
Angel menatap baju pengantin di kamarnya. Baju pengantin yang harusnya ia pakai besok saat acara pernikahannya..
Sumber Foto : Pinterest
Angel menatap baju pengantinnya dengan kecut. Ia tak akan pernah bisa bahagia. Itulah yang harus Angel tau.
Ibu Angel masuk ke dalam kamar anaknya dan menatap sedih Angel yang sedang menatap gaun pengantinnya.
Kenapa ini semua terjadi pada Angel?
Ibu Angel tak kuat membendung air matanya dan memutuskan untuk pergi. Beliau tak ingin membebani putrinya dengan tangisannya. Cukup pernikahan mereka yang akan batal. Jangan kebahagiaan Angel yang jadi korbannya.
🏵
"Nona.. pesawat anda akan berangkat nanti malam jam 2."
"Hmm."
"Nona.."
"Tutup mulum mu Glen! lakukan seperti yang ku perintahkan."
"Baik nona."
Angel memutuskan telepon secara sepihak. Angel tak mau menangis. Angel harus tegar. Tinggal malam ini.
Malam ini adalah malam terakhir kali ia bisa melihat wajah bahagia Varo sebelum senyuman Varo hilang.
Angel menatap foto Varo yang berada di ponselnya. Tadi malam ia mengambil foto wajah bahagia Varo diam-diam.
Mungkin ini yang disebut takdir.
Angel ingin bahagia tapi yang disebut kebahagiaan tak datang padanya.
"Tampan tapi psyco."
Ngomong-ngomong soal psyco, Varo sudah menjalani terapi psikis secara teratur bersama Angel tentunya. Mental Varo perlahan lahan mulai kembali normal.
Walaupun belum dinyatakan bebas tapi setidaknya Varo tak membuat semua orang pusing dengan tindakannya yang membunuh orang.
"Kita tersakiti dengan cara yang berbeda."
Angel menghapus foto Varo dari ponselnya. Angel menatap kosong ponselnya. Apa itu kebahagiaan? Angel tak tau apa itu.
🏵
Malam berlalu dengan cepat dan hari pernikahan antara Varo dan Angel sudah di depan mata. Tinggal 4 jam menuju acara pernikahan.
Varo yang semalaman tak bisa tidur karena gugup dan itu membuat tanda hitam dibawah matanya.
"Kau tak tidur Varo?."
Varo menatap mamanya dari cermin.
"Varo terlalu senang ma sampai lupa untuk tidur."
Mama Varo membenahi dasi Varo. Tiba-tiba air mata mama Varo mengalir.
"Ma...?."
Mama Varo segera menghapus air matanya.
"Mama hanya ingat mendiang kakak mu. Vian. Mungkin kalau Vian masih ada disini.. "
Mama Varo tak bisa meneruskan ucapannya karena menangis. Varo segera memeluk mamanya. Varo berusaha menenangkan mamanya.
"Kakak pasti sudah bahagia ma."
"Mama juga berharap begitu."
Mama Varo segera berhenti menangis karena ingat make upnya. Varo memutar matanya jengah.
"Apa yang kalian lakukan disini? .. Mama nangis?."
Papa Varo berdiri diambang pintu dan kaget melihat istrinya yang sedang mengusap air matanya.
"Mama ingat kak Vian pa."
"..."
"Pa?."
Varo segera menepuk bahu ayahnya yang terdiam.
"Ah.. apa?."
"Lupakan. Ayo pa. Kita harus ke hotel."
"Ah.. iya. Mama benahin dulu ya make up mama."
"Terserah."
Varo dan papanya menjawab kompak. Mereka tersenyum tipis karena tau reaksi mamanya yang sedang menatap tajam mereka.
🏵
Angel juga sudah siap dan akan berangkat ke hotel tempat pernikahannya akan dilaksanakan. Angel melihat Ayah dan ibunya yang sedang sibuk ini itu.
Angel duduk sambil makan cemilan yang dibawakan oleh Glen.
"Nona.. mobil nona sudah siap. Saya juga sudah menyiapkan segalanya."
Angel berhenti mengunyah dan menatap jam.
"Masih lama."
"Tapi sebentar lagi kita akan berangkat nona."
"Baiklah."
Angel bersama keluarganya berangkat menuju hotel. Dalam perjalanan, Angel naik mobil sendiri bersama seorang supir. Keluarganya naik mobil di depannya dan Glen bersama rombongan klan berada di belakangnya.
Angel terlalu sibuk dengan dunia melamunnya sehingga tak melihat wajah sang supir yang sudah berganti. Angel sadar ketika jalur nya tak sama dengan rombongannya. Angel melihat ke belakang dan Glen masih mengikutinya.
"Pak, ini bukan arah ke hotel."
"Memang bukan nona."
"Apa mak.."
TING
Angel membuka pesan masuk. Nomor tak dikenal.
From Unknow
Aku harap kau suka dengan hadiah ku.
My Angela Wang.
Satu kata yang terlintas dalam benak Angel.
Jebakan.
Angel terlambat sadar karena supir sudah memacu kendaraan mereka. Angel harus bisa berpegangan pada pegangan atas.
"Berhenti. BERHENTI!."
Bukannya berhenti tetapi si supir malah makin kencang.
Glen tak tinggal diam. Glen segera menyuruh anak buahnya untuk menyelamatkan nona mudanya.
Dilain sisi...
Keluarga Varo sudah berada di hotel dan menyambut tamu yang sudah hadir. Keluarga Varo mengundang 1000 tamu undangan. Sedangkan keluarga Angel hanya mengundang 200 tamu undangan dan itu kerabat dekat saja.
Varo tersenyum gugup karena hari ini ia bisa memiliki Angel hanya untuknya seorang. Varo malah lupa untuk menghubungi Angel karena saking gugupnya.
Mama Varo agak khawatir karena keluarga besannya tak kunjung sampai karena waktu menuju acara tinggal 2 jam.
"Pa.. besan mana pa?."
"Mungkin kejebak macet ma."
"Tapi ini waktu tinggal bentar pa."
"Mama tenang ya. Nah itu mereka datang."
"Jeng... Mana Angel?."
"Angel di bela... kang."
Mereka semua kaget karena hanya mobil 4 yang sampai.
"Mana Angel yah?."
Ibu Angel mulai panik. Pura-pura sebenarnya.
"Bentar. Ayah telepon Glen."
Saat ayah Angel sedang menelepon Glen, Varo datang.
"Ada apa?. "
Varo memeluk ibu Angel.
"Tidak ada apa-apa. Kamu sapa tamu dulu ya. Mama ada sesuatu sama besan."
Mama Varo menyenggol suaminya agar tak ikutan panik.
"Oh okay."
Varo digiring ayahnya menuju ke dalam hotel untuk menyapa tamu.
"Glen bilang sedang ada kecelakaan lalu lintas sehingga mereka terhambat untuk datang. Mungkin acara akan sedikit molor."
"Ah.. syukurlah."
🏵
Glen mengumpat ke arah anak buahnya yang gagal menyelamatkan Angel. Mereka masih main kejar kejaran.
"Tancap gas. Jo.. mulailah menembak."
Rombongan Jo mulai menyalip mobil Glen dan mendekati mobil yang membawa Angel. Dengan tembakan berulang kali, Jo berhasil mengenai bahu sang pengemudi sehingga membuatnya oleng.
Angel tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Angel segera memukul kepala si supir dengan tasnya. Supir itu pingsan dan membuat Angel mengambil alih kemudi.
Sialnya ternyata rem mobil blong. Angel segera mengurangi tekanan gas sedikit mulai sedikit.
Tit tit tit
Angel mendengar suara aneh dari arah badan si supir. Dengan hati-hati Angel membuka kancing jas si supir.
Angel kaget melihat ada sebuah bom yang terpasang di badan si supir. Artinya jika si supir gagal menjalankan tugas maka dia akan meledakkan dirinya bersama Angel.
Tinggal 5 detik menuju kematian yang jelas di depan mata.
"Fu*k."
Angel terlambat bereaksi dan inilah akhir hidup Angel. Mobil meledak bersama dengan Angel. Hancur berkeping-keping dengan kobaran api yang dahsyat.
🏵
Acara akan segera di mulai. Varo sudah siap untuk menyambut kedatangan Angel. Awalnya Varo tersenyum bahagia tapi lama-lama hilang karena menanti Angel yang tak datang.
Ibu dan Ayah Angel mulai cemas karena tak mendapatkan kabar apapun dari Glen.
"Yah.. hubungi Glen."
"Sebentar."
Ayah Angel menelepon Glen dan mendapat jawaban dari Glen. Rencana berubah dan ayah Angel kaget luar biasa setelah mendengarnya.
"Tidak.. Angel.."
Ponsel ayah Angel terjatuh dari genggamannya. Ayah Angel menangis dan itu membuat semua orang bingung.
"Ayah.. kenapa?."
Ibu Angel berusaha untuk tetap tenang. Tak mau berfikir aneh-aneh.
"Mobil yang ditumpangi Angel kecelakaan dan meledak
di jalan."
Tiiiiiiiiiit
Varo blank. Tak menyangka akan hal ini akan terjadi. Tanpa sadar Varo segera berlari menuju mobilnya dan segera melesat mencari Angel.
"Tidak.. wanita ku tak mungkin meninggalkan ku."
Walaupun mulutnya bilang tidak tapi hati kecil Varo mengatakan iya.
Varo berhenti mendadak karena banyak sekali orang mengerumuni sesuatu yang menarik perhatiannya.
Varo mencoba berfikir positif akan kemungkinan yang ada. Itu bukan Angel. Itu bukan Angel.
Itu bukan..
Varo syock melihat di depannya. Glen duduk menangis dipegangi oleh anak buahnya. Varo berjalan linglung ke depan.
"Tuan.. anda tak bisa masuk area ini."
Varo menatap tajam polisi yang menghadangnya.
"Minggir."
"Tapi tuan.."
"MINGGIR!."
Polisi itu minggir karena ada beberapa anak buah Glen yang membantunya.
"Glen.. "
Glen menoleh ke arah Varo yang ada di sebelahnya sambil menangis.
"Apa yang terjadi?."
"Maafkan saya tuan. Maafkan saya..."
Varo berdiri dan berjalan ke arah depan tapi ditahan oleh anak buah Glen.
"Tidak.. minggir.. jangan halangi jalan ku. Aku ingin memastikan itu bukan wanita ku. Minggir. MINGGIR!."
Varo berusaha memberontak tapi tenagannya tak cukup kuat untuk melawan 4 orang sekaligus yag menahannya.
Varo jatuh terduduk saat plat mobil Angel ada di depan matanya. Walaupun hanya ada separuh tapi Varo kenal betul dengan plat itu.
"Tidak.. Angel.. tidak.."
Varo menangis dengan kencang. Beberapa anak buah Glen bingung harus bagaimana menangani Varo yang menangis.
"Itu.. bukan mobil Angel!."
Varo meraih plat mobil itu dan melihatnya secara seksama untuk memastikan jika dugaannya salah.
Harapan tinggalah harapan. itu nyata plat mobil Angel.
"TIDAK!."
**Varo terbangun dari mimpi buruknya yang selama ini menghantuinya. Kematian Angel selama ini membuat Varo seperti mayat hidup.
Hidup Varo hanyalah seputar kantor dan kerja hingga malam bahkan menginap di kantor.
Varo menatap atap ruang kantornya ini. Sudah 3 tahun sejak Angel meninggalkan Varo.
"Aku merindukan mu."
Varo meletakkan tangannya di atas matanya. Air mata mengalir dengan deras dari balik tangan yang menutupi mata rapuh Varo.
🏵
?
🏵
PRAKATA** :
*Ending?
May be*..