Your Majesty

Your Majesty
Chapter 25



Ditengah keramaian kota Calasandra, seorang pria baru saja turun dari sebuah kereta kuda. Kereta kuda itu terhenti tepat di depan sebuah kafetaria La Falcona dan pria itu terlebih dahulu menoleh ke sekitarnya sebelum ia masuk ke dalam kafetaria.


"Sir Dalvin," salah seorang pelayan kafetaria yang ada di dalam membungkuk saat Dalvin melepaskan tudung pada jubahnya. Pelayan itu kemudian menuntun Dalvin menaiki tangga menuju lantai atas.


Saat mereka sudah sampai di atas, tampak seseorang yang asing sedang terduduk bersama Archduchess Ardarel di sana. "Pangeran William, putra Pangeran Harith, Sir Dalvin." Archduchess Ardarel segera mengenalkan William yang berada di sampingnya itu pada Dalvin.


"Paduka Pangeran," Dalvin pun langsung menundukkan wajahnya sejenak pada William yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh William.


Setelah itu, tanpa berbasa-basi Dalvin mengeluarkan sebuah benda yang terbalut oleh kain berwarna merah gelap dari balik jubahnya. Saat ia membuka kain penutup itu, William menatap sepucuk senjata yang berada di dalamnya dengan kagum. "Sesuai dengan permintaan Paduka, The Priestess akan memasok senjata untuk kota Saphile."


Dalvin pun lantas mengerahkan senjata itu pada William. Namun sebelum William menerimanya, ia kembali menarik senjata itu seraya berkata "The Priestess tidak memberikan bantuan secara percuma."


"Tentu, Sir Dalvin." William kemudian mengeluarkan sebuah kantung berwarna coklat dari balik pakaiannya lalu memberikannya pada Dalvin.


Sementara itu, Dalvin yang menerima kantung coklat pemberian William lantas melirik sesaat dan setelah memastikan isinya, ia pun memberikan senjata itu pada William. "Senang berbisnis dengan Paduka Pangeran."


William hanya tersenyum tipis setelah ia menerima sepucuk senjata dari Dalvin. Tak lama kemudian, ia pun menunduk sejenak pada Archduchess Ardarel yang ada di sampingnya lalu ia melenggang pergi meninggalkan Dalvin bersama dengan Archduchess Ardarel.


"Aku tak tahu kau sebenarnya berada di pihak mana." pandangan Dalvin yang semula tertuju pada William yang kian menjauh kini teralihkan pada Archduchess Ardarel yang telah terduduk di tempatnya tadi. Sudut bibir wanita itu terangkat saat ia mengaduk teh dalam cangkir yang ada di depannya seraya ia kembali berkata "Kau penasihat pribadi Calista, tapi kau juga ada di sini, membantu orang yang berusaha menghancurkan Calista."


"Aku tak berpihak pada siapa pun, Nyonya Ardarel." ucap Dalvin sembari ia duduk di seberang Archduchess Ardarel. "Aku berada di pihakku sendiri. Bukan di pihak Yang Mulia Ratu, apalagi di pihak kalian."


"Kau terlalu naif, Dalvin." Archduchess Ardarel mendecih, namun tampaknya Dalvin tak menghiraukannya. Pria yang ada di hadapan Archduchess Ardarel itu justru sibuk menghitung setiap kepingan koin perak yang berada di dalam kantung pemberian William tadi. Meski pun merasa diabaikan, Archduchess Ardarel tetap kembali berkata "Kau tak bisa berada di pihakmu sendiri, Dalvin. Kalau kau kalah, tak akan ada yang bisa membelamu."


Untuk sesaat, Dalvin melirik pada Archduchess Ardarel sebelum akhirnya ia kembali berfokus pada tumpukan koin perak yang ada di depannya. Ia lalu berkata "Kalau pun aku memihak pada kalian, tak ada jaminan pihak kalian lah yang akan menang."


"Benarkah?" Archduchess Ardarel seketika merasa tertantang saat mendengar celotehan Dalvin. Sebenarnya ia tak yakin ucapan Dalvin itu sepenuhnya benar karena ia memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh Calista. "Aku bisa mengalahkan Calista dengan apa yang kumiliki."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu, Calista tengah bersantai di atas menara di Istana bagian barat. Pemandangan indah yang terlihat dari atas menara membuat Calista enggan untuk berpindah dari tempatnya berada. Ia bahkan tak sendirian di atas sana. Di sana, ia juga ditemani oleh Samantha dan Oliver, burung hantu pemberian Edgar.


Ia menghabiskan waktu sorenya dengan menikmati secangkir teh bersama dengan makhluk-makhluk kesayangannya. Alunan musik juga terdengar mengalun, membuat Calista merasa sangat nyaman.


Tak hanya Calista, Samantha bahkan juga terlihat sedang tertidur di atas pangkuan Calista sementara bulu-bulunya disisir lembut oleh Calista.


Namun disaat itu, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki menapaki anak tangga hingga akhirnya suara itu terhenti tepat di depan pintu. Setelah beberapa ketukan pada pintu, sang pemilik suara akhirnya masuk ke dalam ruangan.


"Yang Mulia," Lord Havaar dengan segera menunduk pada Calista sementara wanita itu hanya mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja.


"Duduklah." ucap Calista sembari mengayunkan tangannya mengisyaratkan Lord Havaar untuk duduk di seberangnya.


"Ya, Yang Mulia." Lord Havaar hanya mengikuti yang dikatakan oleh Calista untuk duduk di seberang wanita itu.


Sementara itu, Calista melirik sekilas pada Dalvin. Dalvin pun lantas mengeluarkan sebuah benda berbentuk tabung lalu membukakan penutup benda itu dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.


Calista langsung mengambil kertas itu dan kemudian ia mengambil sebuah benda yang berada di tepian mejanya. Stempel Kerajaan, benda yang diberikan oleh Lady Sarah saat itu. Calista pun kemudian menempelkan stempel itu pada sudut bawah kertas yang tadi diserahkan oleh Dalvin padanya.


Kini Calista beralih menatap Lord Havaar dengan tatapannya yang lembut. Meski demikian, Lord Havaar justru merasa tak nyaman dengan tatapan Calista dan memilih untuk menunduk tanpa berbalik menatap wajah gadis itu.


Sementara Calista hanya menghela nafasnya panjang. Senyuman pada wajahnya memudar sedangkan tangannya meraih kertas yang berada di atas meja tadi. Calista lantas bertanya "Kau tahu apa kesalahanmu sampai kau aku panggil kemari?"


Lord Havaar hanya menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Hal itu lantas membuat Calsita kembali menghela nafasnya kasar. "Kau meninggalkan kota Saradokh saat kota itu membutuhkan bantuan. Kau tahu apa konsekuensi atas perbuatanmu itu?"


"Tidak, Yang Mulia." kali ini Lord Havaar memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari Calista meski pun dengan suaranya yang lirih.


Di seberangnya, Calista terdiam untuk beberapa saat. Dan tak lama kemudian, ia kembali berkata "Lord Eamon Coryl Havaar dijatuhi hukuman mati atas pengkhianatan yang dilakukan terhadap Kerajaan."


"Yang Mulia!" Lord Havaar begitu terkejut saat mendengar ucapan dari Calista, sehingga tanpa sadar ia meninggikan suaranya dan membuat Samantha yang berada di pangkuan Calista kini terbangun dan melompat turun dari pangkuannya. "Hukuman yang saya terima tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan, Yang Mulia."


Calista sebenarnya sedikit kesal saat Lord Havaar meninggikan suaranya. Namun begitu, Calista tetap berusaha mengontrol emosinya dan berbicara dengan tenang pada Lord Havaar. "Aku tahu pengkhianatan yang kau lakukan terhadap The Priestess, Lord Havaar. Kau tak perlu terus berpura-pura."


"Yang Mulia," Lord Havaar seketika merasa gugup. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Calista, namun seringaian wajah Calista membuatnya merasa tak nyaman.


Tawa lirih terdengar keluar dari mulut Calista. Wanita itu kemudian mengambil Stempel Kerajaan dan memegangnya sembari menunjukkannya pada Lord Havaar. "Kau tahu, dengan benda sekecil ini aku bisa menguasai Voheshia dengan mudah. Aku tak memerlukan pengakuan hukum Kerajaan agar aku menjadi penguasa Voheshia. Dengan ini, aku tak hanya menjadi Maharani Hellenocitus-Lozarayas, tetapi juga Helleneshia-Lozarayas."


"Ups," Calista dengan segera menutup bibirnya menggunakan tangannya. "Aku berbicara terlalu banyak padamu."


"Dalvin," Calista menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya itu. Sedangkan Dalvin hanya mengangguk dan seketika terdengar suara letupan sesaat setelah Dalvin menarik pelatuk senjata yang ditodongkan pada Lord Havaar.


"Satu masalah kita selesai." ucap Calista dengan tersenyum saat melihat jasad Lord Havaar tersungkur di lantai dengan bersimbah darah.