You Think

You Think
Ekstra Chapter



5 tahun kemudian


Hari yang begitu cerah untuk Sean yang sedang berjalan sendirian dengan senyum secerah sinar mentari dan bunga tanganya.


Sean merapikan jasnya dan mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.


Sean berjalan dengan sedikit melambat ketika sudah berada dekat dengan satu makam yang bertuliskan Angela Wang.


Hari ini adalah hari kematian Angel. Sudah 5 tahun berlalu Angel meninggalkannya sendirian.


Sean duduk dan tersenyum pedih saat tangannya menyentuh tulisan makam kakaknya.


"Hai kak. Sean datang lagi. Semoga kakak baik-baik saja disana, Sean baik-baik saja dan sekarang Sean sudah dewasa. Apakah kakak tau.. Sean kesepian. Sean rindu kakak. Rindu senyuman kakak... rindu.."


Sean tak kuat membendung lagi tangisannya ketika mengingat semua kenangan manis bersama kakaknya.


"Maafkan Sean.."


Sean akhirnya berdiri setelah meletakkan bunga yang ia bawa.


Selalu seperti itu ketika Sean mengunjungi kakaknya. Hanya sebentar karena tak kuat menahan kerinduan dan akhirnya memilih untuk pergi.


🏵


Setelah kepergian Sean, tak lama kemudian datanglah seseorang dengan langkah kaki yang agak diseret paksa.


Glen membungkukkan badannya dan memberi hirmat seperti biasa ketika Angel masih hidup.


"Maafkan saya nona.. karena tak bisa melindungi nona. Maafkan saya."


Setelah itu akhirnya Glen pergi dalam diam dengan air mata yang mulai mengalir.


Rasa bersalah yang besar membuat Glen tak kuasa menahan tangisannya ketika sampai di makam Angel dan akhirnya tak pernah berbicara.


🏵


Ares datang bersama dengan Jo. Mereka datang bersamaan karena mereka bertemu di depan makam.


Ares meletakkan bunga kesukaan Angel dan diikuti Jo. Ares menatap nisan makam Angel dengan datar. Seharusnya dia ikut saat acara amal itu dan mungkin saja keadaab akan lebih baik.


"Ini bukan salah mu."


Jo yang tau isi fikiran Ares hanya bisa memberinya pengertian.


"Gue tau."


"Nona.. maafkan saya yang baru datang sekarang. Mungkin nona sudah lupa dengan saya tapi saya akan selalu mengingat kebaikan nona. Semoga nona baik-baik saja disana."


Ares dan Jo meninggalkan makam Angel dengan suasana hati yang buruk.


🏵


Sebuah kursi roda memasuki area pemakaman dan dikawal oleh 3 orang laki-laki. Ares dan Jo membungkuk memberi hormat dan dibalas dengan anggukan.


"Mereka akhirnya datang."


Jo melihat keluarga itu dengan senyum tulus dan menyusul Ares yang sudah berjalan menajuh darinya.


Tangis seorang wanita mengiringi langkah mereka menuju sebuah makam. Mereka berhenti di depan makam Angel.


"Ayah datang, Angel. Ada ibu dan kedua kakakmu juga."


Entah kenapa suara sang ayah terdengar serak dan perlahan-lahan mata tuanya mengeluarkan air mata.


"Maafkan ayah yang gagal menjagamu."


Sang ayah berdiri dan memberikan ruang untuk istrinya untuk mendekati makam Angel.


Dengan tangan gemetar, sang ibu memegang batu nisan Angel. Tangis mengiringi setiap sentuhan pada batu nisan itu. Sekarang Ibu Angel berada di kursi roda karena sebuah kecelakaan 5 tahun lalu saat menyusul Angel yang disandera dan akhirnya dirinya kecelakaan sebelum bisa melihat anaknya.


"Maafkan ibu. Maafkan ibu yang tak bisa melindungi mu. Maafkan ibu...."


Sang ayah menenangkan istrinya dan memeluknya. Dari arah belakang ada Riyan dan Gio yang hanya menatap kedua orang tuanya.


Riyan maju dan mendekati makam Angel. Riyan meletakkan bunga yang Angel benci. Mawar merah.


"Kakak tau kamu membenci bunga ini. Kakak berharap kamu akan datang dan marah kepada kakak seperti dulu. Seperti waktu kita kecil. Adik kakak sudah dewasa. Kakak tau itu tapi.. haruskah kau menghukum kakak seperti ini? kematian bukanlah sebuah permainan adik ku."


Riyan mengelus batu nisa Angel. Gio memegang pundak Riyan untuk mengingatkannya untuk tidak berbicara panjang lebar.


Riyan mengusap air matanya dan segera pergi untuk memberi ruang kepada Gio.


"Hai.. Devil."


Gio meletakkan bunga mawar merah di atas makam Angel.


"Maafkan aku yang juga memberimu mawar merah. Kakak juga ingin merasakan apa yang dirasakan Riyan. Jangan terlalu pemilih. Aku juga kakak mu... Kakak akan hidup bahagia bersama keluarga kita. Kakak akan kembali membangun keluarga kita. Kakak kembali.."


Gio menangis ketika mengatakan kembali.


"Maafkan kakak yang hanya bisa mengunjungimu sehari sekali selama ini. Harusnya kakak bersama dirimu seharian agar.."


Gio tak bisa melanjutkan kata-katanya dan akhirnya memilih berdiri.


"Maafkan kami Angel. Ayah akan datang lagi nanti bersama keluarga kita. Ayah janji akan sering datang. Sekarang kami pamit pulang dulu. Sampai jumpa lagi anak ku."


Sang ayah mencium batu nisan anaknya lama hingga akhirnya melepaskan ciumannya dari batu nisan. Keluarha itu akhirnya berjalan menjauh dari makam itu dan menyisakan keheningan kembali.


*Aku juga merindukan keluarga kita utuh lagi.


🏵*


Varo dan Vian (Wu) berjalan bersama memasuki area pemakaman dengan bunga ditangan masing-masing. Varo dengan jas hitamnya dan Vian dengan jas biru tuanya.


Jangan lupakan bunga tulip putih dan bunga mawar putih. Senyum mengembang di wajah masing-masing membuat keduanya terlihat akan melamar seorang wanita.


Vian yang bodo amat dengan Varo berjalan terlebih dahulu dan mencium batu nisan Angel.


"Hai, Angel. Aku datang."


Vian meletakkan bunganya didekat bunga yang lain.


"Bagaimana kabar mu hari ini? Ah.. pasti kau bahagia bukan. Terimakasih untuk segalanya. Karena mu.. sekarang aku bisa melihat kembali. Aku menggunakan kedua mata mu dengan baik. Terimakasih karena sudah memikirkan ku."


Vian menyingkirkan beberapa rumput kecil yang mulai tumbuh di sekitar makam Angel.


"Ah.. iya.. sebentar lagi aku akan menikah. Aku akan menikah dengan Shelly. Kau belum pernah melihatnya. Aku berharap kau juga melihatnya."


"apa yang kau katakan. Angel juga melihatnya melalui kedua mata itu."


Varo berdiri di belakang Vian tanpa suara.


"Ah iya.. tentu saja kau melihatnya. Kau juga pasti melihatnya bukan ketika Varo sedih.."


"Tutup mulut mu, Vian!."


Varo menghentikan ocehannya. Vian hanya bisa tertawa dan kemudian berdiri. Mempersilahkan Varo untuk duduk mendekat.


Varo mengganti bunga mawar merah yang ada di atas makam Angel dengan bunga tulip yang ia bawa.


"Hai, Love. Aku datang lagi."


Varo mencium batu nisan Angel lama.


"Ah.. aku merindukan mu love. Aku masih bisa merasakan pelukan mu. Aku mungkin gila."


"Varo.."


Vian memperingati Varo agar tak mulai mengucapkan kata-kata aneh.


"Iya-iya aku tau."


Varo menatap sendu cincin di tangannya. Cincin pertunangan mereka.


"Ah.. kita batal menikah."


Vian menatap arah lain saat Varo mengucapkan kata menikah. Dulu ia dan Angel juga berencana menikah. Rasanya itu nyata ketika Angel mengatakan ya.


"Aku mungkin sudah tua dan tak muda lagi. Tapi.. aku berjanji jika selama sisa hidup ku ini hanya untuk mu dan aku akan menunggumu."


"Varo.."


"Aku akan menunggumu entah harus bertahun-tahun atau ratusan tahun. Aku akan menunggu."


Vian menatap khawatir keadaan mental Varo. Ia takut jika Varo kembali depresi. Varo depresi selama 2 tahun dan itu membuat semua orang sedih. Bahkan Varo sempat kembali menjadi psikopat lagi tapi untung saja ada Vian yang menyadarkannya.


"Angel pasti ingin kau bahagia, Varo."


"Aku tau."


Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat.


"Kita harus kembali, Varo."


"Sebentar lagi. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Angel lebih lama lagi. Mungkin saja dia kesepian saat ini. Aku akan menemaninya."


Vian menarik tangan Varo agar berdiri dan Varo menurut. Vian menyangga tubuh lemas Varo.


"Varo!."


"Ah.. maafkan aku."


Varo akhirnya berdiri tegak dan membungkuk untuk mencium batu nisan Angel.


"Aku akan pulang. Ingat aku. Aku akan segera kembali dan mengunjungi mu sesering mungkin. Ada Vian yang akan menjaga ku jadi.. jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku akan menunggu mu. Aku pergi.. love."


Varo dan Vian pergi meninggalkan area pemakaman.


🏵


Berharap jika ini adalah sebuah awal yang baik bagi keduanya. Agar mereka bahagia dengan cara mereka sendiri.


Kematian Angel memang meninggalkan duka yang dalam tapi tidak bagi Varo. Dia akan selalu mengingat Angelnya.


*Aku akan menunggumu...


Aku akan menunggu hari itu..


Hari dimana kita akan bertemu lagi..


_The End_


🏵


Terimakasih untuk kalian yang sudah setia membaca You Think


Maafkan author kalau cerita agak gak jelas atau emang gak jelas 🙈


Cerita ini tadinya mau tak bikin happy ending tapi entah kenapa gak nemu jalan untuk happy ending.


Mungkin ini sebabnya author untuk pertama kalinya bikin cerita yang sad ending. 🙈


Stay safe untuk semuanya dan jaga kesehatan kalian.


Sampai jumpa lagi di cerita author yang lain.


_Bye