Your Majesty

Your Majesty
Chapter 32



Matahari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur setelah selamam penuh kota Calasandra diguyur hujan. Dinginnya udara terasa sangat menusuk pada kulit. Meski demikian, hiruk pikuk Istana begitu terasa mengingat acara penting yang akan berlangsung di Istana Kerajaan.


Para pelayan sibuk mempersiapkan segala keperluan acara. Sementara di gerbang Istana, kereta kuda mulai berdatangan mengantar tamu undangan yang hadir. Diantara mereka yang datang di sana, tak hanya para bangsawan saja melainkan juga para jurnalis dari perusahaan media dan juga seniman yang bertugas untuk melukiskan acara yang akan dikenang disepanjang sejarah Kerajaan Voheshia.


Di lain tempat di ruangan dekat aula Istana bagian utama, Calista menatap kagum bayangan dirinya sendiri pada permukaan cermin. Dengan gaun berwarna merah dan tiara Permaisuri yang bertengger dengan anggun di atas kepalanya, Calista siap untuk menghadiri upacara pengangkatan Selir Kerajaan.


"Yang Mulia tidak akan menjadi martir hari ini," kedua manik mata hijau terang milik Sang Permaisuri melirik pada bayangan Dalvin yang berdiri di belakangnya. Di tangannya, pria itu membawakan sebuah gaun berbeda dengan warna ungu. "Cobalah untuk mengenakan gaun ini, Yang Mulia. Warnanya sangat mewakili kebangsawanan Yang Mulia."


"Apa gunanya menjadi bangsawan jika kau hanya melayani seorang manusia, Dalvin?" Calista mengayunkan tangannya untuk mengisyaratkan Dalvin agar membawa pergi gaun ungu yang dibawa olehnya itu. Senyuman angkuh pada wajahnya terukir, sementara sorot mata Sang Permaisuri menatap dengan lembut bayangan wajahnya. "Aku Maharani Hellenocitus-Lozarayas. Aku melayani sebuah Kekaisaran, bukan seorang manusia."


"Tentu, Yang Mulia." Dalvin mengangguk dengan perlahan, lantas ia pun menggantungkan gaun yang ada di tangannya itu pada dinding ruangan.


Setelah itu, Dalvin mengambil sebuah arloji dari dalam saku pakaiannya lalu berkata Calista "Acaranya akan segera dimulai, Yang Mulia. Sebaiknya Yang Mulia bersiap untuk masuk."


Calista berusaha untuk menenangkan dirinya. Entah mengapa ia saat ini merasa sangat gugup, tidak seperti biasanya dimana ia selalu tenang. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam, Calista beranjak bangun dan berjalan menuju pintu.


Dalvin pun berjalan mendahului Calista dan membukakan pintu untuknya. Sorot mata Calista langsung menyapu pandangan yang ada di depannya. Seketika aula Istana yang semula ramai menjadi senyap.


Para tamu undangan yang hadir berdiri saat Calista melangkahkan kakinya dengan anggun di atas karpet merah. Sorot matanya fokus tertuju pada meja altar yang berada di seberangnya sementara pada bibirnya menyunggingkan sedikit senyuman tipis yang cukup untuk menyampaikan keramahannya kepada para tamu undangan.


Sementara itu Sang Raja, Edgar Felix Dominique, duduk di atas tahtanya menanti Calista, Permaisurinya, datang menghampirinya.


Calista segera berlutut dengan satu lututnya saat ia sampai di hadapan suaminya itu. Dengan wajahnya yang tertunduk penuh hormat, Calista berkata "Aku, Permaisuri Calista Despina Rajacenna, meminta izin kepada Yang Mulia Raja Edgar Felix Dominique untuk mengesahkan Immanuella Margareth Dominique sebagai Selir Kerajaan yang pertama."


Sang Raja mengangguk. Ia lantas meraih tangan Permaisurinya yang berlutut padanya lalu mengecup punggung tangannya dan berkata "Aku mengizinkan kau, Calista Despina Rajacenna, untuk mengesahkan Immanuella Margareth Dominique sebagai Selir Kerajaan."


"Terimakasih, Yang Mulia." Calista lantas berdiri dan sedikit menekuk lututnya sejenak pada Edgar, Sang Raja. Ia pun kemudian berjalan menuju altar.


Saat Calista menghadap meja altar, ia mengambil sebilah pedang yang ada di atasnya. Ia mengambil pedang itu dan berbalik sembari mengangkatnya tinggi-tinggi. Kilauan pedang yang dihiasi dengan permata merah gelap itu begitu memukau setiap mata yang memandangnya. Namun bukan hanya pedang itu saja yang membuat para tamu undangan terpukau, melainkan juga ia yang memegangnya. Calista tersenyum angkuh saat melihat orang-orang menatapnya dengan kagum, lantas ia berseru "Pedang Suci Iestavis akan menjadi saksi sumpah Selir Kerajaan. Panjang umur Yang Mulia Raja!"


"Hidup Yang Mulia Raja!" para tamu undangan bersorak dengan meriah menyahuti seruan dari Permaisuri mereka. Sementara itu, Calista kembali menurunkan pedangnya seiring dengan meredanya sorakan dari para tamu undangan.


Pintu aula Istana kembali dibukakan dan dari baliknya, tampak seorang wanita dengan gaun putihnya berjalan menuju altar. Sebagian pandangan yang tertuju padanya menatap wanita itu dengan kagum. Seorang wanita yang baru beberapa hari ditinggal dengan kematian suaminya bisa menduduki Istana bagian Ruang Harem, tentunya itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.


Setelah berada di hadapan Calista, Margareth berlutut padanya. Pedang Suci Iestavis diletakkan di atas kepalanya sementara Sang Permaisuri berkata padanya "Silahkan ucapkan sumpahmu, Immanuella Margareth Dominique."


Setelah mendengar sumpah yang diucapkan oleh Margareth, Calista lantas mengangkat pedangnya dan kembali meletakkannya di atas meja altar. Ia pun mengulurkan tangannya pada Margareth dan membiarkan wanita yang sedang berlutut padanya itu mengecup punggung tangannya. Setelah itu, ia menuntun Margareth untuk kembali berdiri.


Calista membiarkan Margareth untuk berdiri di sampingnya. Ia kemudian menoleh pada Margareth dan kemudian berbisik "Di Istana ini, akulah Permaisurinya. Dan di luar sana, akulah Ratunya. Jadi ingatlah posisimu, Margareth. Kau... hanya... selir..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Istana bagian utama, tepatnya di dalam kamar milik Edgar, suasananya begitu kacau. Serpihan-serpihan vas bunga yang pecah berserakan di lantai. Tak hanya itu, bau asap tercium sangat menyengat menemui ruangan. Api dengan cepat membakar buku-buku dan lembaran kertas yang tersobek.


Sementara sang pemilik kamar yang sedang berdiri di sudut ruangan itu masih berusaha menarik buku lainnya dari rak dan melemparnya ke dalam gejolak api. Edgar yang sedang memegang tongkat di tangan kirinya bahkan melemparkan tongkat itu hingga memecahkan kaca jendela kamarnya.


Tanpa Edgar sadari, istrinya, Calista baru saja sampai di kamarnya dan terkejut saat melihat kondisi kamar itu yang begitu berantakan. Dentuman keras terdengar saat Calista membanting pintu kamar sehingga Edgar menoleh padanya. Sorot matanya yang menyalang menatap Edgar sementara dirinya tersulut emosi membuat Calista berteriak "Sialan! Apa yang sebenarnya kau inginkan, keparat?!"


"Apa yang aku inginkan?!" Edgar yang sama marahnya dengan Calista lantas berlari menerjangnya lalu mendorong tubuh Calista hingga terhimpit oleh dinding. "Beraninya kau memasukkan dia ke dalam Ruang Harem?!"


Saluran pernafasan Calista serasa menyempit saat Edgar mencekik lehernya. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat sementara pria yang ada di depannya itu semakin menggila. Di satu kesempatan, Calista menendang perut Edgar dengan sangat kencang hingga pria itu jatuh tersungkur dan mengaduh kesakitan.


Calista mencari-cari ke sekelilingnya hingga ia menemukan sebuah vas bunga yang tersisa di dekatnya. Ia lantas mengambilnya dan kemudian memukulkannya tepat pada kepala Edgar hingga membuat Edgar yang tengah tersungkur itu mengucurkan darah dari pelipisnya. "Aku bersumpah pada ibumu sebelum kematiannya untuk melindungimu dan tahtamu dari saudaramu, si Harith yang keparat itu! Apa kata rakyat jika mereka lebih dahulu mengetahui bahwa Daniel adalah anak harammu dan Margareth sebelum ia menjadi Pangeran?! Aku berusaha sekuat tenaga untuk membangun kepercayaan rakyat terhadap keluarga Kerajaan, tapi kau malah dengan mudahnya menghancurkan itu semua!"


Nafas Calista masih tersengal-sengal setelah ia berteriak pada Edgar. Namun, ia yang masih kesal lantas menarik tubuh Edgar dan berbalik mendorongnya hingga membentur dinding. Edgar yang sudah tak berdaya akibat pukulan Calista kini harus merasakan sakit pada punggungnya.


Calista yang melihatnya lantas duduk bersimpuh di depan Edgar. Alih-alih merasa kasihan, Calista justru berkata padanya "Kau mencekikku. Kau mencekik seorang Maharani dari Kekaisaran Hellenocitus-Lozarayas. Aku bukan hanya Permaisuri dan istrimu. Aku lebih dari itu. Dan satu hal yang harus kau ingat, Kerajaanmu diapit oleh dua wilayah kekuasaanku. Aku bisa membunuhmu dan menghancurkan Kerajaanmu jika bukan karena sumpahku kepada ibumu!"


"Yang Mulia," Calista menoleh pada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. Orang itu, Dalvin, lantas menunjukkan sebuah gulungan surat seraya berkata "Saya membawakan surat dari Kementerian untuk Yang Mulia Raja, seperti yang diminta Yang Mulia."


Tak lama kemudian Calista akhirnya tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Ia yang melihat Edgar tengah merintih kesakitan lantas membantunya untuk berdiri dan menuntunnya menuju ranjangnya lalu merebahkan tubuh suaminya itu di sana.


Ia menatap ke sekelilingnya dan mendapati kamar itu menjadi kacau akibat ulahnya dan suaminya. Calista mendengus kesal saat melihat itu. Ia kemudian melirik tajam pada Dalvin sehingga membuat pria yang diliriknya itu bergidik ngeri.


Calista menghentakkan langkahnya keluar dari kamar Edgar. Namun saat ia berada di ambang pintu, ia berbalik dan berkata pada Dalvin "Panggilkan dokter Kerajaan untuk Edgar! Dia butuh perawatan."


"Baik, Yang Mulia." Dalvin pun mengangguk, lantas Calista pergi meninggalkannya bersama Edgar di kamar itu.


"Jangan sampai ada orang lain yang tahu! Aku akan membunuh siapa saja yang menyebarkan berita ini dan aku tak main-main dengan ucapanku!" teriakan Calista yang terdengar dari lorong itu lantas membuat Dalvin meneguk ludahnya dengan kasar.