You Think

You Think
Kejutan



Angel berdehem. Entah kenapa mendadak suasana berbeda setelah Glen bilang soal kedatangan Varo. Beberapa maid yang sedang melakukan tugas bersih-bersih segera pergi dari ruang inap Angel.


"Jangan biarkan dia masuk."


"Baik nona."


Glen membungkuk hormat lalu pergi.


"Tunggu Glen.."


Di lain sisi


Varo mondar mandir dengan gelisah saat menunggu Glen yang sedang meminta ijin pada Angel. Saat penantiannya, datang seseorang dari belakang yang menatap Varo dengan tajam. Tangannya *** buket bunga lili yang sedang ia genggam.


Varo? Bocah itu cari mati?


"Ah.. "


Varo yang mondar mandir akhirnya secara tak sengaja menyenggol laki-laki itu yang sedang berjalan menuju ruang inap Angel yang dijaga ketat.


Hampir saja laki-laki itu melepaskan buket bunga ditangannya. Jika jatuh maka laki-laki itu akan segera membunuh Varo.


"Kalau jalan pakek mata."


Sekali lagi laki-laki itu *** buket bunganya.


"Seharusnya tuan meminta maaf. Tuan lah yang membuat saya hampir jatuh karena tuan mondar mandir."


"Kau lah yang seharusnya.."


"Tolong jangan berisik. Ini lingkungan rumah sakit."


Glen datang dengan tatapan tajam.


"Bagaimana Glen?."


Varo segera menghampiri Glen yang sedang berdiri sambil memberikan secarik kertas ke Varo.


"Nona menolak kunjungan tuan. Hanya saja nona memberikan saya ini untuk tuan."


"Apa ini?."


"Tuan bisa membukannya. Tuan Wu .. "


Glen membungkuk hormat ke arah Wu yang tersenyum.


"Ah.. tak perlu terlalu formal Glen."


"Nona susah menunggu anda."


"Terimakasih Glen."


Wu segera berjalan melewati Varo yang menatapnya tak suka.


"Glen! apa maksudnya ini? Kenapa orang asing itu boleh masuk sedangkan aku tak boleh?."


Glen menghembuskan nafas lelah.


"Maafkan saya tuan Varo. Tapi nona Monica tak ingin bertemu dengan siapapun kecuali tuan Wu. Kekasih nona Monica."


Varo membeku di tempatnya. Wu tersenyum mengejek.


"Kau harus tau tempat mu,.. Tuan Varo."


Wu segera masuk ke ruang inap Angel dan meninggalkan Varo yang menatapnya tajam. Glen ikut pergi karena sudah tak ada urusan lagi disini.


Varo menatap tajam ruang inap Angel. Varo mengepalkan tangannya erat.


"Kau akan tetap jadi milik ku. Angel atau bukan.. kau tetap milik ku. S E O R A N G!."


🏵


Wu tersenyum tipis saat melihat Angel yang sedang berbaring memunggunginya.


"Monica.."


Angel malas untuk berbalik ataupun menjawab tapi tubuhnya sudah duduk dan menatap Wu dengan malas.


"Kenapa?."


"Ini bunga untuk mu."


"Aku tak suka bunga. Kau tau bukan. Tapi terima kasih karena sudah membawakan ku bunga ini. Berikan bunganya pada Glen."


Glen mengambil bunga yang disodorkan oleh Wu dan membawanya pergi entah kemana. Mungkin dibuang.


"Kenapa kau kesini?."


Wu segera memeluk Monica.


"Aku khawatir dengan mu."


"..."


"Ekhem!."


Seperti biasa, Glen merusak kesenangan Wu. Segera Wu melepaskan pelukannya.


"Maafkan saya tuan Wu. Tapi jangan melakukan skin ship terhadap nona kami atau tangan anda akan patah sebentar lagi."


Glen membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Wu yang terpaku.


"Ah.. barusan itu Glen mengancam ku?."


"Bisa jadi. Untuk apa kau kesini? Alasan mu tak bisa diterjemahkan. Katakan sejujurnya. Hanya ada kita berdua disini."


Angel menatap datar Wu yang sedang membenahi masker yang sedang dipakainya. Satu fakta yang harus kalian ketahui jika Wu selama ini menyembunyikan wajahnya dibalik masker.


"Jangan terlalu sensitif pada ku. Aku kesini karena merindukan mu."


Angel menatap datar Wu.


"Baiklah. Anggap saja pernyataan rindu ku barusan hanyalah angin lalu. Kau tau.. permintaan mu tempo hari membuat ku kesusahan. Sejauh ini masih aman karena mereka tak tau jika aku yang menyerang markas mereka. Hanya saja saksi yang kau minta tak bisa ku penuhi. Mereka berhasil menyembunyikannya dengan baik. Kami masih berusaha melacak tapi jika dalam 2 minggu tak bisa dideteksi,.. maafkan aku."


Angel menatap jendela dengan pandangan sinis.


"Seperti dugaan ku. Mereka seperti belut. Kalau bukan karena tangan ku yang tertembak kemarin, mungkin sudah ku habisi mereka."


Angel membeku ditempat ketika mendengar pertanyaan yang tak pernah ia harapkan.


"Aku.. hanya lengah."


"Lengah atau kau melihat Varo?."


Deg


"Bukan."


"Kalau memang bukan, seharusnya dia tak disini tadi."


Angel menghela nafas lelah.


"Aku lelah. Kau pergilah."


Angel memposisikan dirinya berbaring di brangkar dan memunggungi Wu. Merasa diusir, Wu tersenyum sinis.


"Kau mengusir ku?."


"Tidak. Aku lelah. Ingin istirahat tanpa gangguan."


"Baiklah. Aku pergi."


Angel hanya berusaha menghindari pertanyaan Wu yang terkesan menyudutkan.


🏵


Malam begitu sunyi di area lorong kamar inap Angel. Beberapa pengawal berdiri berjejer melindungi lorong dengan persenjataan lengkap. Mungkin takut jika ada serangan mendadak.


"Lakukan sekarang."


Ada beberapa bola menggelinding dan tepat saat berhenti mengeluarkan asap. Mereka yang menghirup asap tersebut langsung jatuh karena tertidur. Beberapa bodyguard ada yang selamat karena mereka menutupi hidung mereka dan segera merapat ke ruang inap Angel.


Tanpa mereka sadari jika sudah ada beberapa orang berpakaian putih yang datang dan membungkam mulut mereka agar tak bersuara.


Mereka yang berpakaian putih segera mengamankan lorong itu dan mempersilahkan sang pimpinan untuk lewat.


Sang pimpinan berhenti di depan salah satu anak buahnya dan menepuk pundaknya.


"Kerja bagus, Leo."


Sang pimpinan segera masuk ke dalam ruang inap Angel dan melihat Angel yang sedang tidur memunggunginya.


Angel yang terbangun karena suara pintu terbuka tanpa ada ketukan maupun panggilan hanya bisa pura-pura tidur tetapi tangan kanannya sudah masuk ke bawah bantal dan memegang pistolnya.


Bersiap akan segala keadaan yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku tau kau menyadari kedatangan ku."


Deg.


Suara ini...


"..Angel."


Angel langsung bangun dari brangkarnya dan mengarakan pistol ke arah lawannya.


"Kejutan."


Angel langsung pingsan ketika ada seseorang yang memukul tengkuknya dengan keras.


🏵


Angel terbangun setelah bermimpi bertemu dengan kakaknya. Angel memijit leher belakangnya yang sakit. Angel langsung siaga saat dirinya sadar tak berada di rumah sakit.


"Kau bangun lebih cepat dari prediksi ku."


Angel memfokuskan matanya ke arah depan ranjang yang gelap. Ada seseorang yang duduk disana, di dalam kegelapan malam.


"Siapa kau?."


"Aku? Kau tak mengenali suara ku?."


Angel masih berusaha untuk sadar sepenuhnya dari rasa sakit di tangan kiri dan tengkuknya.


"Ah.. mungkin karena kau sedang berusaha melupakan ku makanya kau tak ingat siapa aku.."


Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Angel. Perlahan wajah laki-laki itu terlihat oleh sinar bulan yang menjadi satu-satunya penerangan di ruangan ini.


Angel terpaku di tempatnya. Laki-laki itu tersenyum.


"Sepertinya kau sudah mengingat ku."


"Bagaimana bisa.."


"Tentu saja bisa."


"Bagaimana bisa kau hidup?."


Laki-laki itu menatap tajam Angel.


"Jangan kira hanya karena hukuman mati itu bisa membuat ku benar-benar mati. Kau tak tau dengan benar siapa yang ada di sana. Mereka semua adalah ANAK BUAH KU."


Angel memaki dirinya dulu yang tak pernah perduli dengan keadaan sekitar ketika tugasnya sudah selesai.


"Ck.. tapi apa gunanya kau menculik ku? .. Gavin."


"Ah.. soal itu.. ada seseorang yang ingin melihat mu mati di depannya."


".."


Suara gesekan antara highheels dengan lantai menggema setelah seseorang membuka pintu. Angel terkejut setelah melihat wajah orang yang baru saja masuk.


"Lama tak jumpa.. Angel.."


***Stefani... ?!!


🏵


TBC


🏵***