalu memberikannya pada pedagang itu, ia berkata "Aku ingin sekawanan serigala yang terlatih untuk berburu dibawakan ke Istana. Aku harap uang itu cukup untuk membayarnya."
Dalvin sedikit terkejut saat mendengar perkataan Calista pada pedagang itu. Awalnya ia kira Calista hanya akan membeli seekor serigala kecil itu, bukan sekawanan. Ia lantas bertanya pada Calista "Mengapa tidak memelihara anjing pemburu saja, Yang Mulia?"
"Aku tidak sedang ingin berburu hewan, Dalvin." Calista terkekeh saat melihat Dalvin yang terkejut akibat ulahnya. "Ayolah! Kita harus segera kembali ke Istana."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya Calista dan Dalvin di Istana, mereka berdua langsung menuju ruang kerja yang kini menjadi milik Calista. Langkah kaki Calista yang begitu cepat membuat pria yang berjalan di belakangnya sulit untuk mengimbangi langkahnya. Dalvin hanya bisa membatin "Apa lagi yang sebenarnya sedang direncanakannya?"
Kini keduanya terhenti di tepat di depan sebuah pintu. Saat Calista memutar kenop pintu itu dan membukanya, sosok pria yang tengah terduduk di sofa dalam ruangan itu lantas berdiri dan menunduk padanya. "Yang Mulia,"
"Lord Anthony?" lagi-lagi Dalvin dibuat terkejut dengan keberadaan sosok yang pernah menjadi juru tulis Kerajaan pada masa kekuasaan Raja Albertus. Tak biasanya Calista memerintahkan orang lain untuk menuliskan surat darinya. Ia menduga, sesuatu yang besar mungkin bisa saja akan terjadi.
"Siapkan pena dan kertasmu, Lord Anthony." Lord Anthony hanya mengangguk pada Calista lalu kembali duduk dan mengambil pena yang sebelumnya sudah terendam tinta.
Sementara itu, Calista berjalan memasuki ruang kerjanya lalu meletakkan surat yang semula ada di dalam sakunya ke dalam rak buku yang ada di sisi ruangan. Ia berbalik lalu berkata "Aku, Calista Despina Rajacenna, Maharani Hellenocitus-Lozarayas, dengan ini menyatakan bahwa Kerajaan Lozarayas Barat beserta Archduke Angloska selaku Adipati Agung Kerajaan Lozarayas Barat, diberikan hak istimewa atas tanahnya untuk mengatur dan mempertahankannya berdasarkan kehendaknya sendiri. Atas nama Maharani Hellenocitus-Lozarayas, surat ini disahkan."
Lord Anthony dengan segera mencatat semua yang yang diucapkan oleh Calista. Dan setelah ia selesai mencatat surat itu, Calista melirik pada surat itu lalu ia berkata pada Lord Anthony "Sampaikan suratku pada Archduke Angloska, Lord Anthony."
"Baik, Yang Mulia." Lord Anthony lantas berdiri dan kemudian menunduk pada Calista. Ia lalu berjalan mundur keluar dari ruang kerja Calista, meninggalkannya berdua dengan Dalvin.
"Yang Mulia," Dalvin dengan ragu menghampiri Calista. Ia tentunya bingung dengan apa yang telah dilakukan oleh Calista saat itu.
"Aku tahu, Dalvin." Calista hanya melemparkan senyuman tipis pada pria yang kini berdiri di sampingnya itu. Ia menghela nafasnya sejenak lalu ia melayangkan pandangannya pada pada lukisan keluarganya yang terpajang di dinding. "Aku tahu apa yang terjadi di Lozarayas Timur siang ini. Aku tak akan membiarkan Hellenocitus terkena tulah dari apa yang telah dilakukan Malette. Jadi biarkan saja mereka saling berperang. Setidaknya kita tahu di pihak mana kita berada."