
Angel menatap dirinya dari pantulan kaca di depannya. Mata bengkak membuat pandangannya buram.
"I hate this."
Angel mengusap matanya yang gatal dan juga perih.
Tok tok
Angel segera menyelesaikan segala kebutuhannya di kamar mandi dan membuka pintu. Glen tersenyum hangat sambil membawa nampan berisi sarapan.
"Selamat pagi nona. Apakah tidur nona nyenyak?."
"Lihat sendiri."
Angel segera duduk di kursi yang tersedia di kamarnya dan diikuti Glen yang meletakkan nampannya.
"Nona.. sesuai rencana. Apakah nona yakin akan melakukan hal ini?."
Angel berhenti meminum air putihnya. Angel menatap Glen.
"Lakukan saja seperti yang kita rencanakan. Mata harus dibalas dengan mata. Begitu juga dengan nyawa."
Remasan tangan Angel pada gelas yang sedang digenggamnya sangat kencang hingga gelas ditangannya pecah.
"Nona!?."
Angel melihat darah mengalir dari tangannya bercampur dengan air putih di atas meja. Air itu tumpah dan begitupun dengan darah yang sudah bercampur.
Glen dengan sigap mengeluarkan sapu tangannya dan membalut luka Angel.
"Nona..."
"I know, Glen."
Glen menatap tangan Angel dengan khawatir.
"Nona.. saya takut jika masih ada serpihan kaca di tangan nona. Nona.. ayo ke rumah sakit untuk membersihkan luka nona."
"Panggil saja Alex ke sini."
"Tapi nona.."
Angel menatap tajam Glen.
"Lakukan saja apa yang ku perintahkan."
"Baik nona."
Glen pergi dari kamar Angel dengan raut wajah khawatir. Angel menatap luar jendela yang menyuguhkan pemandangan taman yang selama ini tak pernah ia sadari.
"Hah.."
Angel menghela nafas lelah. Ia tak nafsu makan lagi.
"Kau harus merasakan apa yang kakak ku rasakan.. Varo."
๐ต
angel berada di kantor setelah mendapatkan perawatan dari Alex yang dibarengi dengan ocehan tentunya.
Tok Tok
"Masuk."
Glen masuk ke dalam ruang kerja Angel membawa dokumen yang Angel mau.
"Nona.. ini adalah dokumen identitas yang nona inginkan."
Angel membaca dokumen yang dibawa Glen tadi. Angel tersenyum miring.
Monica Wang
Identitas baru Angel yang akan segera ia kenakan mulai besok.
"Kerja bagus Glen. Sekarang kau boleh pergi."
"Baik nona."
๐ต
Angel sedang berada di restauran yang diminta Varo. Angel muak bertemu Varo tapi mengingat malam ini adalah malam terakhir mereka bertemu, Angel harus membuat kesan yang baik sebelum besok.
Angel menatap laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum dan membawa sebuket bunga mawar besar.
Varo menyodorkan bunga itu ke Angel. Angel menatap jijik bunga di depannya. Ia tak suka mawar dan Varo sepertinya tak tau itu.
Angel menerima buket bunga itu dan menyingkirkannya ke ujung meja. Varo menatap kecut perlakuan Angel.
"Aku tak suka mawar."
Varo menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Varo benar-benar bodoh tak mengetahui jika Angel membenci mawar.
"Maafkan aku."
"Jangan lakukan ini lagi."
"Baiklah."
Mereka makan dalam hening. Varo tak melihat cincin pertunangan di jari Angel.
"Angel.. dimana cincin mu?."
Angel melirik jari manisnya. Angel ingat jika ia sudah membuang cincin itu dari lantai 34 kemarin.
"Aku melepasnya saat mandi tadi. Lupa untuk memakainnya lagi."
"Ah.. ku kira kau menghilangkannya."
Memang hilang.
"Kita mau kemana setelah ini?."
Varo tersenyum dan memegang tangan Angel.
"Ayo ke taman hiburan."
"Taman hiburan?."
"Iya.. kita tak pernah kencan disana."
"Kita bukan remaja lagi."
"Tapi aku ingin kita kesana."
"Varo..."
Varo *** tangan Angel dan itu merupakan tanda peringatan dari Varo agar Angel menurutinnya.
"Pernikahan kita tinggal 1 lagi. Aku ingin menghabiskan waktu berdua kita sebagai sepasang kekasih sebelum kita menjadi suami istri."
Terserah.
"Lakukan saja sesuka hati mu."
๐ต
Angel menatap tak percaya di depannya. Taman hiburan yang dibilang Varo adalah taman hiburan pribadi.
"Varo... ini bukan seperti yang ku pikirkan bukan?."
"Tentu saja. Aku sudah menyewa taman hiburan ini semalaman. Ayo."
Varo mengajak Angel naik roller coaster mini. Angel tak takut ketinggian tapi hanya saja Angel selalu punya fikiran jelek soal roller coaster.
Angel takut jika ia bisa jatuh kapan saja dari roller coaster ini. Varo tampak menikmati segalanya sehingga mengabaikan Angel yang sudah mulai agak ketakutan.
Dari roller coaster, mereka naik wahana komedi putar. Varo menarik Angel untuk naik kuda. Angel menurut bak anak kecil yang pasrah saat disuruh.
Angel melihat wajah riang Varo. Sepersekian detik hatinya sakit saat melihat Varo bisa tertawa sedangkan kakaknya menderita.
"Sebahagia kah itu diriku naik komedi putar ini, Varo?."
Varo tersenyum dan menggengam tangan Angel.
"Aku bahagia karena ada kamu disini."
"..."
"Hah.. sepertinya suasana hati mu buruk. Bahkan kau tak tersenyum sama sekali."
Angel memalingkan wajahnya dan melepaskan genggaman tangan mereka. Angel turun dari kuda yang ia naiki dan segera turun dari komedi putar ini.
Varo ikut turun dan bingung dengan sikap Angel.
"Angel.. Ada apa?."
Angel menatap Varo. Hatinya kembali sakit. Angel sebenarnya belum siap untuk bertemu Varo.
"Aku.. hanya lelah."
Aku sakit.
"Ayo kita pulang kalau begitu."
Varo sudah menggengam tangan Angel.
"Tidak."
"Kenapa?."
Angel menatap kakinya. Angel tak ingin lemah sekarang. Bukankah ia harusnya membuat kenangan manis sebelum menorehkan luka?
"Kau bahagia. Lelah ku akan terbayarkan."
Varo tersenyum dan segera memeluk Angel.
"Aku mencintai mu."
Aku membenci mu.
"Aku sangat mencintai mu.. Angel ku.."
Aku sangat membenci mu dan juga mencintaimu.
"Jadi jangan tunjukan wajah itu lagi pada ku. Cukup tersenyum."
Angel membalas pelukan Varo.
"Hmm..."
Varo melepaskan pelukannya dan menggengam tangan Angel.
"Mari bersenang-senang."
Angel tersenyum tipis. Mereka berjalan kesana kemari sambil bermain semua wahana yang ada disini.
Dimulai dari menembak kaleng yang berhadiah boneka. Bermain memancing ikan-ikanan. Bermain wahana ketangkasan hingga membeli permen kapas.
"Ayo naik bianglala."
Mereka naik bianglala. Varo terus menggengam tangan Angel, takut jika Angel pergi meninggalkan dia sendirian.
Angel menatap pemandangan kota dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Varo senang jika Angel tersenyum bahagia seperti itu.
"Apa kau bahagia?."
"Hmm."
"Apa kau senang?."
"Hmm.."
"Apa kau mencintai ku?."
"...."
Varo sudah menduga jika ia tak akan mendapatkan jawabannya.
"Kau bisa mengatakannya lain kali."
Mereka terjebak keheningan hingga posisi mereka tepat diatas dan bianglala berhenti bergerak untuk beberapa menit kedepan.
"Angel.."
Varo memegang tangan Angel dengan erat. Angel menatap Varo dengan satu alis terangkat.
"Ada apa?."
"Harusnya aku yang bertanya. Ada apa dengan dirimu hari ini? Kau terlihat terpaksa."
Memang.
"Apa kau sakit?."
"Tidak. Aku hanya lelah."
"Jangan paksakan dirimu jika lelah."
"Kau bahagia."
"Aku akan bahagia jika kau juga bahagia. Hari ini aku merasa sendirian karena kau tak tersenyum."
"Aku hanya lelah. Itu saja."
"Aku mencintai mu."
"Aku tau."
"Apa kau tidak ingin menjawab pernyataan cinta ku?."
Varo menatap kecewa Angel yang tak pernah membalas pernyataan cintanya. Varo merasa jika ia sedang mencintai seseorang yang membencinya.
Tanpa diduga, Angel mencium Varo. Selama beberapa detik, bibir mereka bertemu. Varo bahkan syock dengan apa yang Angel lakukan sekarang.
Varo tersenyum dalam ciuman mereka. Dengan gesit Varo menekan kepala Angel untuk memperdalam ciuman mereka.
Tanpa Varo sadari Angel menangis. Air mata Angel mengalir dengan bebas dan jatuh mengenai pipi Varo.
Varo tersentak dan segera melepas ciuman mereka. Varo khawatir dengan keadaan Angel.
"Angel..."
"Aku.. mencintai mu. Hanya saja ini begitu melelahkan saat kau meragukan ku setiap saat."
"Maafkan aku."
"Kita bukan lagi remaja yang harus saling mengatakan cinta satu sama lain."
"Maafkan aku."
Varo memeluk Angel.
"Aku hanya ingin memastikan saja perasaan mu kepada ku. Aku tak ingin jika selama ini kau terpaksa bersama ku."
Aku memang terpaksa. Dulu maupun sekarang.
Varo memeluk erat Angel dan dibalas oleh Angel.
"Aku mencintai mu."
"Aku juga."
Dan aku juga membenci mu.
๐ต
Yuhuuu... Author come back again setelah lama hiatus hampir menghilang tanpa kabar ๐ฌ
Author nyuri waktu karena ujian udah deket T_T
Mungkin author bakal jarang up karena lagi-lagi karena harus mikirin urusan kuliah dulu. Tapi tenang aja
Author gak akan HIATUS kok.
Doakan saja supaya waktu author banyak kosongnya daripada sibuk tugas ๐
ยก Salam cinta !
Author