
Angel memijat keningnya karena merasa pusing dengan perdebatan para tetua klan yang sejak 4 jam lalu tak kunjung mendapatkan titik terang.
Untung saja Angel masih punya kesabaran sedikit untuk mendengarkan perdebatan mereka. Entah karena apa tapi Angel merasa cepat lelah akhir-akhir ini dan cepat terlelap.
Glen melirik nonanya dan merasa jika nonanya tak baik-baik saja.
"Nona..?!"
Angel menoleh ke arah Glen dan begitupun para tetua yang juga menoleh ke arah Angel.
Angel tiba-tiba merasa senang saat Glen tersenyum penuh arti kepadanya.
"Ah.. sepertinya rapat kali ini harus selesai disini. Saya masih ada urusan. Pembahasan mengenai pewaris tahta klan bisa dibahas dalam 3 hari kedepan. Saya undur diri."
Tanpa menunggu ocehan para tetua, Angel melenggang pergi diikuti Glen dan anak buah lainnya. Angel menghela nafas lelah saat keluar dari ruang rapat dan melihat Varo.
Angel memberi isyarat ke Glen untuk pergi duluan. Glen mengerti dan segera meninggalkan Angel bersama Varo.
"Pagi."
"Pagi."
Varo langsung memeluk Angel saat Angel mendekat ke arahnya. Angel membalas pelukan Varo dan menghirup aroma khas Varo.
"Bagaimana dengan rapat mu?."
"Kacau."
Angel menenggelamkan dirinya kedalam pelukan Varo.
Mencari kenyamanan untuk dirinya sendiri.
"Udah makan?."
"Belum. Rencananya sih mau sama Sean. Tapi.."
"Tapi.."
Tapi kalau ada kamu mana mau Sean makan sama kita. Angel tak mungkin bilang seperti itu ke Varo.
"Ehm... Sean pemalu."
Disisi lain Sean merasa jika kupingnya panas.
"Temani aku makan."
"Dimana?."
"Kemanapun boleh."
"Ayo."
Tanpa mereka sadari sejak tadi Glen belum pergi karena lupa mengatakan sesuatu. Tapi saat Glen kembali ke Angel, yang dia lihat adalah sepasang kekasih sedang memadu kasih di depan matanya.
Karena tau diri akhirnya Glen hanya menunggu waktu yang pas. Nyatanya mereka pergi dan Glen tetap tak bisa mengatakan apa yang Glen ingin sampaikan.
Kasihan Glen.
šµ
Sean yang sedari tadi belajar tentang aturan klan yang begitu ketat dan tak kenal jabatan itu hanya bisa menghela nafas.
Sean heran dengan kakaknya yang bisa bertahan dengan aturan seketat ini.
"Ada apa, tuan muda?."
Xuan Li menegur Sean yang melamun saat ia menjelaskan tentang aturan keluarga.
"Ah.. tidak apa-apa. Lanjutkan. Aku mendengarkan."
"Sepertinya tuan muda bosan dengan pembelajaran saya."
Sean merasa agak sedikit tidak enak ketika Xuan Li mengetahuinya.
"Maafkan aku. Aku.. sedikit kurang fokus. Mungkin karena lelah."
Xuan Li merogoh saku jasnya dan memberikan sesuatu ke Sean.
"Nona dulu juga seperti tuan muda saat pelajaran ini. Dulu saya selalu memberikan ini ke nona agar tidak bosan."
Sean melihat sebungkus coklat di tangannya. Jadi kakaknya dulu juga bosan. Setidaknya dia tak sendirian.
"Terimakasih. Ayo lanjutkan."
šµ
Angel menghela nafas saat sudah sampai di kursi kebesarannya. Tadinya Angel hanya berencana makan sebentar tapi entah kenapa bisa jadi 3 jam.
"Nona?!."
Angel menatap Glen yang datang membawa nampan berisi surat.
"Bisakah aku libur kali ini, Glen?."
Glen meletakkan nampan berisi surat ke atas meja.
"Maafkan saya nona. Tapi tidak bisa. Nona harus membaca surat-surat ini."
Dengan malas Angel membaca satu persatu isi surat. Kebanyakan berupa undangan dan surat kerjasama. Tapi ada satu undangan yang unik.
"Glen, apakah ini undangan acara lelang?."
Glen menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak akan datang."
"Nona! Ini adalah kesempatan emas untuk ki.. Nona!!! Hidung anda berdarah."
Glen langsung mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya ke Angel.
"Ah.. sudah mulai ya."
Glen yang panik akhirnya menenangkan diri dan menelepon dokter. Angel mendongakkan kepakanya dan menyumbat hidungnya.
Kepalanya pusing dan rasanya lelah sekali. Tanpa sadar Angel jatuh pingsan.
šµ
Glen keluar untuk mengantarkan dokter dan akan kembali 2 jam lagi.
Sean merasa jika ini semua ada yang disembunyikan. Apalagi ada pemilihan calon pemimpin klan baru disaat masih ada kakaknya.
"Kakak sekarang mulai menyimpan rahasia dari ku."
Sean hanya bisa memandang sendu ke arah kakaknya.
"Aku disini kak. Jadi.. jangan tinggalkan Sean."
Entah Sean sadar atau tidak, ada setetes air mata mengalir di sudut mata terpejam Angel.
šµ
Angel membuka matanya saat merasa ada seseorang yang memanggilnya untuk bangun.
Pemandangan yang pertama kali Angel lihat adalah langit kamarnya. Angel menoleh ke samping kanan dan melihat Sean yang tertidur dalam posisi duduknya.
Tangan kiri Angel terangkat dan mengelus kepala Sean. Merasa terganggu dalam tidurnya, Sean terbangun.
Sean melihat kakaknya yang tersenyum. Kakaknya sudah sadar.
"Kakak...."
Sean memeluk Angel kuat dan menangis. Takut jika kakaknya akan meninggalkannya lagi.
"Sean.."
"Kakak jahat. Kakak gak sayang sama Sean lagi makanya kakak tidur lama. Sean fikir kakak akan ninggalin Sean lagi."
Angel mengelus pundak Sean.
"Kakak disini, Sean."
"Jangan tinggalin Sean kak."
"Iya."
Glen masuk ke dalam kamar Angel karena bermaksud untuk membangunkan tuan mudanya kaget saat melihat Angel sudah bangun.
"Nona!."
Glen langsung menuju Angel dan mengecek keadaanya setelah Sean melepaskan pelukannya.
"Syukurlah nona sudah bangun."
"Apa yang kau khawatirkan, Glen?."
Glen membantu nonanya untuk duduk dan segera mengulurkan air putih.
"Ah terimakasih."
Glen mengamati keadaan Angel dengan baik. Dokter berpesan agar Angel istirahat dan jangan sampai kelelahan.
"Ah tuan muda.. Ada teman anda di bawah."
"Teman?."
"Kalau tidak salah namanya Ritsu."
"Ah.. baiklah. Kakak.. aku pergi. Kakak harus istirahat. Kalau ada apa-apa panggil Sean atau Glen."
"Iya cerewet."
Sean pergi dan Glen senantiasa berada disamping nonanya.
"Apa yang dikatakan dokter?."
"Keadaan nona mulai memburuk."
Angel mengusap ujung gelas dengan jarinya.
"Rasanya sakit."
"Nona.."
Angel merasa jika waktunya sudah tidak banyak lagi.
"Bagaimana keadaan Wu?."
Angel berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan Glen tau jika Angel tak ingin membicarakannya lebih lanjut.
"Tuan Wu sudah sadar dan sedikit terguncang akibat kecelakaan itu dan.. tentang identitasnya yang sudah terkuak."
"Syukurlah kalau dia sudah sadar. Besok kita akan kesana."
"Baik nona. Saya akan segera menyiapkan makan malam. Nona pasti lapar."
Dan benar saja, perut Angel langsung bersuara saat Glen menyinggung soal lapar.
"Aku ingin.."
"Tidak ada makanan pedas. Kali ini nona harus menurut."
Glen menatap tajam Angel yang menampilkan ekspresi wajah memelas.
"Jangan sayuran"
Glen menghela nafas pasrah.
"Baik nona. Saya undur diri."
Glen sudah akan pergi tapi langkahnya terhenti karena suara panggilan Angel.
"Paman.. bisakah aku meminta satu hal?."
Glen berbalik dan menatap Angel.
"Apa?."
"Jika nanti aku mati.. aku ingin.."
šµTBCšµ