
Pagi itu di Istana Kerajaan Voheshia, Margareth yang sedang berdiri di balkon Istana dibuat penasaran dengan keramaian yang terjadi di bawah sana. Ia melihat sebuah rombongan datang memasuki gerbang Istana dengan sambutan hangat dari orang-orang yang ada di sana. Tak butuh waktu lama untuk Margareth mengenali kedua sosok yang ada dalam rombongan itu.
Namun atensi Margareth tak tertuju pada Edgar yang baru saja turun dari kudanya. Perhatiannya itu mengarah pada sosok Calista yang tampak berbeda dari biasanya. Margareth dapat melihat dengan jelas mahkota yang terpasang dengan rapi di atas kepala Calista sedangkan pada lehernya, sebuah kalung berlian turut mempercantik dirinya.
Calista tahu ia sedang diperhatikan oleh Margareth di atas sana dan ia juga menyeringai pada wanita itu. Sementara itu, Dalvin yang ada di dekat sana mengulurkan tangannya untuk membantu Calista turun dari kudanya.
Setelah turun dari kudanya, Calista berhenti sejenak, mengisyaratkan Dalvin untuk berdiri di sampingnya. Tak lama kemudian ia berbisik pada Dalvin "Dewan Kerajaan Hellenocitus akan berhadapan dengan Dewan Kerajaan Voheshia."
"Kau lihat Grand Duke Gedeon?" Dalvin seketika melirik pada salah satu sosok yang ikut datang dalam rombongan Calista ke Istana Kerajaan. "Dia yang paling bersemangat untuk menentang Dewan Kerajaan Voheshia jika mereka menolakku sebagai Ratu."
Dalvin sedikit terkejut saat mendengar ucapan Calista. Ia sudah sangat mengenal Grand Duke Gedeon dan semua permasalahannya dengan Sang Ratu itu. Namun kini ia tak menyangka bahwa Grand Duke Gedeon yang semula sangat membenci Calista berbalik menjadi pendukungnya. "Saya tak tahu Grand Duke Gedeon akan bertindak sejauh itu."
Ditengah pembicaraan mereka berdua, seseorang datang dan langsung memeluk pinggang Calista sehingga membuatnya menoleh pada sang pelaku. Calista tersenyum saat melihat Edgar berjalan bersampingan dengannya lalu ia kembali menoleh pada Dalvin seraya berkata "Aku ingin kau mengurus sisanya, Sir Dalvin."
"Ya, Yang Mulia." Dalvin yang merasa tak pantas untuk mengganggu mereka berdua lantas menunduk sejenak dan kemudian berjalan berlainan arah dengan Calista dan Edgar.
Sedangkan pasangan Raja dan Ratu itu, mereka berdua berjalan menuju Istana bagian barat, tempat awal kediaman Calista saat ia baru saja datang di Kerajaan Voheshia.
Tak ada yang berbeda saat Calista sampai di Istana bagian barat. Semuanya masih terasa sama dengan masa-masa awal kehidupannya di Istana itu. Bahkan, saat mereka berdua memasuki kamar Calista, Calista mendapati diorama Istana pemberian Mendiang Raja masih terpajang rapi di dalam kamarnya.
Calista segera berjalan menuju jendela yang menghubungkan kamarnya dengan balkon lalu membukanya lebar-lebar. Sedangkan di belakangnya, Edgar kembali melingkarkan kedua lengannya pada pinggang istrinya itu sembari bersandar di atas bahunya.
Calista sendiri hanya terkekeh melihat cara suaminya itu mengungkapkan perasaan rindu padanya. Memang sudah sejak kemarin Calista dihujani dengan perlakuan manis dari Edgar.
Calista pun berbalik menghadap pada Edgar tanpa melepaskan pelukannya. Ia lalu berkata "Di bawah sana, Dewan Kerajaan berseteru untuk menentukan nasib kita. Dan di atas sini, kita justru bersenang-senang seolah tak terjadi apa pun."
Edgar terkekeh, ia membelai lembut pipi Calista dan menatap kedua manik mata hijau terang miliknya seraya ia menjawab "Kau adalah Ratu dan aku adalah Raja. Kita lah yang berkuasa di atas mereka. Aku tak akan membiarkan mereka mengacaukanmu dengan berlindung di balik protokol Kerajaan."
"Edgar," senyuman Calista perlahan mengembang, membuat Edgar mencubit pipinya. "Kau benar, aku adalah Ratu. Aku yang memerintah Kerajaan, bukan mereka. Tak seharusnya Ratu tunduk kepada siapa pun selain Tuhan."
"Itu baru istriku." Edgar lantas menarik tubuh Calista mendekat dan memeluknya erat, membiarkan Calista menyembunyikan wajahnya di dadanya."
"Tidak seorang pun selain dari wangsa Dominique boleh memerintah Kerajaan!" Duke Zanazar berseru sementara para bangsawan lain dari pihak Voheshia mengangguk setuju pada pernyataan Duke Zanazar.
"Begitu juga Hellenocitus," Earl Kyverl dari pihak Hellenocitus dengan tegas mengemukakan pernyataannya dalam pertemuan itu. "Tak ada seorang pun selain Rajacenna yang boleh memerintah Kerajaan Hellenocitus!"
"Pewaris Hellenocitus adalah wanita. Ia tidak pantas untuk naik tahta dan memerintah Kerajaan. Seluruh dunia akan menentangnya jika ia bertahta." ujar Duke Nathlis dalam pertemuan itu.
Semua orang dari pihak Hellenocitus kini menatap Duke Nathlis dengan sengit. Pernyataan yang diutarakan oleh Duke Nathlis terdengar seolah seperti hujatan bagi Sang Ratu sehingga membuat mereka marah.
Namun hal itu tak berlaku bagi Grand Duke Gedeon yang sedari tadi terlihat tenang dari raut wajahnya. Ia berucap dengan lembut "Dominique bukan merupakan penguasa asli Kerajaan Voheshia, benar begitu bukan, Tuan Muda Ardarel?"
Semua orang kini beralih pada Daniel yang bungkam seribu bahasa. Suara ketukan meja yang berasal dari jari-jari Grand Duke Gedeon terdengar mengintimidasi baginya sehingga bibirnya terasa kaku.
Grand Duke Gedeon sendiri hanya mendecih lirih melihat Daniel terdiam di tempatnya. Ia lantas kembali berkata "Dominique dahulu hanya lah bagian dari kalian. Lantas, apa setelah nanti Sang Ratu bertahta, Ardarel ingin menggulingkannya dan mendirikan dinasti baru?"
"Kami memang bukan berasal dari Kerajaan Voheshia, tetapi bukan berarti kami tak mengerti dengan sejarah Kerajaan Voheshia." sambung Grand Duke Gedeon. "Jangan remehkan kami, Tuan Muda Ardarel, karena kami tahu seluruh siasat yang kalian rencanakan untuk menggulingkan tahta yang sah."
Setelah menyampaikan ancaman itu pada Daniel, Grand Duke Gedeon lantas berdiri diikuti oleh bangsawan lainnya dari Dewan Kerajaan Hellenocitus. Grand Duke Gedeon kemudian berujar "Kekaisaran Helleneshia-Lozarayas akan didirikan. Marchioness Malette dari pemerintahan Kerajaan Lozarayas yang sah sendiri yang akan menyampaikan surat pernyataan kesediaannya untuk bergabung dengan Kekaisaran pada Yang Mulia Ratu. Ratu Calista akan dimahkotai sebagai Maharani Hellenocitus-Lozarayas dan Raja Edgar tetap akan memerintah Kerajaan Voheshia tanpa campur tangan Yang Mulia Ratu."
Para bangsawan dari pihak Voheshia saling memandang satu sama lain, dan setelah beberapa saat mereka mengangguk setuju dengan Grand Duke Gedeon. Namun diantara mereka, hanya ada seseorang yang tak menyetujuinya. Daniel lantas bertanya "Bagaimana bisa Yang Mulia Ratu menjadi Maharani Hellenocitus-Lozarayas sementara Yang Mulia Raja lah yang memimpin pasukan untuk mengusir pasukan Lozarayas dari tanah kami?"
Grand Duke Gedeon kembali mendecih pada Daniel. Namun kali ini suaranya jauh lebih keras sehingga membuat semua orang terkejut padanya. "Sebaiknya kalian keluar dari sini!"
"Apa maksudmu?!" Duke Nathlis yang tak terima dengan perlakuan tidak sopan dari Grand Duke Gedeon lantas berucap dengan kasar sembari menggebrak meja.
Alih-alih terkejut dengan suara gebrakan meja yang terdengar keras itu, Grand Duke Gedeon justru menyeringai pada Duke Nathlis sehingga membuatnya kini menciut. "Hanya dengan mengusirnya tidak membuat kalian menjadi pemilik sah Kerajaan Lozarayas. Yang telah dilakukan oleh Yang Mulia Ratu sehingga membuat Marchioness Malette sebagai perwakilan para bangsawan menyatakan kesetiaannya kepada Yang Mulia Ratu lah yang membuat Yang Mulia Ratu menjadi pemilik sah Kerajaan Lozarayas."
"Dan kalian," Grand Duke Gedeon kembali melirik Daniel dengan tajam. "Kami akan selalu mengawasi kalian. Akan kami pastikan Voheshia merasakan akibatnya jika tahta sah Maharani Hellenocitus-Lozarayas digulingkan."