You Think

You Think
Akhir dari Sebuah Kisah



Angel menggenggam erat tangan Sean. Angel takut dengan keadaan yang membuatnya terpojok seperti ini.


"Tenang saja. Jika kau menyerah maka adikmu akan ku lepaskan."


"Tutup mulutmu!."


Angel semakin panik ketika suara tembakan mengarah kepadanya.


"Ini hanyalah permulaan. Jangan melawan dan ikutlah bersama ku."


Angel menatap tajam Tuan Wei dengan ketidak percayaan.


"Apa jaminan mu kalau kau tak akan menyentuh Sean?."


Tuan Wei memanggil anak buahnya yang sedang menyandera Glen.


Angel membulatkan matanya dan terkejut dengan Glen yang terikat.


"Bajing*n! Apa yang kau lakukan pada Glen?!."


"Dia melawan dan itu membuat ku muak. Makanya kakinya ku buat lumpuh sementara."


Angel menatap prihatin Glen yang sedang menahan sakit. Glen sudah tua dan orang tua itu tak punya perasaan dengan menyakiti Glen.


"Bagaimana nona Wang?."


Angel menatap Sean yang menatapnya dengan mata ketakutan. Keselamatan Sean adalah yang paling utama.


"Aku terima."


Tuan Wei memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengambil Sean.


"Sean.. dengarkan kakak untuk kali ini. Selamatkan Glen."


"Lalu bagaimana dengan kakak?."


"Kakak akan baik-baik saja."


Dengan terpaksa Angel melepaskan Sean.


"Kakak..!! aku tidak mau..."


Sean berusaha memberontak dan melihat kakaknya.


"Jangan menangis Sean."


Glen dan Sean segera dibawa pergi entah kemana dan diruangan ini hanya tersisa Angel seorang diri tanpa siapapun yang bisa menemaninya untuk bertarung.


"Jatuhkan pistol mu."


Angel menuruti permintaan tua bangka itu dengan setengah hati.


Salah satu orang yang mengelilingi Angel mengambil pistolnya.


"Bawa dia ke luar. Kita harus segera bergegas pergi sebelum mereka bangun."


Angel digiring keluar dengan senjata yang masih mengarah kepadanya.


🏵


Varo yang berhasil kabur segera mencari bantuan. Varo bersembunyi di belakang pohon besar dan melihat Angel keluar yang dikepung.


Tadi Varo juga melihat Glen dan Sean yang dibawa pergi entah kemana. Karena pasukan yang berjaga sedikit sehingga Varo hanya bisa membaginya untuk menyelamatkan Angel dan Glen.


"Tuan.. bagaiman ini? sepertinya nona sudah menjadi tawanan mereka?."


Jo yang sedari tadi juga mengawasi akhirnya tak bisa diam lagi melihat keadaan nonanya yang sduah terkepung.


"Kita susun rencana dulu."


Tunggu aku, Angel. Aku akan datang. Tunggu sedikit lagi.


🏵


Angel dibawa ke sebuah gudang kosong yang sudah lama tak terpakai dan sangat jauh dari jangkauan orang. Karena ini berada di tengah hutan. Akses ke sini sangat sulit.


Angel tertawa melihat bagaimana mereka sangat bekerja keras untuk membunuhnya dan tanpa meninggalkan jejak.


Angel dipaksa turun dari mobil dan diletakkan di tengah ruangan dengan tangan terikat.


"Lepaskan ikatannya."


Ikatan di tangan Angel terlepas dan sekarang Angel mengumpulkan tenaga untuk bertarung.


"Apa maumu?."


"Mau ku? Tentu saja kematian mu."


"Apa kesalahan ku?."


Tuan Wei tertawa sumbang.


"Kau mempermalukan ku di depan semua tetua klan. Mereka sampai menatap rendah diriku karena dirimu! Aku menanggung malu yang sangat besar. Aku tak bisa melihat mu bahagia sedangkan aku tersiksa disini sendirian. Kau harus mati."


"Heh.. hanya karena itu dan kau ingin membunuh ku? Sungguh sangat disayangkan."


Tuan Wei berjalan mundur.


"Bunuh dia."


Setelah Tuan Wei pergi Angel mulai menerima serangan bertubi-tubi dan tentu saja Angel kewalahan.


Angel mengusap darah yang keluar dari pipinya setelah terkena tonjokan dari salah satu orang yang mengeroyoknya.


"Cih! Kalau kalian berani.. satu lawan satu."


Dan tanpa aba-aba Angel menyerang mereka dan berhasil menumbangkan 3 orang sekaligus. Masih ada 5 orang lagi tapi Angel sudah lelah dan tenaganya terkuras.


Ada seseorang yang menyerang Angel dan naasnya Angel tak bisa menagkis serangan itu hingga membuatnya terpental jatuh.


Angel terbatuk darah dan segera menyekanya. Angel kalah jumlah dan butuh senjata. Tubuhnya sakit karena terkena serangan bertubi-tubi. Tapi Angel harus bertahan demi Sean.


🏵


Sedangkan keadaan di luar malah terbalik. Setelah Wei membuka pintu gudang kepalanya langsung ditodong pistol.


"Kita bertemu lagi. Bawa dia."


🏵


Angel melihat salah satu punggung orang yang sudah tumbang ada samurai. Dengan gesit Angel mengambilnya dan sekarang Angel memiliki 2 samurai di tangannya.


Dengan gesit Angel menyerang semua orang dan membuat mereka kehilangan tangan dan mendapatkan luka tusukan.


Tentu saja Angel mendapatkan luka tembak di pahanya tapi ia masih bisa bertarung. Sekarang tinggal 1 orang tersisa.


Angel melihat Wei keluar dari gudang dan membuatnya geram. Tua bangka itu melarikan diri setelah merasa terpojok.


Laki-laki itu menyerang Angel menggunakan pedang samurai Angel yang terjatuh tadi dan membuatnya kuwalahan.


Angel terkena luka sayatan di lengan kirinya. Angel meringis karena lukanya sangat perih dan sepertinya dalam dan bukan lagi sayatan.


Demi mengulur waktu Angel harus bisa bertahan hidup. Demi Sean dan Varo.


"Menyerahlah nona dan nikmati saja."


Tanpa sadar Angel sudah terpojok dan samurai sudah berada di lehernya. Laki-laki itu menekan samurainya dan membuat leher Angel berdarah.


"Bermimpilah."


Angel mengarahkan samurainya ke arah kanan bawah laki-laki itu dan langsung ditangkis oleh sang laki-laki.


"Matilah!."


Dengan sekali sentakan, Angel terhuyung kebelakang dan pedang lawannya sudah tertancap di dadanya.


Angel menatap lawannya yang juga sudah tumbang karena tertancap pedang Angel di perutnya.


Angel jatuh terduduk dan segera mencabut pedang yang ada didadanya.


Angel terbatuk darah dan nafasnya mulai berat. Tak lama kemudian dia melihat Varo yang berlari ke arahnya.


Varo menangkap tubuh Angel yang suda terlumuri darah dan juga dadanya yang tak hentinya mengalirkan darah.


Angel tak bisa berhenti terbatuk darah dan tubuhnya lemas karena kekurangan darah dan tentu saja karena penyakitanya.


"Bertahanlah. Ambulance sedang kesini."


Varo menekan luka di dada Angel agar berhenti mengeluarkan darah tapi nyatanya usahanya itu tidak berarti apapun.


Varo mulai ketakutan dan memeluk Angel yang tubuhnya mulai dingin.


"Bagaimana.. Sean.."


"Sean dan Glen berhasil diselamatkan. Sekarang tinggal dirimu. Bertahanlah demi aku dan Sean."


Angel tersenyum dan memegang pipi Varo yang sudah dialiri oleh air mata.


"Aku baik-baik saja."


Varo memegang tangan Angel yang ada di pipinya dengan erat.


"Bertahanlah. Jangan tidur. Lihat aku. Cukup lihat aku."


Angek tersenyum dengan darah yang tak berhentinya mengalir.


"Bisakah.. kau jujur padaku.. sekali saja."


"Katakan."


"Apakah kau mencintai ku?."


"Aku mencintai mu."


Angel berhenti tersenyum dan menatap Varo dengan tatapan sedih.


"Lupakan aku. Jangan ingat aku. Lupakan cinta mu.. dan .. hiduplah dengan baik."


Varo menggelengkan kepalanya dan menangis.


"Jangan menangis. Kau jelek kalau menangis."


"Jangan tinggalkan aku..."


"Aku di sini."


Angel menunjuk ke dada Varo.


"Aku di sini."


Varo semakin menangis dan memeluk erat Angel.


"Varo.. Aku lelah.. Aku mengantuk. Aku ingin tidur sebentar."


"Jangan tidur. Lihat aku. Lihat... aku..."


"Maafkan aku yang tak bisa menepati ucapan ku. Maafkan aku .. yang tak bisa.. berada disisimu."


"Maafkan aku..."


Varo segera membawa tubuh Angel ke luar dari gudang setelah mendengar suara sirine ambulance.


"Bertahanlah."


Angel mengantuk dan kedua matanya sangat berat dan ingin menutup. Angel menatap datar raut wajah Varo dan menutup matanya.


"Aku mencintaimu."


Dengan lirih Angel mengatakan perasaan terdalamnya dan setelah itu Angel berhenti bernafas.


Varo yang berhasil keluar dari pintu gudang segera berhenti dan menatap Angel yang sudah menutup matanya.


Varo jatuh terduduk dan memeluk tubuh dingin Angel dengan erat. Varo menangis dengan kencang saat memeluk Angel.


Semua orang yang tadinya sibuk dengan aktivitasnya akhirnya berhenti. Mereka menatap Varo yang sedang memeluk tubuh seorang wanita yang sudah tak bernyawa lagi. Mereka juga ikut merasakan kesedihan saat Varo menangis. Bahkan ada beberapa orang yang sudah ikutan menangis.


Sebuah mobil berhenti dan Sean segera berlari keluar. Sean terdiam terpaku setelah melihat Varo menangis sambil memeluk seseorang. Dengan langkah perlahan Sean mendekati Varo. Berharap jika itu bukan kakaknya.


Nyatanya harapan tetaplah sebuah harapan yang tak akan pernah terwujud. Sean jatuh dan syok melihat tubuh kakaknya yang sudah tak bernyawa lagi di dalam pelukan Varo dan berlumuran darah.


Sean menangis dengan histeris ketika melihat wajah damai kakaknya yang pucat dan berlumuran darah. Juga beberapa luka sayatan yang masih mengeluarkan darah.


Glen menenangkan Sean dan memeluknya dengan erat. Glen pun menangis dalam diam melihat keadaan Angel yang sudah tak bernyawa lagi.


🏵


Inilah akhir dari sebuah kisah 🏵


🏵


\_The End\_