
Setelah Lady Sarah berbincang dengan Calista di atas tembok kota, ia berbalik lalu berjalan menuju salah satu menara yang berada di dekat sana. Sebelum Lady Sarah menuruni tangga yang ada di dalam menara itu, ia terlebih dahulu menoleh, mengisyaratkan Calista untuk mengikutinya.
Calista paham akan isyarat itu, lantas ia berjalan mengekor di belakang Lady Sarah memasuki menara lalu menuruni anak tangga itu satu per satu. Mereka berdua berhenti saat mereka sampai di sebuah ruangan yang berada di lantai teratas pada tembok itu.
"Yang Mulia," saat pintu ruangan dibukakan, tampak Dalvin sudah menanti Lady Sarah dan Calista sejak tadi. Pria itu menunduk sejenak pada Calista dan Lady Sarah lalu ia mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa yang ada di dekat sana.
Namun hanya Calista saja yang duduk di sofa itu. Lady Sarah justru hanya berdiri di ambang pintu dan ia pun berkata pada Calista "Terimakasih, Calista."
"Terimakasih?" jujur saja, Calista tak memahami maksud dari ucapan ibu mertuanya itu. Ia tak tahu untuk apa yang telah dilakukan olehnya sehingga Lady Sarah berterimakasih kepadanya.
Seulas senyuman tipis terukir pada wajah Lady Sarah seraya wanita itu berucap "Tugasku untuk memastikan putraku sebagai Putra Mahkota telah usai. Kini kau lah yang mengambil-alih tugas itu. Kau akan menjaga tahta dan nasibnya dalam Istana. Itu akan menjadi tugas dan tanggung jawabmu sampai kematian suamimu. Aku percaya kau akan melakukan tugasmu sebagai Permaisurinya dengan baik."
Selama beberapa saat Calista tertunduk. Ini lah waktunya mereka berpisah. Tugasnya sebagai Permaisuri Mendiang Raja telah usai, dan secara hukum ia masih harus menjalani pengasingan selama sisa hidupnya. Dengan perkataannya tadi, Lady Sarah telah menyerahkan kepercayaannya sepenuhnya kepada Calista atas segala sesuatu yang akan terjadi selanjutnya yang akan menentukan nasib putranya sebagai Raja Kerajaan Voheshia.
Lady Sarah membungkukkan tubuhnya dalam waktu yang cukup lama sebagai penghormatan terakhirnya pada menantunya, karena setelah ini ia tak akan bertemu lagi dengan Calista. Lady Sarah pun kemudian berbalik meninggalkan Calista yang pandangannya menatap lurus pada punggung Lady Sarah yang kian lama kian menjauh.
"Yang Mulia?" pandangan Calista kini teralihkan pada Dalvin yang sudah berdiri di samping tempatnya duduk. "Ada sesuatu yang harus saya katakan."
Calista sendiri hanya terdiam sembari memperhatikan Dalvin. "Orang-orang di Istana berkata ada kemungkinan Yang Mulia Raja akan membentuk sebuah pasukan besar untuk menyusul Yang Mulia Permaisuri di sini. Saya khawatir jika itu benar-benar terjadi, pasukan kita yang ada di kota Saphile akan melemah dan hal itu tentunya akan menjadi celah bagi Pangeran Harith untuk memberontak."
"Jadi, Edgar akan menyusul kemari?" Dalvin mengangguk, sedangkan Calista beranjak bangun. Calista melangkahkan kakinya ke ambang pintu dan mengedarkan pandangannya pada prajurit-prajurit yang tengah berjaga di sana. Ia terdiam untuk beberapa saat, membuat Dalvin sedikit merasa khawatir. Namun tak lama kemudian, ia pun memberikan jawabannya pada Dalvin. "Biarkan Edgar kemari. Pertahanan kota Saradokh perlu diprioritaskan daripada pengepungan kota Saphile. Lagipula aku memerlukan Harith untuk menyingkirkan putra-putra Mendiang Raja yang lainnya."
"Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang perlu kau lakukan." Calista mengeluarkan sesuatu dari balik gaunnya. Dalvin menerima selembar foto yang diberikan oleh Calista sembari menatap Calista dengan penuh kebingungan. Calista pun berkata "Untuk memecah pasukan Kerajaan Lozarayas, aku perlu kau membunuhnya. Dengan begitu pekerjaan Edgar di sini tak terlalu berat."
"Baik, Yang Mulia. Akan saya lakukan sesegera mungkin." Dalvin kembali mengangguk. Pria itu lantas berjalan keluar dari ruangan.
Calista yang terkejut lantas bertanya pada Dalvin "Siapa yang menulis surat ini?"
"Dewan Kerajaan Hellenocitus, Yang Mulia." Dalvin menunduk sejenak, lalu ia pun berjalan keluar meninggalkan Calista seorang diri.
Calista berbalik masuk ke dalam ruangan. Ia memandangi lembaran kertas berwarna coklat yang dengan segel merah gelap itu dengan penuh rasa penasaran yang berkecamuk dalam pikirannya. Seumur hidupnya, tak pernah sekali pun ia akur dengan para Dewan Kerajaan dikarenakan statusnya sebagai putri semata wayang dari Sang Raja. Calista dianggap tak layak untuk mewarisi Kerajaan ayahnya, itu lah yang menyebabkan hubungannya dengan Dewan Kerajaan tak pernah sejalan.
Namun kini, secarik surat dikirimkan padanya dari Dewan Kerajaan, membuat perasaannya bercampur aduk. Dengan perasaannya yang cemas, Calista melepas segel yang mengunci surat itu perlahan lalu membuka setiap lipatan yang ada pada surat itu.
"Untuk Yang Mulia Permaisuri Calista Despina Rajacenna," manik mata hijau terang milik Calista mulai bergerak mengikuti untaian kata yang tertulis dalam surat itu. "Kami harap Yang Mulia Permaisuri memiliki hari yang indah di Kerajaan Voheshia. Dalam surat ini, kami ingin menyampaikan kepada Yang Mulia Permaisuri tentang hasil pertemuan Dewan Kerajaan Hellenocitus yang diselenggarakan bersama dengan Yang Mulia Raja Albertus Claude Rajacenna. Dengan surat ini, Yang Mulia Raja bersama dengan Dewan Kerajaan setuju untuk mengangkat Yang Mulia Permaisuri sebagai pewaris tahta Kerajaan Hellenocitus. Yang Mulia Raja juga telah menyampaikan keputusannya untuk turun tahta dalam rapat Dewan Kerajaan. Pemindahan kekuasaan akan dilakukan sebaik-baiknya dalam waktu yang dekat. Semoga Yang Mulia Permaisuri dapat melayani Kerajaan dalam berkat Tuhan. Salam dari Dewan Kerajaan, Grand Duke Gedeon."
"Woah!" Calista kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya saat itu. Sejujurnya ia tak menyangka bahwa Dewan Kerajaan akhirnya setuju untuk mengangkatnya sebagai Putri Mahkota. Namun tak dapat dipungkiri ia juga mengalami ledakan emosional yang diakibatkan oleh perasaan senang dalam hatinya.
Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya ia disetujui oleh para Dewan Kerajaan untuk menjadi pewaris tahta Kerajaan Hellenocitus. Tak hanya itu, dalam waktu yang dekat, ayahnya, Sang Raja dari Kerajaan Hellenocitus akan turun tahta sehingga ia bisa bertahta sebagai Ratu. Kini tak ada lagi yang bisa menghentikan rencana Calista dalam penyatuan tiga Kerajaan besar, kecuali satu, "Lozarayas."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Edgar berdiri mematung tepat di depan perapian dengan tatapannya yang menyalang pada sebilah pedang yang ia julurkan ke dalam gejolak api. Suasana terasa sunyi dalam ruangan yang didominasi oleh warna hitam itu, hanya ada Edgar seorang dengan ditemani oleh Samantha yang tengah tertidur pulas di atas sofa.
Deritan pintu yang terdengar dalam kesunyian sukses membuat kucing putih itu terbangun dan langsung turun menjauh dari sumber suara. Seseorang melangkahkan kakinya mendekati Edgar yang masih berdiri di depan perapian.
"Yang Mulia," Edgar hanya melirik sekilas pada orang yang menunduk sejenak padanya itu tanpa berbalik. "Yang Mulia memanggil saya?"
"Waktunya telah tiba, Daniel." Edgar menarik kembali pedang yang dijulurkannya itu dari dalam api sembari ia mengayunkannya. "Lozarayas tak akan pernah bisa menaklukkan wilayah Kerajaan kita. Aku akan memimpin sendiri pasukan menuju kota Saradokh."