
Hembusan angin sepoi-sepoi meniup dedaunan yang berguguran di kastil Delavour. Sementara itu, suara deburan ombak turut menemani Lady Mirana yang tengah menghabiskan waktu santainya di balkon kastil. Keindahan pantai di dekat kastil Delavour sangat sayang untuk dilewatkan.
"Kau di situ rupanya," langkah kaki terdengar mendekati Lady Mirana. Saat Lady Mirana berbalik, ia mendapati suaminya, Albertus, tengah terduduk di kursi yang ada di balkon kastil. "Kemarilah."
Mirana lantas berjalan menghampiri suaminya lalu ia duduk di samping suaminya itu. Albertus tersenyum saat memandangi wajah cantik istrinya itu yang sama sekali belum memudar meski pun usianya tak lagi muda. Kecantikannya semakin bertambah seiring dengan perasaan yang menyertainya. Tak lama kemudian, Albertus pun bertanya pada istrinya itu "Apa yang sedang kau pikirkan sehingga kau terlihat begitu senang hari ini?"
Wanita yang terduduk di sampingnya itu kembali tersenyum mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam. "Aku semalam bermimpi melihat Calista mengangkat Pedang Suci Iestavis untuk Kerajaan Hellenocitus. Aku begitu senang saat melihatnya sampai aku tak bisa untuk melupakannya."
"Benarkah?" tawaan yang diiringi dengan perasaan bangga terdengar dari samping Mirana. Albertus sama sekali tak menyangka bahwa istrinya sempat memimpikan hal yang begitu membanggakan bagi Kerajaan Hellenocitus sampai-sampai Albertus tak bisa mengungkapkan betapa senangnya ia saat itu. "Aku tahu Pedang Suci Iestavis akan selalu menjadi milik Hellenocitus. Tapi tak ada hal yang lebih membuatku merasa senang selain mengetahui bahwa putrimu lah yang akan memenangkannya untuk kita."
"Aku harap begitu." senyuman pada wajah Mirana menjadi memudar bersamaan dengan pandangannya yang meredup. Sesuatu hal tampaknya dapat membuat perasaan wanita itu berubah dengan cepat.
Albertus yang menyadari perubahan pada raut wajah istrinya. Ia kemudian bertanya "Apa ada hal lain yang mengganggumu?"
Mirana mengangguk kecil padanya. "Calista memang benar mengangkat Pedang Suci Iestavis, tapi ia melakukannya hanya untuk melantik seorang Selir."
"Maksudmu Margareth?" Mirana begitu terkejut saat nama itu disebutkan oleh suaminya. Ia sendiri bahkan tak tahu-menahu tentang Selir yang diangkat oleh Calista, tetapi Albertus justru bisa menebaknya dengan mudah.
Sementara Albertus terkekeh saat melihat ekspresi wajah Mirana yang terkejut akibat ulahnya. Istrinya itu ternyata begitu polos sampai tak tahu apa yang telah diperbuat olehnya. "Aku tahu apa saja yang dilakukan oleh Calista di sana. Dalvin telah menceritakan semuanya padaku. Jadi saat Dalvin berkata padaku bahwa Margareth akan diangkat menjadi Selir, aku meminta Arthur Gedeon untuk menyelesaikan semuanya."
"Kematian keluarga Ardarel sangat menggemparkan Kerajaan Voheshia. Rupanya kau dalang dibalik kecelakaan itu." Mirana menggeleng tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Albertus. Namun di sisi lain, ia juga merasa tersentuh dengan tindakan yang dilakukan oleh suaminya itu. "Tapi aku senang. Kau memperlakukan Calista dengan sangat baik."
"Kau senang?" anggukan kecil didapat Albertus dari istrinya itu. Ia menatap dengan lembut pada wanita terduduk di sampingnya dan ia melempar senyuman lebar pada wanita itu seraya berkata "Calista juga putriku. Kebahagiaannya adalah prioritasku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore yang tenang dengan matahari yang bersinar cerah di sisi barat. Terlihat sedikit awan putih menghiasi langit yang mulai memerah. Sementara itu, Seorang wanita tampak sedang menari sendirian di dalam kamarnya.
Alunan musik yang memenuhi ruangan kamar membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi tenang. Di sisi lain, tubuh Calista meliuk dengan anggun mengelilingi ruang kamarnya. Tangan dan kakinya bergerak senada dengan irama musik yang mengiringinya.
Satu jam telah berlalu dan piringan hitam yang diputar kini berhenti. Gerakan tubuh Calista mereda sementara wanita itu berjalan dengan malas menghampiri ranjangnya. Kebosanan mulai melanda dirinya saat ia menunggu kedatangan Edgar untuk waktu yang lama.
Berkali-kali Calista memeriksa arlojinya. Jarum jam serasa berputar dengan cepat, namun sampai detik itu juga suaminya sama sekali belum menampakkan diri di hadapannya. Lama-kelamaan Calista menjadi kesal karenanya.
"Agh dasar kucing pemalas," Calista hanya bisa menggeleng dengan terkekeh geli saat Samantha tidur di atas pangkuannya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Calista. Di sepanjang hidupnya, kucing itu hanya menghabiskan waktunya untuk tidur. Calista sendiri heran mengapa Samantha seperti itu. Namun bagaimana pun juga ia tetap menyayangi makhluk kesayangannya itu.
Pandangan Calista tak sengaja menangkap tiga foto Sang Ratu yang ada di atas nakasnya. Ia lantas mengambil foto-foto itu beserta dengan secarik kertas yang ada di bawahnya. "Jika keadaan terus seperti ini, apa aku harus memanfaatkan keluarga Darrel?"
Pandangannya yang semula tertuju pada foto hitam putih yang ada di tangan kanannya kini teralihkan pada secarik kertas putih gading yang ia pegang di tangan kirinya. Ia lantas meletakkan kembali foto-foto itu di atas nakas dan memfokuskan perhatiannya pada kertas yang ia pegang.
Pada kertas itu tertuliskan semua yang Calista butuhkan, keterkaitan antara keluarga Darrel dengan Sang Ratu yang digulingkan. Sudut bibir Calista terangkat saat kedua manik matanya bergerak mengikuti untaian kata pada kertas itu. Kini ia memegang kunci, namun tak ada yang tahu kapan dan untuk apa kunci itu digunakan.
Tak berselang lama kemudian, terdengar suara dobrakan yang berasal dari pintu kamar Calista. Atensinya kini berpindah pada seorang pria yang baru saja memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Yang Mulia harus meninggalkan Istana." dengan nafasnya yang tersengal-sengal, Dalvin berkata pada Calista. Namun Calista cukup terkejut dan kebingungan dengan kedatangannya yang mendadak sehingga wanita itu hanya terdiam mematung. "Segera!"
"Ouh sialan!" Calista mendengus kesal dan segera berdiri saat Dalvin memerintahkan kepadanya. Ini kali pertama dalam seumur hidupnya ia diperintah oleh seseorang selain ayahnya sendiri.
Namun Calista sadar, ini bukan waktunya untuk membantah. Ada sesuatu yang tidak beres terjadi di Istana sehingga Dalvin memintanya untuk meninggalkan Istana. Calista lantas membuka laci nakasnya dan kemudian mengambil beberapa kotak beludru dari dalamnya.
"Bantu aku bawakan Samantha." Dalvin mengangguk. Ia lantas meraih tubuh makhluk berbulu itu dan kemudian membawanya keluar bersama dengan Calista.
Kedua kaki Calista melangkah dengan cepat mengingat situasi genting yang sedang mereka hadapi saat ini. Calista tak bertanya pada Dalvin apa yang sedang terjadi saat itu namun ia hanya fokus berjalan tanpa mempedulikan para pelayan yang memandangnya dengan aneh.
Sesampainya mereka di halaman Istana, mereka mendapati sebuah kereta kuda telah menanti Calista diiringi dengan empat penunggang kuda yang akan mengawal kepergian Calista.
Calista yang sudah tak dapat menahan rasa penasaran dalam benaknya lantas menoleh pada Dalvin dengan lirikannya yang tajam. Dalvin mengerti dengan maksud dari lirikan mata Calista, ia lantas berkata "Pasukan pengawal Grand Duke Gedeon siap mengantar Yang Mulia sampai ke Kerajaan Hellenocitus. Nanti biar saya jelaskan semuanya di perjalanan."
Calista akhirnya menurut dengan perkataan penasihat pribadinya itu. Ia menerima uluran tangan dari Dalvin saat pria itu mengulurkan tangannya untuk menuntun Calista masuk ke dalam kereta kuda.
Kereta kuda itu akhirnya melaju setelah Calista dan Dalvin berada di dalamnya. Dari dalam jendela, Calista bisa melihat keempat penunggang kuda itu ikut mengiringi kepergian mereka. Lantas Calista pun kembali melirik pada Dalvin seraya berkata "Sekarang jelaskan semuanya padaku."
Untuk sesaat Dalvin mencoba menetralkan nafasnya yang terengah-engah setelah tadi berlarian. Dan setelah nafasnya kembali normal, Dalvin kemudian menjawab "Margareth mengajukan tuntutan pada Kehakiman Agung atas keanggotaan Yang Mulia dalam The Priestess. Raja tidak datang ke Istana bagian barat karena ia sedang menunggu proses persetujuan tuntutan."