
Angel turun dari helikopter yang membawanya terbang dari Jepang ke China.
Butuh tenaga ekstra untuk membuat kaki Angel berpijak dengan kuat. Rasa sakit yang Angel tahan dari tadi semakin membuatnya menderita.
"Nona.."
"I'm Fine."
Angel berjalan dengan pelan sambil meremas tangan.
"Akh.."
Angel berteriak kecil dan dengan sigap Jo segera menangkap Angel.
"Nona....!!."
Jo segera menggendong Angel masuk ke dalam gedung tempat mereka mendarat.
"Hubungi tuan Glen! Cepat! Dokter juga!. "
Jo membawa Angel menuju kamar dan meletakkannya dengan hati-hati. Angel sudah kehilangan kesadarannya.
Jo menatap Angel dengan tatapan sendu.
"Sudah mulai ya."
🏵
Glen yang menerima telepon tentang Angel langsung segera menuju ke tempat yang anak buahnya arahkan.
"Jo.. Apa kau sudah menghubungi dokter George?."
"Sudah tuan. Dokter George dalam perjalanan."
"Perketat keamanan. 10 menit lagi saya sampai."
"Baik tuan."
Tut..
Glen menatap luar jendela mobil dengan cemas.
Haruskah nona juga?
🏵
"Bagaimana keadaan nona?."
Dokter George memandang Glen dengan tatapan sulit diartikan.
"Maafkan aku Glen. Usaha kita selama ini sia-sia. Penyakit itu ternyata sudah menggerogoti tubuh nona. Tanda-tandanya sangatlah kecil sampai aku saja susah mendeteksinya. Maafkan aku."
Glen menatap nonanya dengan sedih. Penyakit itu sungguh bersarang di tubuh nonanya. Sejak kapan?
"Lalu.. berapa lama lagi nona akan bertahan?."
Dokter George menepuk pundak Glen.
"4 bulan. Paling lama."
"Kenapa waktunya sedikit sekali?."
"Nona.. menolak kemo."
"..."
Semua orang mulai menangis setelah mendengar keadaan nona mereka.
"Lakukan yang terbaik."
"Aku sudah bilang pada nona 2 bulan lalu."
Glen mencengkeram lengan dokter George dengan kuat.
"Apa maksudmu?."
"Nona.. menolak melalukan kemo. Aku sudah memaksanya Glen! Bahkan kami bertengkar karena nona yang masih saja ngotot tak mau kemo."
Glen langsung lemas.
"Nona bilang.. Ini memang sudah waktunya."
"Baiklah. Aku mengerti. Berikan saja obat pengurang sakit kepada nona. Kau bisa istirahat."
Dokter George menghela nafas pasrah dan segera pergi dari kamar diikuti oleh beberapa orang. Di dalam ruangan itu hanya ada Glen dan Angel yang masih betah tidur.
Glen duduk di kursi yang tersedia di dekat kasur Angel.
"Nona.. inikah yang selama ini nona sembunyikan dari saya?."
"..."
Glen menatap Angel dengan tatapan sedih.
"Pendidikan tuan muda akan segera selesai dan akan kembali ke sini. Cepat atau lambat tuan muda pasti akan tau kondisi nona yang semakin memburuk."
"..."
"Nona tau.. ini masih jauh dari rencana kita nona."
Glen menundukkan kepalanya dan setetes air mata tampak membuat noda di celana Glen.
"Aku tau Glen."
Glen mengangkat kepalanya dan segera menghapus air matanya.
"Nona.. Nona sadar. Akan saya panggilkan George."
"Tidak perlu Glen. Duduklah."
Glen akhirnya kembali duduk dan menatap khawatir Angel.
"Kita punya banyak hal untuk dibicarakan. Termasuk masa depan klan."
🏵
Korea
"Disini dingin."
Seorang pemuda sedang menatap langit sore dengan tatapan sendu.
"Tuan muda.."
Pemuda yang dipanggil tuan muda itupun menolehkan kepalanya dan tersenyum.
Tanpa sadar ada 3 orang laki-laki berpakaian serba hitam berlari ke arah pemuda itu.
"Ah.. kalian berhasil menemukan ku."
"Tuan muda! Tolong jangan seperti itu lagi. Kami khawatir."
"Mianhae."
"..."
"Kami sudah mengatakannya.. tuan muda."
"Kalian memang... Ayo pulang. Ini mulai dingin."
Salah seorang laki-laki melepaskan jasnya dan segera memakaikannya ke tuan muda mereka.
"Terima kasih, Zack."
"Sudah tugas saya, tuan muda."
🏵
Hari-hari sedih sudah berlalu dan sekarang digantikan kegembiraan karena tuan muda **** mereka akan segera datang.
Angel sudah membaik dan terlihat lebih segar daripada beberapa hari lalu yang berbaring di kasur.
Kondisi Angel semakin melemah tapi Angel menutupinya dengan senyuman.
"Glen.."
"Ya nona."
"Kapan sampai?."
Glen melihat arloji di tangannya.
"Sebentar lagi nona."
"Hmm.."
Disaat bersamaan, pesawat pribadi Varo juga baru saja mendarat di bandara yang sama dengan Angel.
"Tuan.. "
Varo melihat sekretarisnya dengan tatapan tajam. Saat ini Varo sedang dalam suasana hati yang buruk. Karena tak bisa menghubungi maupun bertemu Angel.
"Ada apa?."
"Menurut salah satu mata-mata kita, Nona Angel di sini. Sekarang tuan."
Varo terdiam.
"Sekarang?."
"Iya tuan."
"Dimana?."
"Di gate 4."
Varo tanpa bicara lagi langsung menuju ke tempat Angel dan diikuti oleh anak buahnya.
🏵
Angel berjalan bersama rombongannya menuju Gate 4. Angel menghela nafas malas saat matanya menatap sosok yang dihindarinya.
"Angel.."
Mau tak mau Angel terpaksa menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini Varo?."
"Menemuimu."
Angel hanya menampilkan senyum terpaksa. Varo sedikit merasakan ngilu saat Angel tak menunjukkan ekspresi senang.
"Nona.."
Angel berbalik menatap Glen.
"Sudah saatnya."
"Oh.. baiklah. Kalian duluan. Nanti aku menyusul."
Rombongan Angel memberi hormat dan segera berlalu mengikuti Glen.
"Mau kemana?."
"Hanya menangani beberapa urusan."
Angel melirik anak buah Varo.
"Sepertinya kau tak bermaksud menemui ku. Kau memiliki banyak koper di belakang mu."
Varo terdiam.
"Aku masih ada urusan. Bye."
Varo menatap Angel yang berlalu begitu saja. Varo menggertakkan giginya.
"Ikuti mereka."
"Baik tuan."
🏵
Dilain tempat.
Glen sedang memeluk seorang pemuda dan tersenyum bahagia.
Mood Angel yang tadinya hancur seketika kembali membaik ketika melihat siluet pemuda itu.
"Ah.. nona muda."
Pemuda itu segera membalikan tubuhnya dan segera berlari ke Angel.
"Wooohhh..."
Angel menerima serangan pelukan dari sang pemuda itu.
"Aiyoo.. Kau sudah sebesar ini dan masih saja manja."
"Hanya pada kakak."
"Benarkah."
"Hmm."
Tubuh pemuda itu lebih tinggi daripada Angel sehingga membuat Angel lah yang tenggelam dalam pelukan pemuda itu.
"Selamat datang.. Sean."
🏵
TBC
🏵