You Think

You Think
Ares



Angel menatap ruang rawat Wu dengan perasaan campur aduk. Disaat dia sedang sakit, Angel tidak datang.


Angel menghirup nafas dalam-dalam kemudian menggeser pintu ruang rawat Wu. Pemandangan pertama yang Angel lihat adalah Wu yang tersenyum dengan mata diperban.


"Ah.. sepertinya aku tau siapa ini."


Angel tersenyum tipis dan mendekat ke arah Wu.


"Jangan kasihan pada ku."


Wu memeluk Angel yang berada tepat disampingnya. Persis seperti koala yang bergelantungan di pohon.


Angel tak bereaksi apapun dan hanya bisa terdiam sambil mengelus puncak kepala Wu.


"Bagaimana keadaan mu?."


Wu melepaskan pelukannya karena merasa seperti akan ada hal buruk yang terjadi jika dia lebih lama memeluk Angel.


"Aku baik."


Angel duduk di brangkar.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?."


Wu terdiam sesaat sebelum tersenyum tipis atau lebih tepatnya senyum sinis.


"Kau tau bagaimana situasinya. Aku tak berharap mereka datang."


Angel menggenggam jemari tangan Wu yang besar.


"Alvian.. kau kuat."


"Omong kosong."


"Vian.. cobalah untuk mengerti keadaan mereka pada saat itu."


Angel menggenggam kedua tangan Wu dengan erat.


"Apa mereka yang meminta mu untuk mengatakan ini semua?."


"Bukan. Aku datang atas kemauan ku sendiri


"...."


"Vian?."


"Mereka bahkan tidak mencari ku."


Angel hanya bisa terdiam karena lidahnya terasa kelu untuk menyangkal perkataan barusan.


"Mereka pasti punya alasan yang kuat untuk itu."


"Lupakan. Jangan bicarakan mereka. Bicarakan saja kondisimu."


"Aku baik."


Wu melepaskan genggaman tangan Angel dan meraba wajah Angel.


"Walaupun aku tak bisa melihat lagi.. tapi aku masih bisa melihat kesedihan mu."


Angel memejamkan matanya saat tangan besar Vino berada di pipinya.


"Jangan terlalu perduli. Takutnya nanti saat aku pergi akan ada kekosongan dalam hati mu."


Setetes air mata mengalir di mata kiri Angel dan terjatuh di tangan Wu.


"Aku mencintai mu. Apa itu salah?."


*Ya.. itu salah. Karena aku adalah milik Varo. Kembaranmu,.. Vino."


🏵


Angel menatap Wu yang tertidur setelah berbicara panjang lebar. Ketukan di pintu membuat Angel sadar akan keadaan.


"Nona.. sudah waktunya."


"Hmm."


Angel berdiri dan membungkuk ke arah Wu dan membisikkan sesuatu.


"Maafkan aku. Pada akhirnya aku tetap memilih Varo. Maafkan aku.. Wu."


Angel meninggalkan Wu setelah memastikan semuanya aman. Setelah kepergian Angel, Wu tersenyum getir.


"Kurasa ini memang karma ku."


🏵


Angel masuk ke salah satu ruang dokter dan melihat seorang dokter duduk di kursi kebesarannya sambil memegang sebuah dokumen.


"Ha.. Duduklah."


"Kau tau bukan alasan ku memanggil mu?."


"Kalau kau ingin membicarakan tentang penyakit ku, aku akan pergi. Tapi jika kau ingin membicarakan tentang kesehatan Wu, akan ku dengarkan."


Sang dokter akhirnya melepaskan kaca matanya dengan kesal.


"Kau sungguh keras kepala. Pantas saja ayah tak sanggup untuk membujuk mu lagi."


"Kau tau dengan baik tentang ku.. Ares."


Sang dokter menyerahkan sebuah dokumen ke hadapan Angel.


"Baca dan tandatangani. Ini adalah dokumen yang kau minta. Sangat susah untuk mendapatkan dokumen ini."


"Terimakasih."


Ares hanya menatap Angel malas.


"Kita sahabat. Akan ku bantu kau sebisa mungkin. Tapi jangan minta hal ini lagi. Hampir saja aku dibunuh ayah ku."


Angel menatap dokumen di depannya dengan tatapan nanar. Dokumen ini berisi riwayat penyakit keluarganya.


"Ares.. bisakah aku minta seusatu pada mu?."


"Jangan minta yang aneh-aneh. Aku tak sebaik itu."


Angel tersenyum manis. Bahkan sangat manis dan itu membuat Ares tertegun.


"Jika aku tiada.. bantu Sean."


🏵


Ares melihat keluar jendela ruangannya yang berhadapan langsung dengan taman rumah sakit.


Jika aku tiada.. bantu Sean. Juga.. berikan mata ku untuk Wu.


Ares menatap sendu wanita yang baru saja memasuki area taman dengan raut wajah sumringah.


"Kau membuat ku dalam posisi sulit."


Ares akhirnya memutuskan untuk mencari orang itu. Seseorang yang diyakini ayahnya bisa menyelamatkan Angel.


Ares tak akan perduli akan apapun selain kesembuhan Angel. Jika Angel sembuh setidaknya masih ada teman yang bisa dia ajak main permainan hidup mati bukan permainanmati sungguhan.


🏵


Angel tiba di taman dan melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Varo berdiri tegak di bawah pohon besar.


Dengan langkah pelan, Angel menuju Varo. Pelan tapi pasti Angel akhirnya bisa di dekat Varo. Dengan niatan yang agak jahil, Angel bersiap untuk mengagetkan Varo.


"DOR!."


Varo membeku di tempat ketika kedua pundaknya ditepuk dengan sangat keras dari arah belakang. Varo yang awalnya ingin memukul siapapun yang berani mengagetkannya langsung ia urungkan.


Varo berbalik dan melihat wajah ceria Angel. Angel tersenyum secarah mentari siang ini.


"Jangan bertingkah seperti anak kecil."


Angel memegang perutnya setelah puas mentertawakan ekspresi Varo.


"Ah.. I'm sorry. I can't handel it again."


Varo memeluk Angel dengan agak erat. Berharap akan selalu bisa memeluk Angel selamanya.


"Aku merindukan mu."


Angel membeku seketika setelah mendengar peryataan Varo. Tapi sejurus kemudian Angel tersenyum dan membalas pelukan Varo.


"Me too."


"Don't leave me."


Senyuman Angel menghilang seketika.


Apakah Varo sadar akan sesuatu tentang dirinya?


"Kapan aku pernah meninggalkan mu?."


"Dulu.. kau pernah meninggalkan ku dan memilih orang lain."


Angel semakin mengeratkan pelukannya bukan karena mencari kesempatan atau apa. Tetapi tiba-tiba kepala Angel mulai terasa pening lagi.


Tanpa semua orang duga..


Angel pingsan dalam pelukan Varo.


🏵 TBC 🏵