
Gio menatap Angel yang sekarang menatapnya dengan tatapan sangat tajam.
"Angel.."
"Don't say my name again, mr. Gio."
Gio menatap memelas ke arah Angel.
Frans yang tak tahan dengan situasi aneh ini pun mulai geram.
"Boss, pergilah."
Gio diam.
"Biarkan mereka pergi dan kita bisa selesaikan urusan kita disini."
Gio tanpa pikir panjang pun segera mengangguk dan memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan apa yang Angel katakan.
Varo enggan pergi tapi karena wanita jalang yang bersamanya sangat kencang menarik tangannya, akhirnya ia pun pergi.
Angel tersenyum saat melihat Varo sudah pergi dan tak akan menyaksikan adegan selanjutnya.
"Angel.."
"Kristal. You can call me by that name."
Gio merasa hatinya sedih saat adik kecilnya tak mau dipanggil Angel lagi.
"Kau adikku, Angel ku.."
Angel menatap Gio dengan tatapan benci.
"Kita bukan saudara kandung. Jadi kau bukan kakak ku dan begitu juga sebaliknya."
"Ternyata memang seperti itu."
Gio tertawa garing dan terdengar sinis.
Angel menatap ke arah Silver dan mengedipkan mata 2 kali tanda ia bisa bergerak.
"Hei bung, kau memang bisa melukai ku sekarang. Tapi nanti pisau ini akan menacap dengan indah di jantung mu."
Angel memperingati Frans yang setia menaruh belati di lehernya.
"Kita lihat siapa yang akan menang, nona besar."
Dengan sekali tarikan, Silver mengambil kedua pistolnya dan menembak lampu ruangan. Suasana menjadi riuh karena tembakan itu.
Angel segera menghajar Frans. Frans yang tak siappun akhirnya terjatuh dan belatinya hilang entah kemana. Angel juga menghajar beberapa bodyguard yang melindungi Gio.
Angel menyeringai saat melihat semua bodyguard Gio sudah tumbang semua dan menyisakan Gio seorang.
Gio menatap Frans yang tergeletak dibawah kaki Angel. Frans memegang tangannya yang diinjak Angel.
Angel melepaskan injakannya dan menunduk menatap tajam Frans.
"Ck ck ck.. Harusnya kau perhatikan bagaimana ekspresi wajah mu saat mengatakan hal tadi dengan sekarang."
Angel mengeluarkan belati yang tadi dipakai Frans untuk menggores leher indahnya.
"Sepertinya akhir ini ada pada ku."
Angel segera menancapkan belati itu di tangan kanan Frans. Semua orang meringis dan merasakan ngilu saat pisau itu berdiri gagah menancap di tangan kanan Frans yang sudah tak sadarkan diri.
Angel berdiri dan menatap Gio. Sedangkan yang ditatap merasakan hawa membunuh.
"Kau bukan adikku.".
"Memang."
"Angel. Bukan. Kau Kristal."
"Yes. I'm. "
Angel mendekat ke arah Gio.
"Kenapa kau berubah Angel?."
Angel menatap Gio dengan pandangan sinis .
"Kau yang membuat ku membenci mu sehingga aku merubah sifat ku yang sangat tak tau malu yang selalu menempel pada mu yang tak pernah suka pada diriku yang selalu menempel pada dirimu seperti lintah."
Gio memejamkan matanya karena hatinya begitu nyeri mendengar perkataan Angel.
"Dulu kau begitu manis. Sangat manis dan,.. cantik."
Teo dan Rai saling berpandangan saat mereka menyadari perasaan Gio ke Angel yang sebenarnya. Silver berdehem karena merasa hawa ruangan ini terlalu aneh setelah Gio mengatakan hal itu.
Angel tersenyum tapi bukan sebuah senyum yang sangat ingin dilihat oleh semua orang.
Angel mendekat dan berdiri tepat di depan Gio.
"Gio, harusnya kau tau. Aku sangat membencimu. Sangat."
"I know."
"Kau tau Gio, setelah kejadian itu ibu sering sakit-sakitan karena memikirkan kalian. Ibu selalu berada di rumah sakit saat ingat nasib kalian. Ibu bahkan pernah mengalami depresi karena menyalahkan dirinya sendiri atas insiden itu.Lalu Ayah? dia memutuskan untuk tak pernah memiliki kalian berdua lagi."
Gio menatap mata Angel dalam.
"Angel.."
"Shhhh.."
Angel meletakkan tangannya di depan mulut Gio agar Gio diam dan tak berbicara.
"Diamlah. Aku tak pernah menyuruhmu bicara."
Angel tersenyum sinis kembali.
"Kau tau bagaimana reaksi ibu saat mendengar kau ada di sini?."
Angel meletakkan kembali tangannya di dada kiri Gio.
"Dia kembali masuk rumah sakit karena terlalu senang atas berita ini. Ayah sangat membenci mu dan aku juga."
"Lakukan."
Gio merentangkan kedua tangannya karena pasrah. Sebenarnya Gio tak sanggup mendengarkan semua perkataan Gio yang menyakitkan untuknya.
"Bagaimana kalau kita buat sebuah kesepakatan."
Gio mendengar hal itu langsung mendongakkan wajahnya menatap Angel.
"Apa?."
"Katakan dimana kakak Rans?."
Gio terdiam atau lebih tepatnya bungkam.
"Kau tak mau menjawab pertanyaan ku kak Gio?."
Gio menolehkan wajahnya enggan menatap Angel.
"Aku tak tau."
"Benarkah?."
Gio merasakan hawa membunuh di depannya.
"You Lie To Me!."
Angel segera mengarahkan pistolnya ke arah kepala Gio.
"Katakan yang sebenarnya!."
Tim Angel segera mendekat ke arah Angel untuk menghentikan aksinya.
"Angel! kita harus membawannya hidup-hidup."
Teo memegang tangan kanan Angel.
"Aku tau."
"Kalau lo tau harusnya lo gak nembak dia bego."
Angel segera menatap Teo dengam tajam untuk diam.
Teo mengkerut karena mendapatkan tatapan tajam Angel dan segera minggir.
Angel menurunkan pistolnya karena merasa semua ini sia-sia. Angel berbalik pergi dan ingin melampiaskan semua amarahnya di ring tinju.
Angel berhenti berjalan menuju pintubl keluar lalu menoleh ke arah belakang.
"Rai, dia ku serahkan pada mu."
Rai mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
"Teo, jika dia melawan.. tembak saja dia."
Teo melirik Silver yang mengangguk. Mereka tau jika suasana hati Angel tak baik.
Angel keluar dari hotel dengan hati yang dongkol. Angel merasa jika dia memang sudah kehilangan kakaknya sejak lama.
Dia tak butuh kakak yang tadi ia temui. Dia buronan dan parahnya dia buronannya.
Angel menahan nafas karena di dalam hatinya sangat sedih. Ia ingin menangis tapi dia seorang Angel. Dia butuh pelampiasan.
Angel berhenti berjalan saat ada sepasang sepatu di depannya. Angel melihat siapa yang berdiri di depannya dan ternyata Varo.
Tanpa diduga Varo maju dan memeluk Angel. Angel terpaku dengan pelukan Varo yang tiba-tiba dan mengalirkan getaran aneh di hatinya.
Getaran? apakah Angel mulai jatuh cinta pada Varo?.