You Think

You Think
Who is Angel?



Disinilah Angel berakhir malam ini. Angel mengahadiri rapat para tetua klan karena sebentar lagi akan ada pesta besar untuk memperkenalkan pemimpin yang baru.


Angel duduk di kursi yang paling depan dan menjadi pusat perhatian seluruh tetua klan.


"Ekhem.. nona muda, anda masih sangat muda untuk bisa memimpin klan. Saya meragukan keputusan tuan untuk menjadikan nona muda penggantinya."


Glen mendekat ke arah Angel dan berbisik pelan.


"Beliau adalah tuan Bima. Beliau adalah salah satu sahabat mendiang tuan besar."


Angel melirik pak Bima yang juga meliriknya.


"Saya tak pernah menginginkan posisi ini. Kakak lah yang meminta saya untuk berada disini. Jadi kalian semua meminta saya datang kesini untuk apa?."


Angel menatap satu persatu para tetua yang sedari tadi melihatnya dan juga meremehkan.


Mereka pikir aku idiot yang tak bisa membalas apa yang mereka lakukan pada ku? dasar tua bangka.


"Nona muda, maaf sebelumnya. Tapi saya rasa apa yang tuan Bima katakan benar. Anda terlalu muda untuk memimpin klan. Apalagi dunia kami sangat berbahaya untuk wanita."


So What?


Glen mendekat lagi dan membisikkan sesuatu


"Beliau adalah tuan Wei. Salah satu penanam modal untuk usaha, klan nona."


"Katakan saja intinya, tuan Wei."


Tuan Wei menyeringai.


"Saya tak yakin dengan kemampuan anda. Walaupun anda adalah adik tuan muda, pada kenyataannya anda adalah wanita."


"Ada apa dengan gender saya?."


Angel tersenyum tipis tapi matanya menatap tajam tuan Wei.


"Apa kau merendahkan pilihan tuan muda mu? Saya memang wanita tapi saya bukan wanita lemah? Mau bukti?."


Kedua siku tangan Angel berada di meja dan tangan kirinya mengepal. Setelah mengatakan tantangannya, Angel menekan jari-jari tangannya hinga berbunyi.


Semua orang memandang tak percaya Angel. Siapa kah wanita di depan mereka ini?


"Heh.. kau meremehkan ajudan ku?."


Tuan Wei menyeringai meremehkan Angel.


"Of course not. Lawan saya kalau memang ajudan mu berani."


"Dasar wanita sombong. Lihat saja nanti."


🏵


Semua orang memandang tak percaya apa yang mereka lihat. Ajudan yang selalu dielu-elukan Tuan Wei tergeletak tak berdaya setelah Angel memukulnya. Hanya sekali. S E K A L I.


Angel menatap datar laki-laki yang tergeletak di bawah kakinya.


"Ah.. tuan Wei. Sepertinya ajudan mu butuh latihan."


Tuan Wei mengepalkan tangannya. Ia kalah dengan seorang wanita. Tanpa aba-aba, Tuan Wei menodongkan senjatanya ke arah Angel.


Angel tersenyum sinis. Semua orang kaget dengan apa yang tuan Wei lakukan.


Glen hanya diam menonton. Ia tak mau menghambat kesenangan nona mudanya.


"Hah.. apa kau yakin mau melakukan hal ini?."


"Tentu saja.. "


Angel maju perlahan menghampiri tuan Wei yang sedang takut. Angel mengeluarkan pistol kesayangannya dari arah belakang tubuhnya, Glock 20 dan menodongkannya ke arah tuan Wei yang gemetar.


Tuan Wei sudah tua sekitaran usia 60an dan itu membuat tuan Wei gemetar karena dari segi pistol saja sudah tak sebanding.


"Kenapa tuan Wei? bukankah anda baru saja ingin menembak saya? lakukan lah."


"Kau..."


Tuan Wei menurunkan senjatanya dan memilih pergi dari arena latihan. Tuan Wei tentu saja malu.


Plok plok plok plok


Angel menghembuskan nafas lelahnya dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah para tetua.


"Sungguh luar biasa nona. Saya tak menyangka jika nona sungguh luar biasa menghadapi tuan Wei."


"Terima kasih atas pujiannya tuan Li."


Angel membungkukkan badanya sedikit untuk menghormati pujian dari tuan Li.


"Saya harap nona muda bisa segera menjalan tugas dengan baik."


"Akan saya ingat perkataan anda, tuan Wang."


Para tetua pergi meninggalkan Angel dan Glen sendirian di ruang latihan ini.


"Nona muda.."


Angel yang tadinya sedang berberes-beres melirik Glen."


"Ada apa?."


"Sesuai arahan dari para tetua, besok malam akan diadakan acara pelantikan anda, nona muda."


Angel menghentikan gerakan tangannya yang sedang memungut pakaiannya yang terjatuh.


"Apa kau bilang? besok?."


"Ya nona muda. Apa.. nona muda tak bisa besok?."


Bukannya tak bisa tapi Angel berfikir soal alasan apalagi yang harus ia katakan untuk mengelabuhi Varo .


"Bisakah diundur?. "


"Tidak bisa nona."


Angel menghembuskan nafas lelah.


"Lakukan saja seperti apa yg dikatakan mereka. Saya akan datang tepat waktu."


Angel segera pergi area latihan. Glen hanya bisa menatap sendu Angel yang menurutnya sedang rapuh dan lelah.


🏵


Tak ingin ketahuan oleh Varo, penampilan Angel berubah. Topi hitam, rambut palsu warna pink, jaket hitam, celana hitam, dan tak ketinggalan kaca mata hitam.


Angel benar-benar totalitas saat menyamarkan dirinya. Sekali ketahuan Varo maka semuanya gagal.


Angel menjadi pusat perhatian saat sampai di kantor. Banyak orang yang menatapnya aneh. Memang aneh untuk ukuran seorang Angel.


"Non Kristal?."


Kristal berhenti berjalan dan menengok ke arah belakang.


"Ah.. pak Fadil.."


Fadil bernafas lega saat wanita yang misterius itu ternyata Angel.


"Saya kira siapa ternyata nona Kristal."


"Ah.. maaf. Saya sedang dalam misi."


"Ohh.. semangat kalau begitu."


"Iya. Pak Fadil juga ya."


"Tentu nona. Semoga hari nona menyenangkan."


"Anda juga, pak Fadil."


Setelah acara basa basi, Angel segera menuju ruangan ayahnya.


Setumpuk berkas adalah pemandangan pertama yang Angel lihat. Angel segera duduk di kursi kebesaran ayahnya dan mengerjakan tugasnya dengan baik lalu segera bisa pergi ke pesta.


🏵


Dugaan Angel meleset.


Angel tak bisa pergi kemanapun setelah ada publikasi mengenai mata-mata mereka yang ditangkap oleh pihak pemerintah yang melawan.


Angel memijit kepalanya yang pusing memikirkan jalan keluar masalah ini.


TOK TOK TOK


"Masuk."


Angel membenahi duduknya.


"Nona.., ini ada paket untuk nona."


Angel menerima paket itu dari asisten ayahnya.


"Tidak ada nama pengirim?."


"Tidak ada nona."


"Duduklah. Kita buka bersama."


Asisten ayahnya duduk dan membukakan paket Angel.


Di dalam paket hanya ada sebuah gaun cantik berwarna biru tua dan sebuah topeng pesta.


Angel ingat jika hari ini akan ada pesta. Asisten ayahnya menatapnya curiga.


"Nona.. ini apa maksudnya?."


"Ah.. ini. Kemarin ada teman ku yang mengundang ku dalam sebuah pesta peresmian usaha miliknya. Tamu harus memakai topeng."


"Oh.. kalau begitu saya kembali ke ruangan saya nona."


"Pergilah."


Angel menatap gaun di depannya dengan tatapan sedih. Saat ini, jam ini, menit ini, detik ini pula. Gaun itu utuh. Nanti malam pasti sudah beda cerita.


Karena nanti malam akan ada pesta.


🏵


Angel memasuki ballroom hotel ternama yang berada di Jakarta. Angel dikawal oleh 3 orang bodyguard dan Glen tentunya.


"Nona.. "


Angel menoleh ke Glen yang ada disampingnya.


"Kenapa?."


"Tuan Wei pasti tak akan tinggal diam setelah kejadian kemarin."


"Aku tak perduli."


"Nona.."


"Dia tak akan pernah bisa menyentuh ku, Glen. Jadi jangan khawatir."


"Saya hanya merasa kalau pesta ini berisi jebakan."


"We'll see soon."


Angel segera menghampiri para tetua yang sedari tadi menatapnya. Acara belum dimulai karena ada satu orang tamu penting yang belum datang.


Pemimpin klan Naga.


Semua irang mendadak melihat pintu yang baru saja terbuka. Angel menajamkan penglihatannya dan kaget saat melihat siluet seorang laki-laki.


Laki-laki itu semakin mendekat ke arah kumpulan para tetua yang ada Angel. Laki-laki itu juga kaget saat melihat Angel.


Angel dan laki-laki itu saling menatap satu sama lain. Bagai waktu berhenti, mereka saling menatap tak percaya apa yang mereka lihat sekarang.


*Varo..


Angel*..


🏵


TBC


🏵