
Setelah selesai berkutat dengan tumpukan buku yang ada di depannya, Calista akhirnya bangun dan ia berjalan menuju jendela ruangannya lalu membuka tirai berwarna hitam itu lebar-lebar. Terlihat dari jendela matahari telah menampakkan dirinya di ufuk timur menyambut pagi yang cerah itu.
Nyanyian burung-burung juga terdengar merdu di Istana itu. Bunga yang Calista rawat dan ia letakkan di jendela pun kini mulai mekar menampilkan kelopak putihnya yang indah.
Setelah membuka tirai jendela, Calista kemudian berbalik menuju sofa lalu ia merebahkan tubuhnya di atas sofa itu. Semalaman suntuk ia bergadang membuat kedua kelopak matanya terasa sangat berat.
Tak butuh waktu lama untuk kedua mata Calista terpejam dan membawanya menuju alam mimpi. Dengkuran halus juga sesekali terdengar.
Namun setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba Calista merasakan sesuatu yang mengelus rambutnya dengan lembut. Kedua kelopak matanya perlahan terbuka namun saat ia melihat ke sampingnya, matanya membulat sempurna.
Edgar tersenyum pada Calista yang baru saja bangun sembari ia memangku kepala istrinya itu. Calista yang terkejut akan kehadiran Edgar yang mendadak itu lantas bangun dan duduk di samping Edgar dengan wajahnya yang berpaling.
"Kata Dalvin kau bergadang semalaman." ucap Edgar.
Calista sama sekali enggan untuk menoleh padanya sehingga membuat Edgar lantas menarik tubuh Calista dan membuat Calista bersandar padanya. Ia kembali mengusak rambut coklat gelap milik Calista dan sesekali mengecup keningnya. "Seharusnya kau bilang padaku. Kalau aku membantu, kau mungkin tak perlu untuk bergadang semalaman."
Saat Edgar melirik pada Calista, ia kembali mendapati Calista sedikit memejamkan matanya. Edgar pun terkekeh saat melihatnya. Ia kemudian berkata "Kau sepertinya kelelahan. Sebaiknya kau beristirahat."
Edgar pun kembali merebahkan tubuh Calista pada sofa dan membiarkannya untuk beristirahat. Ia berjalan keluar setelah ia mengecup kening istrinya itu dan memastikannya telah tidur.
Saat Edgar baru saja keluar dari pintu ruangan itu, seseorang sudah menantinya dan berdiri di depannya. "Sedang apa kau di sini, Margareth?" tanya Edgar pada wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Untuk sesaat Margareth hanya terdiam dengan wajahnya yang menatap pada wajah Edgar dengan serius. Sedikit demi sedikit Margareth melangkahkan kakinya hingga membuat Edgar tanpa sadar berjalan mundur.
Merasa dirinya terpojok tanpa alasan yang jelas lantas membuat Edgar kesal. Ia bingung dengan alasan Margareth bersikap aneh padanya saat itu. "Sebenarnya ada apa denganmu, Margareth?!"
"Kau tak mengingatnya?" Margareth tersenyum miring pada Edgar, membuat pria itu semakin dibuat bingung karenanya. "Kau benar-benar tak ingat kalau kita dulu pernah berkencan?"
"Aku kecewa denganmu, Edgar." senyuman pada wajah Margareth kian memudar. Edgar sendiri berusaha mati-matian untuk menahan tubuhnya agar tak menabrak pintu yang ada di belakangnya. Akan terjadi kesalahpahaman jika Calista terbangun dan mendapati mereka berdua saat itu di depan ruangannya.
Tanpa sengaja Margareth melirik pada tangan Edgar yang sedang berusaha menahan pintu di belakangnya agar tak terbuka. Dengan wajahnya yang menyeringai, Margareth berkata pada Edgar "Apa kau takut? Woah, aku baru tahu orang sepertimu bisa takut pada istrimu sendiri."
Namun Margareth justru terkejut saat Edgar mendadak mendekatkan wajahnya hingga berada tepat di samping telinganya. Edgar melirik sekilas pada wanita itu, lalu ia pun berbisik padanya "Katakan dengan jelas jika ada sesuatu yang kau inginkan."
"Daniel adalah anak kandungmu, Edgar." ucap Margareth. Saat ia menatap pada wajah Edgar, pria itu sama sekali tak menunjukkan ekspresinya. "Jadikan aku selirmu, maka rahasia tentang Daniel akan aman bersamaku."
Sementara itu, senyuman tipis mengembang pada wajah Edgar. Tampaknya ia tak menghiraukan ancaman dari Margareth, ia justru berkata "Akan kubahas dengan Calista tentang permintaanmu. Bagaimana pun juga ia adalah Permaisuriku."
Margareth pun hanya melirik tajam saat Edgar berjalan meninggalkannya di depan ruangan kerja milik Calista. Seketika rahangnya mengeras menahan amarah yang memuncak dalam dirinya.
Tanpa mereka berdua sadari, sudah sedari tadi Calista berdiri di balik pintu sembari mendengarkan seluruh isi pembicaraan mereka. Tangan Calista dengan kuat mencengkram kenop pintu hingga memutih ruas-ruas tangannya.
"Kau juga mendengarnya, Samantha?" gumam Calista sembari berjongkok untuk menyamakan tubuhnya dengan Samantha yang berdiri di bawahnya.
Saat itu, Calista mulai merasa bimbang. Di satu sisi, ia tak menganggap serius tentang pernikahannya dengan Edgar. Pernikahan itu tak lebih dari status dan langkah Calista untuk mencapai ambisinya. Namun di sisi lain, Calista merasa sakit saat mengetahui suaminya itu memiliki seorang anak diluar pernikahannya.
Calista kembali merapatkan telinganya pada pintu dan mempertajam indera pendengarannya. Suara langkah kaki Margareth mulai terdengar menjauh hingga akhirnya tak lagi terdengar olehnya.
Setelah memastikan bahwa Margareth tak lagi berada dalam jangkauannya, Calista pun kembali berdiri dan ia membuka pintu itu perlahan lalu menyembulkan kepalanya keluar. Ia menyapu pandangannya pada sekelilingnya, memastikan tak ada orang lain selain dirinya sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.
Bersama dengan Samantha yang mengekor di belakangnya, Calista menyusuri lorong hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah ruangan tempat Dalvin tinggal.
Calista terlebih dahulu mengusap air mata yang masih membekas pada wajahnya sebelum ia mengetuk pintu ruangan milik Dalvin. Akhirnya, setelah beberapa ketukan, sang pemilik ruangan membukakan pintu dan menunduk sejenak pada Calista. "Yang Mulia. Ada apa Yang Mulia kemari sepagi ini?"
"Ada yang ingin aku bicarakan di dalam." Dalvin mengangguk, lantas ia mempersilahkan Calista untuk masuk ke dalam ruangannya dan kembali menutup pintu itu setelah Calista bersama dengan Samantha sudah berada di dalam ruangannya.
"Silahkan, Yang Mulia," Dalvin mengayunkan tangannya ke arah sofa, mempersilahkan Calista untuk duduk.
Calista mengangguk, ia kemudian terduduk di sofa itu lalu mengangkat tubuh Samantha dan mendudukkan kucing itu di atas pangkuannya.
Selama beberapa saat Calista menunggu sampai akhirnya Dalvin datang menghampirinya dengan membawakan sebuah nampan yang berisikan sebuah teko dan cangkir serta sepiring kue.
"Yang Mulia pasti belum sarapan." ucap Dalvin sembari ia meletakkan nampan itu di atas meja dan menyajikan teh serta kue yang dibawanya untuk Calista.
"Terimakasih, Dalvin." Calista pun mengambil sepotong kue itu dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.
Saat Calista sedang menyantap hidangan itu, Dalvin baru saja menyadari bahwa kedua mata wanita yang ada di seberangnya itu merah membengkak, seperti seseorang yang baru saja menangis.
"Apa yang membuat Yang Mulia sampai menangis?" tanya Dalvin tanpa berbasa-basi.
Sementara itu, Calista tersenyum tipis dan langsung menghentikan sarapannya. Ia kemudian berkata "Padahal sudah kusembunyikan, tapi sepertinya masih terlihat jelas."
"Maaf, Yang Mulia." Dalvin lantas menundukkan wajahnya.
Calista terdiam untuk beberapa saat. Tangannya bergerak dengan lembut mengelus tubuh Samantha yang berada di pangkuannya. Namun tak lama kemudian, air mata kembali menetes sehingga membuat Dalvin semakin dibuat bingung olehnya.
"Tempat ini jarang dikunjungi, Yang Mulia. Jika Yang Mulia ingin berteriak, tak akan ada orang yang mendengarnya." ucap Dalvin.
Sesaat kemudian, Calista meraung dan melepaskan amarahnya yang tertahan. Beberapa kali terdengar teriakan hingga akhirnya Calista pun berhenti dari teriakannya itu.
Setelah lega karena meluapkan emosinya, Calista lalu mulai bercerita pada Dalvin. "Daniel adalah anak Edgar dan Margareth. Kini Margareth menuntut posisi Selir pada Edgar untuknya. Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"
"Yang Mulia," Dalvin sangat terkejut saat mendengar ucapan Calista. Bahkan ia perlu untuk berfikir sejenak dan terdiam saat Calista menanyainya. "Saya akan melakukan apa pun yang diperintahkan oleh Yang Mulia."
"Aku ingin kau menghabisi seluruh keluarga Ardarel sampai tak ada sisa dari mereka." ucap Calista. "Cukup sisakan Margareth dan Daniel untukku."p