
Suara letupan terdengar keras dari senapan yang digunakan oleh Grand Duke Gedeon di lapangan tembak di Istana. Di sampingnya, Calista bertepuk tangan saat tembakan yang dilayangkan oleh Grand Duke Gedeon tepat pada sasarannya.
"Giliranmu sekarang." ucap Grand Duke Gedeon sembari ia menyerahkan senapannya pada pelayan yang ada di belakangnya.
Calista mengangguk. Setelah seorang pelayan menyiapkan senapan untuknya, Calista mulai mengangkat senapannya. Seekor burung dilepaskan dari sangkarnya dan tak lama kemudian setelah Calista mengarahkan senapannya, ia menarik pelatuk dan menembak tepat pada sasarannya.
Setelah membidik burung itu, Calista menoleh pada Grand Duke Gedeon dengan senyuman cerah di wajahnya seraya ia berkata "Kau lihat aku masih sama seperti dulu, kan?"
"Kau memang masih seperti dulu, Calista." Grand Duke Gedeon tiba-tiba berjalan menjauh dari Calista. Ia mendekati meja makan yang ada tak jauh dari sana dan mengambil dua gelas sampanye lalu menyodorkannya pada Calista.
Calista pun lantas menghampiri Grand Duke Gedeon dan mengambil gelas sampanye itu dari Grand Duke Gedeon dan bersulang dengannya. Selang beberapa saat, Grand Duke Gedeon kembali berkata "Terkadang aku merindukan masa kecil kita."
"Benarkah?" Calista terlihat sedang menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya. Ia kembali meletakkan gelas sampanye yang ada di tangannya ke atas meja dan kemudian ia mengulurkan tangannya pada Grand Duke Gedeon.
Saat Calista mengulurkan tangannya, Grand Duke Gedeon tampak kebingungan dengan apa yang sedang dimaksud oleh Calista. Ia terdiam selama beberapa saat sehingga Calista pun lantas berkata padanya "Kau tidak ingat? Dulu saat kau dan ayahmu berkunjung ke Istana, kau selalu suka dengan latihan dansa bersamaku."
Grand Duke Gedeon yang baru mengingatnya lantas tertawa bersama dengan Calista. Ia lalu meraih tangan Calista dan merengkuh pinggang wanita itu.
Musik mengalun dengan indah sementara itu Calista bersama dengan Grand Duke Gedeon mulai bergerak mengikuti irama musik dengan anggun. Sesekali Grand Duke Gedeon mengangkat tubuh Calista melayang di udara hingga kembali menapak di atas tanah. Kedua netra Grand Duke Gedeon sama sekali tak beralih pada wajah Calista selama mereka menari bersama.
"Apa yang kalian lakukan?!" keduanya terhenti saat mendengar seseorang berseru dari tepi lapangan. Grand Duke Gedeon dan Calista menengok pada Edgar yang berkacak pinggang dan berjalan menghampiri mereka berdua. Edgar tampak kesal saat melihat Calista berdua dengan Grand Duke Gedeon tanpa ditemani oleh Dalvin. Ia lantas berkata "Tidak ada acara formal di sini. Kalian tak perlu sampai seperti itu."
Alih-alih merasa gugup saat melihat kemarahan suaminya, Calista justru tertawa remeh pada Edgar. Ia menatap dengan tajam pada pria yang ada di hadapannya itu dan ia pun berkata "Bagaimana denganmu, Edgar? Margareth juga bukan bangsawan yang memenuhi kriteria untuk menjadi selir."
"Calista," amarah Edgar seketika mereda, digantikan dengan perasaan bersalah yang muncul dalam benaknya. Ia tak pernah melihat Calista semarah itu sebelumnya. Tatapan mata Calista begitu mengintimidasi Edgar sehingga tanpa sadar ia melangkah mundur dari mereka berdua. "Aku bisa jelaskan semuanya."
"Tak ada yang harus dijelaskan, Edgar." ucap Calista sembari ia mengusap bahu Edgar dengan lembut. Calista juga berjinjit untuk menyamakan tubuhnya dengan telinga Edgar lalu ia berbisik "Kau harus ingat bahwa aku menggenggam Hellenocitus dan Lozarayas. Jadi, aku tak ingin kau berulah lagi di hadapanku."
Calista lalu kembali mundur sembari tersenyum pada Edgar seolah tak terjadi apa pun diantara mereka berdua. Kedua manik matanya tanpa sengaja menangkap Margareth yang baru saja datang dan menghampiri Edgar di sana. Lantas Calista pun meraih tangan Grand Duke Gedeon dan menggenggamnya seraya berkata "Kalian tak perlu khawatir akan skandal perselingkuhanku dengan Grand Duke Gedeon. Dia adalah orang kepercayaan ayahku, seperti ayahku mempercayai Dalvin untuk menjadi penasihat pribadiku."
Kedua netra Margareth seketika membola saat mendengar ucapan Calista. Tak hanya Margareth saja, bahkan Grand Duke Gedeon dan Edgar pun ikut dibuat terkejut karenanya. Pandangan Calista yang semula tajam kini melembut meski pun dalam batinnya ia masih merasa kesal. Calista kemudian berkata "Anak itu harus mendapat status di Kerajaan sebelum berita ini tersebar. Aku tak ingin kepercayaan rakyat terhadap Kerajaan berkurang hanya karena masalah sepele seperti ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Musik mengalun dalam ruangan Calista dari piringan hitam yang berputar di sudut ruangan. Sementara itu, di atas kursinya, Calista terpejam dengan tenang.
Ketukan pintu yang terdengar membuat Calista perlahan membuka kedua matanya dan saat ia sudah terbangun, ia mendapati Dalvin sudah berdiri di depan mejanya.
"Yang Mulia tadi memanggil saya?" tanya Dalvin sembari menunduk.
"Ah, Dalvin." Calista mengangguk lalu ia mengambil secarik surat yang tadi ditulisnya dan kemudian menyegelnya. Ia memberikannya pada Dalvin seraya berkata "Sampaikan surat ini pada Kementerian. Katakan ini adalah titah Permaisuri atas persetujuan dari Kerajaan."
"Kementerian?" rasa penasaran timbul dalam benak Dalvin saat ia menerima surat itu dari Calista. Namun saat ia hendak membuka segel dari surat itu, Calista sudah terlebih dahulu menepuk tangan Dalvin dan mendelik padanya.
Dalvin hanya terkekeh geli saat melihat Calista yang kesal padanya. Ia pun berkata "Maaf, Yang Mulia. Saya hanya penasaran."
Sementara itu, Calista beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju rak buku yang ada di sisi ruangan lalu ia membuka salah satu laci yang di bawahnya dan meletakkan sebuah benda tabung ke dalam laci itu. Calista melirik pada Dalvin lalu ia berkata "Aku mengizinkan Margareth untuk menjadi Selir Kerajaan."
"Karena Daniel?" Dalvin sudah menduganya. Ia tahu Calista akan melakukannya hanya untuk menutupi skandal keluarga Kerajaan.
Namun reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh Calista saat menjawab pertanyaan Dalvin. "Aku ingin menjadi Maharani Helleneshia-Lozarayas. Maka dari itu aku perlu Margareth dan Kementerian."
Mendengar itu lantas membuat pikiran dan pandangan Dalvin tertuju pada surat yang dipegangnya. Calista berbalik, dan saat ia melihat kemana arah sorot mata Dalvin, ia tersenyum. "Ya, aku ingin membubarkan Kementerian dan menggantinya dengan yang baru. Aku ingin semua anggota Kementerian yang memiliki latar belakang bangsawan mundur."
"Itu hanya bisa dilakukan atas persetujuan dari Yang Mulia Raja dan Perdana Menteri, Yang Mulia." ucap Dalvin menolak rencana Calista.
"Kurasa tidak jika aku Perdana Menterinya dan Stempel Kerajaan ada di tanganku." Calista tersenyum dengan lebar. "Aku bukan dari wangsa Dominique. Untuk mendapat kekuatan, aku harus mendapat dukungan dari rakyat, maka dari itu aku ingin mengganti anggota Kementerian agar Kementerian tak lagi hanya sebagai boneka Kerajaan untuk mengendalikan rakyat."