
Di gerbang kastil kediaman Pangeran Harith, sebuah kereta kuda melintas masuk ke dalamnya. Sosok wanita yang turun dari kereta kuda itu langsung disambut hangat oleh Pangeran Harith bersama dengan Putri Alice dan Pangeran William, putra mereka.
"Lady Margareth," Pangeran William mengulurkan tangannya saat pintu kereta kuda dibukakan dan kemudian ia menuntun Margareth untuk turun dari kereta kudanya. "Selamat datang di kediaman ayahku, Lady Margareth."
"Terimakasih, Pangeran William." Margareth pun menyunggingkan senyumannya pada pria yang berjalan menuntunnya itu.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam kastil dan menuju sebuah ruangan di dalamnya. Saat mereka sampai di depan ruangan itu, pintu dibuka dengan lebar oleh pengawal yang sedang berjaga di sana.
Dari dalam ruangan itu, tampak beberapa orang sudah berkumpul dan mereka berdiri saat Pangeran Harith dan yang lainnya memasuki ruangan.
"Pangeran Orlando," Margareth yang melihat Pangeran Orlando berada di ujung meja lantas menyunggingkan senyumannya pada pria itu dan kemudian ia terduduk di seberangnya.
Suara dentingan terdengar dan membuat seluruh atensi tertuju pada Putri Alice. Setelah mendapat perhatian yang diperlukan, Putri Alice menoleh pada Pangeran Harith yang berada di sampingnya lalu ia mengangguk pada suaminya itu.
Pangeran Harith lantas tanpa berbasa-basi berkata "Permaisuri Calista telah menunjukkan dominasinya di Istana Kerajaan Voheshia. Dengan dieksekusinya Lord Havaar itu artinya Permaisuri Calista mulai mencampuri urusan Kerajaan dan perlahan-lahan mungkin akan mengambil kekuasaan atas Kerajaan Voheshia."
"Permaisuri Calista telah menunjukkan niatnya sejak Marchioness Malette menyatakan kesetiaan Lozarayas pada Kerajaan Hellenocitus. Setelah Lozarayas bergabung, yang masih tersisa hanya lah Voheshia." sambung Pangeran Harith.
Di sisi lain, Putri Selene, tak ingin gegabah pada situasi itu. Ia membantah pernyataan dari Pangeran Harith lalu berkata "Keluarga Pangeran Harith telah dinyatakan sebagai pengkhianat Kerajaan setelah kota Saphile melepaskan diri dari Kerajaan Voheshia. Aku tak bisa membiarkan keluarga Pangeran Orlando bernasib sama."
"Sepertinya kau tak memiliki keberanian sedikit pun, Putri Selene." ucap Putri Alice yang diiringi decihan lirih darinya. Sudut bibir wanita itu terangkat sebelah, seolah ia sedang mengejek Putri Selene dengan raut wajahnya. "Hanya wangsa Dominique yang berhak atas tahta Kerajaan Voheshia. Permaisuri Calista sedikit pun tak layak untuk mengambil kekuasaan atas Kerajaan meski ia seorang Permaisuri."
Kini pandangan Putri Alice beralih pada Putri Rachel, istri Pangeran Peter. Ia kemudian berkata pada Putri Rachel "Keluarga Pangeran Peter harus memutuskan untuk berpihak pada siapa, Putri Rachel."
"Kenapa keluarga Pangeran Peter harus berpihak?" pada wajah Putri Rachel, bibirnya tersenyum miring saat berkata pada Putri Alice. Wanita itu sama sekali tak menatap Putri Alice, ia justru melayangkan pandangannya pada tangannya yang memainkan sendok teh yang ada di depannya. "Kau ingin kami menjadi bidak pion keluargamu untuk mendapatkan tahta Kerajaan Voheshia, bukan?"
Margareth tanpa sengaja tertawa saat mendengar perkataan dari Putri Rachel. Jarang-jarang baginya untuk menyaksikan keluarga Kerajaan saling berselisih seperti saat itu. Margareth baru menyadari tawaannya saat semua perhatian kini terfokuskan padanya. "Kalian lanjutkan saja diskusi ini tanpaku. Konflik keluarga harus diselesaikan antar anggota keluarga."
Margareth pun kemudian beranjak bangun. Ia menunduk pada setiap orang yang ada di ruangan itu sembari menyunggingkan senyumnya dan ia pun kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Margareth berjalan menyusuri lorong hingga wanita itu sampai di balkon kastil. Ia melirik ke belakang saat ia berdiri di atas balkon. Dari dalam mulutnya, suara tawaan lirih terdengar sementara itu dalam batinnya Margareth berkata "Pangeran-pangeran bodoh. Mereka pikir mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketukan terdengar dari pintu. Meski demikian Calista sama sekali tak teralihkan perhatiannya pada buku itu sementara Dalvin masuk ke dalam ruangannya lalu berkata "Ini sudah larut, Yang Mulia. Sebaiknya Yang Mulia beristirahat sejenak."
"Tak bisa." ucap Calista menggeleng. Kedua manik mata hijau terang miliknya terus mengikuti untaian kata yang tertulis dalam buku itu. Tangannya juga ikut membalikkan lembaran buku itu setiap Calista selesai membacanya.
Dalvin yang melihatnya di ambang pintu pun menjadi khawatir pada Calista. Pasalnya, wanita itu sudah sejak pagi tadi disibukkan dengan tumpukan buku itu. Namun hingga saat itu, Calista sama sekali belum beranjak bangun dari tempatnya hanya sekadar untuk makan atau pun beristirahat.
Akhirnya, setelah Calista menyelesaikan satu buku yang dibacanya tadi, ia menghembuskan nafasnya panjang. Ia lantas mengambil sebuah cangkir yang berisikan kopi di dekatnya lalu menyesapnya, dan setelah itu ia melirik pada Dalvin seraya berkata "Jika kau khawatir padaku, maka temani aku. Duduklah di sana."
"Ya, Yang Mulia." Dalvin pun menuruti perkataan Calista. Ia berjalan menuju sofa yang ada di depan meja kerja Calista lalu duduk di atasnya, menemani Calista menyelesaikan pekerjaannya saat itu.
Sementara itu, Calista kembali mengambil sebuah buku dari atas tumpukannya dan mulai fokus pada buku itu. Jangan lupakan Samantha yang juga menemani Calista di atas pangkuannya bersama dengan Oliver yang bertengger dengan tenang di sudut ruangan.
"Yang Mulia?" Calista tak menjawab saat Dalvin memanggilnya. Ia masih terpaku pada buku yang dibacanya, namun bukan berarti ia tak mendengar panggilan dari Dalvin. "Seharian penuh Yang Mulia di ruangan ini. Sebenarnya apa yang sedang Yang Mulia kerjakan?"
"Tak ada," jawab Calista tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku hanya ingin mencari tahu keterkaitan keluarga Darrel dengan peristiwa penurunan tahta Sang Ratu."
"Penurunan tahta Sang Ratu?" Dalvin semakin dibuat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Calista. Ia lantas berjalan mendekat pada wanita itu lalu berdiri di sampingnya sambil ikut membaca buku yang dibaca oleh Calista.
"Ini buku sejarah Kerajaan Voheshia." gumam Dalvin.
Senyuman Calista mengembang saat mendengar gumaman Dalvin tepat di samping telinganya. Calista lantas menjawab "Ini lebih dari sekedar buku sejarah, Dalvin. Sejarah hanya ditulis oleh para pemenang, tapi tidak dengan ini. Ini ditulis oleh mereka yang dianggap oleh para pemenang sebagai pemberontak. Keluarga Darrel lah yang menulisnya."
Senyuman Calista mengembang saat mendengar gumaman Dalvin tepat di samping telinganya. Calista lantas menjawab "Ini lebih dari sekedar buku sejarah, Dalvin. Sejarah hanya ditulis oleh para pemenang, tapi tidak dengan ini. Ini ditulis oleh mereka yang dianggap oleh para pemenang sebagai pemberontak. Keluarga Darrel lah yang menulisnya."
"Keluarga Darrel?" Dalvin yang terkejut pun lantas menoleh pada Calista. "Bagaimana Yang Mulia bisa tahu buku ini ditulis oleh keluarga Darrel?"
Calista menghela nafasnya, dan ia kemudian menutup buku itu lalu menoleh pada Dalvin seraya berkata "Puluhan tahun yang lalu buku ini dicekal oleh pemerintah Kerajaan karena isinya mempertanyakan kekuasaan wangsa Dominique. Meski begitu, buku ini justru berkembang di Kerajaan Hellenocitus. Ini menjadi bacaan wajbku pada usiaku yang ke-tujuh."
"Dalvin," Calista membuka laci mejanya lalu ia mengambil tiga lembar foto hitam putih dari dalamnya dan kemudian memberikannya pada Dalvin. "Aku ingin kau memeriksakan ini untukku."
"Baik, Yang Mulia." Dalvin mengangguk dan langsung mengambil ke-tiga foto itu dari Calista.